JawaPos.com – FIFA menuduh UEFA melancarkan “kampanye disinformasi” dan berupaya memengaruhi persaingan pemilihan presiden FIFA yang akan berlangsung pada Maret 2027.
Dilansir dari laman Flashscore pada Kamis (1/10), Tuduhan tersebut disampaikan FIFA dalam tanggapan hukum terhadap permohonan UEFA kepada pengadilan federal Amerika Serikat untuk memperoleh kesaksian dan dokumen terkait rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) yang kini telah dibatalkan.
FIFA membantah tuduhan bahwa Presiden Gianni Infantino berupaya memperoleh keuntungan pribadi melalui rencana pengalihan hak komersial Piala Dunia ke entitas tersebut.
Baca Juga: Joumpa Kini Bisa Dipesan di wondr by BNI, Perjalanan Nasabah Jadi Lebih Praktis
UEFA sebelumnya menuding proposal FFE dikembangkan secara tertutup dengan melibatkan sejumlah penasihat dan investor serta tidak melalui proses tata kelola FIFA secara normal.
Dalam dokumen hukumnya, UEFA menyebut investor akan membayar USD 4,2 miliar atau sekitar Rp65,9 triliun untuk saham FFE dengan valuasi ekuitas sekitar USD 20 miliar atau Rp313,8 triliun.
FIFA membantah penilaian tersebut dengan menyatakan UEFA mencampuradukkan nilai ekuitas dan nilai perusahaan, sementara nilai perusahaan FFE disebut lebih dari USD 30 miliar atau sekitar Rp470,7 triliun.
Proyek FFE dihentikan pada Juli setelah mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi, termasuk UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia, terkait persoalan konsultasi dan tata kelola.
FIFA kemudian meminta pengadilan Amerika Serikat menolak permohonan UEFA dan menilai pengajuan tersebut berpotensi memengaruhi pemilihan presiden FIFA.
UEFA belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai tuduhan FIFA tersebut.