← Beranda
Efek Domino Sanksi FIFA ke Timnas Malaysia! Facundo Garces Tak Bisa Bela Deportivo Alaves di La Liga
Moch. Rizky Pratama Putra• Minggu, 28 September 2025 | 16.51 WIB
Facundo Garces saat bela Deportivo Alaves di La Liga. (Media Deportivo Alaves)

JawaPos.com — Efek domino sanksi FIFA terhadap Timnas Malaysia kini semakin terasa. Bek naturalisasi mereka, Facundo Garces, resmi tak bisa membela Deportivo Alaves di ajang La Liga Spanyol akibat hukuman yang dijatuhkan federasi sepak bola dunia.

Nama Garces langsung dicoret dari daftar skuad Alaves untuk menghadapi RCD Mallorca pada Sabtu (27/9/2025). Keputusan ini membuat lini pertahanan klub asal Basque tersebut kehilangan salah satu pilar utamanya di awal musim.

Dalam pernyataan resminya, Deportivo Alaves mengaku telah menerima pemberitahuan dari Komite Disiplin FIFA terkait sanksi tersebut.

Klub juga menegaskan tetap menghormati asas praduga tak bersalah terhadap sang pemain hingga proses hukum selesai.

“Deportivo Alavés telah menerima pemberitahuan resmi mengenai sanksi yang dijatuhkan oleh Komite Disiplin FIFA kepada Facundo Garcés, sebagai bagian dari resolusi yang diumumkan secara publik oleh badan internasional tersebut,” dikutip dari laman resmi klub, Minggu (28/9/2025).

Meski begitu, efek larangan bermain tetap berlaku seketika. Garces pun tidak diperbolehkan bergabung dengan skuad untuk pertandingan penting menghadapi Mallorca di Stadion Mendizorrotza.

“Akibat keputusan ini, Facundo Garcés tidak akan dimasukkan dalam skuad untuk pertandingan sore ini melawan RCD Mallorca.”

“Deportivo Alavés ingin menekankan rasa hormatnya terhadap praduga tak bersalah sang pemain dan berharap kasus ini akan diselesaikan secepat mungkin.”

FIFA menjatuhkan sanksi 12 bulan larangan bermain bagi tujuh pemain Timnas Malaysia karena terbukti melanggar aturan naturalisasi. Mereka kedapatan menggunakan dokumen palsu yang menyalahi Pasal 22 Kode Disiplin FIFA.

Selain Garces, nama lain yang ikut terseret adalah Gabriel Palmero, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.

Seluruhnya dilarang mengikuti aktivitas sepak bola profesional, baik di level klub maupun timnas.

Hukuman tersebut juga disertai denda individual sebesar 2.000 franc Swiss atau sekitar Rp 41 juta. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) diwajibkan membayar 350.000 franc Swiss atau setara Rp 7,3 miliar.

FAM masih berpeluang mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun, hingga banding diputuskan, para pemain tetap harus menjalani masa skorsing sesuai keputusan awal FIFA.

Kasus ini menjadi pukulan berat bagi Malaysia yang tengah membangun skuad kompetitif untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kehilangan tujuh pemain naturalisasi membuat kekuatan mereka pincang menjelang laga-laga krusial.

Garces sendiri menjadi salah satu yang paling disorot karena statusnya sebagai bintang di La Liga. Ia selalu tampil penuh selama enam laga terakhir bersama Alaves musim ini dan berperan vital di jantung pertahanan.

Di level internasional, Garces baru saja mencatat debut impresif saat Malaysia menggilas Vietnam 4-0. Penampilannya kala itu mendapat pujian luas dan dianggap sebagai bukti keberhasilan proyek naturalisasi FAM.

Nilai pasarnya pun cukup tinggi, mencapai 4,3 juta euro atau sekitar Rp81,4 miliar. Kehilangan pemain bernilai besar seperti ini tentu menjadi kerugian besar bagi Alaves sekaligus Timnas Malaysia.

Masalah semakin pelik setelah pernyataan kontroversial Garces pada Agustus 2025. Dalam wawancara dengan media Spanyol, El Correo, ia sempat menyebut darah Malaysianya berasal dari kakek buyut.

Pernyataan tersebut langsung memicu perdebatan karena aturan FIFA hanya mengizinkan naturalisasi hingga garis keturunan kakek atau nenek. Hal ini pun menimbulkan kecurigaan publik soal legalitas dokumennya.

Garces kemudian melakukan klarifikasi dengan menyebut adanya kesalahan transkrip.

Ia menegaskan dirinya memang memiliki akar keluarga Malaysia dari kakek-neneknya dan merasa terhormat membela negara Asia Tenggara tersebut.

“Karena kakek buyut saya. Saya memang sudah tahu tentang asal-usul keluarga, tetapi tidak pernah membayangkan kemungkinan ini bisa muncul. Mereka bilang sedang membangun sebuah proyek menarik, sesuatu yang membuat saya bersemangat,” ucap Garces.

Namun, klarifikasi itu tidak cukup menghentikan penyelidikan FIFA. Lembaga tertinggi sepak bola dunia tetap menemukan bukti adanya manipulasi dokumen naturalisasi.

“Itu hanya kesalahan transkrip, saya orang Malaysia dari akar kakek-nenek saya dan saya merasa terhormat bisa bermain untuk negara saya. Sampai jumpa segera,” tegasnya.

Efek domino dari skandal ini jelas merugikan banyak pihak. Malaysia kehilangan tumpuan di level internasional, sementara Alaves harus menambal lubang besar di lini pertahanan mereka.

Para pemain yang terlibat pun menghadapi masa sulit karena harus absen selama satu tahun penuh dari kompetisi resmi. Kondisi ini bisa memengaruhi karier dan nilai pasar mereka secara signifikan.

Bagi FAM, sanksi ini bukan hanya soal kehilangan pemain andalan. Mereka juga dituntut membayar denda besar yang tentu membebani keuangan federasi di tengah upaya membangun sepak bola nasional.

Tak hanya itu, reputasi Malaysia di mata dunia sepak bola ikut tercoreng. Kepercayaan publik terhadap proyek naturalisasi yang selama ini dipuji justru runtuh akibat kasus ini.

Di sisi lain, Alaves juga harus mencari alternatif baru untuk mengisi posisi Garces. Kehilangan bek utama di awal musim bisa memengaruhi konsistensi mereka di kompetisi yang sangat ketat seperti La Liga.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi federasi maupun klub yang terlibat dalam proses naturalisasi pemain. Regulasi FIFA jelas tidak bisa disepelekan, terutama menyangkut keaslian dokumen dan garis keturunan.

Efek domino sanksi FIFA pun kini tengah dirasakan secara nyata. Dari Malaysia hingga Spanyol, dampaknya menjalar luas dan menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi semua pihak terkait.

EDITOR: Banu Adikara