JawaPos.com - Persoalan sulitnya pekerja informal membuktikan pengalaman kerja mendorong lima siswa Mentari Intercultural School Jakarta (MISJ) mengembangkan LaborLink. Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu pekerja blue-collar dan informal membangun rekam jejak kerja yang dapat diverifikasi calon pemberi kerja.
Inovasi ini membawa mereka meraih prestasi dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026 dengan meraih 1 Grand Prize, 1 Best Award, 17 Medali Emas, dan 2 Medali Perak melalui 19 tim inovasi siswa.
Kelima siswa yang tergabung dalam tim LaborLink adalah Noah Anuara Darian Sjadzali, Rahmandityo Wisnuputra Adinugroho Susilo, Kamaratih Rahmania Adiratnya Susilo, Kenzie Ivandika Widjanarka, dan Vinz Alvaro Darmawan. Seluruh anggota tim merupakan siswa Grade 10 MISJ dan berkompetisi di bawah MISJ Research Club, dengan Andreas Junaedi sebagai guru pembimbing.
LaborLink Mengangkat Persoalan Pekerja Informal
Dengan slogan "Work Made Visible", LaborLink dikembangkan sebagai aplikasi mobile yang bertujuan meningkatkan akses terhadap peluang kerja bagi pekerja blue-collar dan informal di Jakarta. Platform ini menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja melalui profil pekerja yang terverifikasi, pencarian berbasis lokasi, serta rekam jejak pekerjaan yang dapat dibuktikan.
Baca Juga: Tak Semua Perusahaan Bisa Ikut MagangHub 2026, Kemnaker Wajibkan Terdaftar di WLKP
Gagasan LaborLink berangkat dari persoalan yang dihadapi banyak pekerja di sektor informal. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), 59,40% pekerja di Indonesia, atau sekitar 86,58 juta dari 145,77 juta pekerja, berada di sektor informal pada Februari 2025. Sebagian besar pekerja tersebut berada di sektor jasa, termasuk pekerja rumah tangga, pengemudi, tukang kebun, juru masak, dan petugas keamanan.
Salah satu tantangan yang diidentifikasi oleh tim LaborLink adalah sulitnya pekerja informal membuktikan pengalaman kerja mereka. Pekerja yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dapat menghadapi proses perekrutan dengan bukti pengalaman yang sama dengan seseorang yang baru mulai bekerja, karena riwayat pekerjaan mereka sering kali tidak terdokumentasi secara formal. Proses perekrutan juga masih banyak dilakukan melalui rekomendasi dari mulut ke mulut atau melalui agen penyalur.
Melalui LaborLink, setiap pekerja dapat memiliki profil publik yang dimiliki dan dikelola sendiri. Sebelum profil dapat ditemukan oleh pemberi kerja, pekerja mengunggah sejumlah dokumen untuk proses verifikasi, termasuk KTP, SKCK, data BPJS, selfie untuk verifikasi, serta dokumen pengalaman kerja. Informasi tersebut kemudian dicocokkan untuk membangun profil pekerja yang lebih terpercaya.
Salah satu fitur utama LaborLink adalah sistem dual confirmation. Setiap pekerjaan yang telah selesai hanya dapat ditambahkan ke Job Count seorang pekerja setelah dikonfirmasi secara terpisah oleh pekerja dan pemberi kerja. Dengan mekanisme tersebut, jumlah pekerjaan tidak dapat ditambahkan hanya berdasarkan klaim dari salah satu pihak.
Platform ini juga menyediakan sistem ulasan dua arah, sehingga pemberi kerja dapat memberikan penilaian kepada pekerja dan pekerja juga dapat mencatat pengalaman mereka dengan pemberi kerja. Pembayaran dilakukan secara langsung antara kedua pihak melalui QRIS dan tidak melewati aplikasi. LaborLink dirancang gratis bagi pekerja, sementara pemberi kerja mendapatkan satu kali pemesanan gratis sebelum dikenakan biaya Rp50.000 per bulan.
"Kami membangun aplikasi ini untuk membantu pekerja informal di Jakarta. Kami ingin pengalaman kerja mereka dapat tercatat dan dibuktikan kepada calon pemberi kerja, sehingga mereka dapat memperoleh pekerjaan yang lebih layak dan lebih baik."
Tim LaborLink
Konsep LaborLink juga berkaitan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 8 mengenai Decent Work and Economic Growth, khususnya terkait akses terhadap pasar tenaga kerja, pekerjaan informal, serta lingkungan kerja yang lebih aman. Dengan adanya rekam kerja yang dapat diverifikasi, pekerja memiliki bukti pengalaman yang dapat digunakan dalam proses pencarian pekerjaan, sementara pemberi kerja memiliki lebih banyak informasi dalam proses perekrutan.
Dari Ide Siswa Menuju Pengembangan Lebih Lanjut
Penghargaan Grand Prize di IID 2026 menjadi bagian dari proses pengembangan LaborLink yang masih akan dilanjutkan oleh tim. Tahap berikutnya mencakup pengujian lebih lanjut dari sisi pemberi kerja, pengembangan kemitraan agar proses verifikasi dokumen dapat dilakukan secara otomatis, perluasan layanan di luar Jakarta, serta persiapan untuk meluncurkan aplikasi melalui Google Play Store.
Pencapaian LaborLink juga menjadi bagian dari partisipasi MISJ dalam IID 2026 yang mengusung tema "Built by Ideas, Shaped by People." Tahun ini, MISJ mengikutsertakan 95. siswa Grade 6 hingga Grade 11, yang terbagi dalam 19 tim inovasi, yaitu AcadeMates, AeroTile, AniMedic, Asthmasense, Dengue Drain, Dialectary, FruitWise, INeed Help!, LaborLink, LitCircle, MoneyBuddy, NanoThera, PCOSCAN, QueLess, ScolioFix, SeniorStep, SpotShare, StickNSeek, dan Traffigo, untuk berkompetisi dalam berbagai kategori.
Dalam IID 2026 ini, tim LitCircle juga berhasil meraih penghargaan bergengsi, Best Award pada kategori Youth. LitCircle menghadirkan sebuah platform yang menghubungkan pengguna dalam kegiatan peminjaman dan berbagi buku, dengan tujuan memperluas akses terhadap bahan bacaan sekaligus mendorong budaya literasi.
Budaya Riset dan Inovasi di MISJ
Pencapaian tersebut merupakan bagian dari pengembangan budaya riset dan inovasi melalui MISJ Research Club, yang memberikan ruang bagi siswa untuk mengidentifikasi permasalahan, melakukan penelitian, mengembangkan prototipe, menguji ide, serta menyempurnakan solusi berdasarkan kebutuhan pengguna.
Keberhasilan LaborLink dan 18 tim MISJ lainnya di IID 2026 juga mencerminkan peran kolaborasi antara siswa, guru pembimbing, mentor, orang tua, dan komunitas sekolah dalam mendukung proses pengembangan inovasi. Melalui pendekatan berbasis riset tersebut, siswa tidak hanya ditantang untuk menghasilkan ide, tetapi juga untuk memahami permasalahan, menguji solusi, dan mempertimbangkan dampaknya bagi pengguna.
Keikutsertaan MISJ di Indonesia Inventors Day 2026 menunjukkan bagaimana ide yang dikembangkan oleh siswa dapat berkembang menjadi inovasi yang ditujukan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.