JawaPos.com – Sebanyak 64 siswa dari kelas 7, 8, hingga kelas 9 SMPN 2 Gading, Probolinggo diajak mengasah kemampuan literasi bahasa secara interaktif. Kemampuan mengolah dan menyusun narasi itu menggunakan foto.
"Kegiatan ini mendorong lahirnya kemampuan siswa-siswa SMP sebagai generasi muda untuk mengenali diri dan mengungkapkan ekspresi diri melalui media foto dan naratif," kata Ketua Riset Grup Kajian Budaya Klasik, Religi, dan Lokalitas FIB Unair, Edi Dwi Riyanto, Minggu (11/10). Kegiatan di SMP 2 Gading itu dilakukan pada Sabtu (10/10) lalu melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas).
Dalam proses pembelajaran, para pemateri membagikan foto-foto yang telah dikumpulkan sebelumnya kepada siswa di tiap-tiap kelas. Siswa kemudian diminta menyusun cerita atau narasi mandiri dengan menghubungkan materi foto visual tersebut dengan pengalaman harian maupun imajinasi mereka.
Guna memastikan penulisan narasi berjalan terstruktur dan berkualitas, tim FIB UNAIR membekali para siswa dengan kaidah penulisan jurnalistik dan sastra yang runtut. Pada kegiatan bertajuk Eco-Cultural Language Learning tersebut, siswa diberikan ketentuan umum pembuatan narasi yang wajib mengandung unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How).
Selain itu, materi juga diarahkan pada alur penceritaan yang sistematis. Mulai dari tahap orientasi yang berisi pengenalan tokoh, komplikasi atau kemunculan masalah, resolusi yakni penyelesaian masalah, hingga reorientasi atau kesimpulan.
Antusiasme tinggi ditunjukkan para pelajar SMPN 2 Gading selama proses pengerjaan narasi. Interaksi saling belajar ini dirancang untuk melatih siswa dalam menerjemahkan tangkapan visual menjadi karya tulis yang bernilai budaya.
Edi mengungkapkan SMPN 2 Gading dipilih sebagai lokasi sasaran karena merepresentasikan kawasan kebudayaan Pandalungan di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur. Wilayah Tapal Kuda itu mayoritas siswanya menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari akibat akulturasi sejarah pekerja perkebunan era kolonial.
Edi berharap hasil dari narasi mandiri buatan para siswa ini dapat mengungkap potret kehidupan dan kearifan lokal masyarakat Gading, Probolinggo secara otentik dari kacamata generasi muda.
Selain menguatkan kesadaran lingkungan dan identitas budaya Pandalungan, kegiatan berkelanjutan ini sekaligus menjadi wujud nyata komitmen akademisi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4. Yakni mewujudkan pendidikan berkualitas (Quality Education) di daerah.