JawaPos.com - Kementerian Agama tanda tangani nota kesepahaman (MoU) dengan Al Azhar Al-Syarif, Mesir.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan, hal itu menandai babak sejarah baru dalam penguatan kerja sama bidang pendidikan.
“Ini (penandatanganan MoU) menandai sejarah baru. Hubungan antara Kementerian Agama G to G dengan Al Azhar Al-Syarif mengalami babak baru,” ujar Suyitno seperti dilansir dari Antara.
Baca Juga: Bisa Pantau Nilai hingga UKT, UMJ Gandeng Orang Tua Mahasiswa Baru
MoU itu ditandatangani Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Wakil Grand Syekh Al Azhar Syekh Ayman Abdel Ghany.
Kesepakatan tersebut menjadi landasan bagi pengembangan berbagai program kolaborasi, terutama di bidang pendidikan tinggi.
Suyitno mengatakan, proses penyusunan MoU telah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan sebelum Nasaruddin Umar menjabat sebagai Menteri Agama.
Baca Juga: Terakhir Hari Ini! Kemenag Buka Beasiswa Penyelesaian S2 & S3, Cek Syaratnya
Proses tersebut, menurut dia, sempat mengalami kebuntuan dalam beberapa kesempatan.
Menurut dia, MoU ini menjadi awal babak baru kerja sama yang tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan.
Tapi juga diharapkan berlanjut pada pelaksanaan program dan inisiatif nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam di kedua negara.
Dia berharap kesepakatan tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat kemitraan di bidang pendidikan Islam, memperluas peluang penyiapan kader-kader ilmiah.
Selain itu, mendorong pertukaran pengalaman dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.
Dia menambahkan, MoU itu akan menjadi payung kerja sama yang mencakup pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Baca Juga: Pertimbangkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Wamendikti Bandingkan dengan Tiongkok-AS
Meski berorientasi pada pendidikan tinggi, kerja sama juga berpeluang dikembangkan ke jenjang pendidikan dasar dan bidang lain yang relevan.
Menurut Suyitno, MoU itu juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Mesir, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi.
Dalam pertemuan antara Presiden Prabowo dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi beberapa waktu lalu, terdapat penekanan agar Indonesia mendapat ruang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan di Al Azhar.
Baca Juga: P2G Minta Pemerintah Siapkan Kajian soal Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas,
Peluang tersebut tidak terbatas pada studi keislaman, tetapi juga mencakup sains, kedokteran, dan disiplin ilmu lainnya.
Sejumlah skema kerja sama akademik tengah dijajaki, termasuk program gelar ganda (double degree) dan pembelajaran daring.
Salah satu opsi yang dibahas adalah skema pendidikan sarjana selama empat tahun, dengan dua tahun perkuliahan di Indonesia dan dua tahun berikutnya di Al Azhar, Mesir.
Baca Juga: 242 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu akan Diangkat Penuh Waktu mulai Januari 2027
Namun, dia menegaskan, skema tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dan akan diperinci melalui perjanjian kerja sama (PKS) sebagai tindak lanjut MoU.
Dalam waktu dekat, tim Al Azhar dijadwalkan berkunjung ke Indonesia untuk membahas lebih terperinci berbagai bentuk implementasi kerja sama.
Termasuk mekanisme perkuliahan daring, gelar ganda, serta penguatan kapasitas mahasiswa.
Kendati demikian, pelaksanaan program harus tetap memperhatikan standar akademik yang ditetapkan Al Azhar.
Baca Juga: Demi Ekspresi yang Otentik, Siswa SMP di Probolinggo Dilatih Membuat Narasi dari Visual
Karena itu, Kementerian Agama akan mendorong penguatan kompetensi calon mahasiswa, termasuk kemampuan bahasa dan kesiapan akademik, sebelum mereka mengikuti program pendidikan di institusi tersebut.
Penguatan kompetensi itu, kata dia, dapat melibatkan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN), Ma'had Aly, pondok pesantren, lembaga bahasa, serta alumni Al Azhar yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Terkait peluang penambahan mahasiswa Indonesia yang belajar di Al Azhar, Suyitno berharap kuota dapat meningkat.
Baca Juga: FEB UIN Jakarta Gelar Konferensi Keuangan Islam ASEAN Ke-14
Hal itu seiring peluang perluasan beasiswa yang sebelumnya dibahas dalam kunjungan Presiden Prabowo ke Mesir maupun sebaliknya.