← Beranda
Mauricio Pochettino Soroti Liga Premier soal 114 Pelanggaran Manchester City
M Shofyan Dwi Kurniawan• Rabu, 30 September 2026 | 15.05 WIB
Mauricio Pochettino. (ig @pochettino)

 

 

JawaPos.com - Mauricio Pochettino mempertanyakan pengawasan Liga Premier setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran aturan keuangan.

Mantan pelatih Tottenham Hotspur itu bahkan menilai tidak ada hukuman yang benar-benar mampu memperbaiki dampak yang mungkin sudah terjadi jika seluruh pelanggaran tersebut terbukti dan memengaruhi persaingan selama bertahun-tahun.

Pochettino, yang kini menangani tim nasional Amerika Serikat, pernah berada di Premier League ketika sejumlah dugaan pelanggaran tersebut terjadi. Tottenham menjadi salah satu klub yang bersaing dengan City pada periode tersebut.

City sendiri berencana mengajukan banding atas putusan tersebut dan tetap menyangkal melakukan kesalahan.

Pochettino pertanyakan pengawasan Premier League

Melansir Mirror, ketika ditanya mengenai vonis terhadap City, Pochettino mengakui bahwa menentukan hukuman yang tepat bukan perkara sederhana, terutama karena klub lain sebelumnya menerima sanksi atas pelanggaran aturan finansial.

"Sangat sulit ketika dari 115 dakwaan Anda dinyatakan bersalah atas 114 dakwaan, untuk menentukan hukuman apa yang seharusnya diberikan agar adil," kata Pochettino dalam konferensi pers.

"Karena ada klub lain seperti Nottingham Forest atau Everton yang melanggar aturan dan menerima sanksi yang berbeda, baik pengurangan poin atau denda. Ini adalah situasi yang sangat sulit yang menimbulkan keheranan mengingat besarnya putusan tersebut."

Namun, pertanyaan terbesar Pochettino justru tertuju kepada mekanisme pengawasan Liga Premier. Ia mempertanyakan bagaimana dugaan pelanggaran dalam jumlah besar bisa berlangsung dalam periode yang panjang sebelum akhirnya masuk ke proses hukum.

"Dan juga adil untuk bertanya di mana kontrol yang ada sehingga aturan bisa dilanggar seperti itu. Itulah yang paling menarik perhatian saya."

Menurut Pochettino, persoalan tersebut bukan hanya mengenai hukuman terhadap City, tetapi juga mengenai dampaknya terhadap hasil dan pencapaian klub-klub lain yang bersaing selama periode tersebut.

"Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan karena apa yang telah dicapai dan dirayakan mungkin bukanlah hal yang nyata, dan apa yang tidak begitu baik sebenarnya bisa menjadi lebih baik."

"Kita telah melewati masa di mana keadilan olahraga tidak ada. Jika tuduhan terbukti, sangat sulit untuk memperbaiki apa yang telah terjadi. Saya berharap setidaknya ini dapat memastikan kesetaraan ada di masa depan."

Pengalaman Pochettino bersama Tottenham

Pochettino juga membawa pengalamannya ketika masih menangani Tottenham. Ia mengingat bagaimana klub tersebut harus beroperasi dengan keterbatasan finansial, termasuk saat pembangunan stadion baru.

"Itu merupakan kerugian besar karena kami bertarung di antara tim-tim terbaik dan mencapai final Liga Champions . Mengapa kontrol terhadap kami begitu ketat dan tidak begitu ketat terhadap tim lain?"

"Itulah mengapa saya mengatakan semuanya sangat aneh, dan masalahnya adalah semuanya menjadi kabur. Jika benar mereka melanggar 114 aturan, kita telah melewati periode penipuan. Tidak ada jenis hukuman yang dapat memperbaiki apa yang telah terjadi, dan kontrol Liga Premier sangat rusak."

Dalam wawancara dengan The Guardian, Pochettino kemudian kembali mempertanyakan standar pengawasan yang diterapkan kepada klub-klub Premier League.

“Di mana kendalinya? Itulah yang menarik perhatian saya. Di mana kendalinya? Jika saya ingat berada di Southampton , lalu Tottenham – saya ingat membangun [Stadion Tottenham Hotspur] dan tidak memiliki kemungkinan ekonomi untuk transfer selama 18 bulan.”

"Saya rasa kami adalah satu-satunya tim dalam sejarah Liga Premier yang tidak melakukan transfer selama 18 bulan. Mereka sangat ketat terhadap kami tetapi juga sangat lunak terhadap tim lain. Karena itulah saya katakan: semuanya sangat aneh."

Ia juga mempertanyakan bagaimana hukuman bisa diterapkan ketika proses pemeriksaan berlangsung sangat lama.

"Mungkin mereka mengira hukuman [tidak akan datang selama bertahun-tahun] – lalu apa yang akan mereka lakukan? Hukuman ekonomi? Pengurangan poin?"

"Ini sangat sulit dan merupakan kesedihan yang mendalam. Pada akhirnya, kita sampai pada situasi di mana apa yang dirayakan ternyata tidak begitu nyata, apa yang tampak baik mungkin sebenarnya tidak begitu baik, apa yang tidak terlihat baik mungkin sebenarnya baik tetapi tidak bisa menjadi baik karena apa yang telah terjadi."

Pochettino punya pengalaman serupa

Pandangan Pochettino mengenai kasus City juga tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Sebelumnya, ia pernah menyuarakan keyakinan bahwa Tottenham seharusnya mendapatkan gelar Premier League jika pelanggaran finansial Chelsea yang terungkap setelah pergantian kepemilikan berujung pada sanksi yang memengaruhi hasil kompetisi.

Pochettino sendiri sempat dikaitkan dengan kemungkinan kembali ke London utara. Namun, ia akhirnya menandatangani kontrak baru di luar Inggris setelah Roberto De Zerbi datang dan membantu Tottenham menghindari degradasi dari Premier League musim lalu.

Kini, Pochettino harus menunggu perkembangan kasus City dari jauh. Sementara City terus menempuh proses banding, pertanyaan mengenai hukuman, dampak terhadap klub-klub lain, serta bagaimana Premier League mengawasi aturan finansial pada masa lalu masih menjadi bagian dari perdebatan.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti