JawaPos.com - Hubungan antara Xabi Alonso dan Vinicius Jr. menjadi salah satu topik terpanas di Real Madrid beberapa pekan terakhir.
Meski begitu, jelang kemenangan Madrid atas Olympiacos, keduanya tampak mulai melunak. Para pemain juga menunjukkan solidaritas lebih kuat, membuat suasana di ruang ganti terlihat lebih sehat.
Namun, para pundit di acara El Larguero punya pandangan menarik. Mereka menyamakan dinamika Xabi–Vinicius dengan salah satu perseteruan paling terkenal dalam sejarah modern sepak bola: konflik Messi–Luis Enrique pada 2015.
Baca Juga: Ruang Ganti Real Madrid Bersatu Dukung Xabi Alonso, Ini Sebabnya
Kemiripan dengan Kasus Messi–Luis Enrique
Membahas laporan SPORT, panel El Larguero membedah bagaimana ketegangan internal hampir menggagalkan musim Real Madrid sebelum kembali menemukan jalurnya di Yunani.
Manu Carreno membandingkan kondisi ini dengan “krisis Anoeta”—momen ketika Luis Enrique mencadangkan Lionel Messi dan memicu drama besar di Barcelona. Ironisnya, konflik tersebut justru menjadi titik balik menuju treble winner bagi Barca.
Carreno menambahkan bahwa Florentino Perez juga berperan sentral dalam meredakan ketegangan di Madrid. Menurutnya, sang presiden menyampaikan pesan yang sangat jelas kepada Alonso:
“Jika Anda memiliki Vinicius di Real Madrid, Anda tidak boleh membiarkannya marah. Presiden Florentino Pérez menjelaskan hal ini kepada Xabi Alonso. Para pemain adalah aset klub, tetapi pelatih bukan.”
Miguel Angel Chazarri memperkuat pandangan itu.
“Di Real Madrid, Anda harus memenangkan hati para pemain karena presiden lebih mementingkan pemain daripada pelatih,” ujar Miguel.
Baca Juga: Tampil Solid Lawan Olympiacos, Xabi Alonso Janjikan Lebih Banyak Menit Bermain untuk Ferland Mendy
Xabi Alonso Memilih Berubah
Anton Meana kemudian menjelaskan bahwa Alonso pada akhirnya memahami realitas tersebut dan memilih beradaptasi. Ia tidak bersikeras mempertahankan gaya kepemimpinan yang keras, melainkan memperlihatkan fleksibilitas.
“Xabi Alonso-lah yang ingin membuat perubahan,” ujar Meana. “Xabi Alonso-lah yang mengubah pendekatan, etos kerja, dan gaya komunikasinya. Xabi-lah yang telah membawa klub ini maju, bukan sebaliknya.”
Komentar itu diperkuat analis Jordi Marti yang melihat tanda-tanda perubahan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
"Saya rasa Xabi Alonso sedang mengubah pendekatannya. Seminggu ini kami bertemu dengan presiden dan para pemain. Ini tentang mengakui kesalahan dan apakah pendekatannya perlu diubah," kata Marti.
Ia pun menambahkan bahwa kemenangan di Athena menjadi elemen penting dalam proses tersebut.
"Dia menunjukkan pentingnya pertandingan di Athena. Pendekatan yang dia gunakan sejak Piala Dunia Antarklub telah berubah total," tambahnya.
Drama internal ini tentu belum sepenuhnya usai, namun tanda-tanda perbaikan sudah terlihat. Kini tinggal melihat apakah perubahan pendekatan Alonso akan benar-benar menyatukan Madrid atau justru membuka babak baru dalam dinamika skuad Los Blancos.