JawaPos.com-Nama Andik Vermansah masih sangat harum di benak para Bonek, pendukung setia Persebaya Surabaya. Pemain asal Jember tersebut boleh dibilang sudah menjadi legenda klub Persebaya. Meski dia terakhir membela Persebaya pada tahun 2013 silam, atau sebelas tahun lampau, setiap musim berganti dalam lima tahun terakhir, nama Andik selalu dihubungkan dengan kembalinya ke Persebaya. Berikut ini adalah rangkuman perjalanan karir sepak bola Andik Vermansah.
Baca Juga: 100 Bus Listrik Siap Beroperasi, DAMRI Dukung Layanan Aglomerasi Perkotaan Bus Trans Jakarta
Berawal dari SSB Suryanaga
Di masa kecilnya, Andik menghabiskan waktu dengan berjualan es. Hal tersebut ia lakukan guna menambah biaya hidupnya dan membeli sepatu bola, meski pada awalnya dilarang orang tuanya untuk berkarier di sepak bola. Dengan sepasang sepatu bola, Andik yang sebelum tenar tinggal bersama kedua orang tuanya di kawasan Kampung di belakang Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, tepatnya di daerah Bogen, menggunakannya untuk mengikuti turnamen sepakbola antardesa.
Bermainnya Andik di turnamen antar desa, bakatnya terpantau pelatih SSB Suryanaga Surabaya kala itu, Rudi, dan ia menawarkan untuk bermain di Suryanaga yang juga merupakan tim internal Persebaya.
Dari SSB Suryanaga, Andik kemudian memulai kariernya dengan bergabung bersama tim remaja Persebaya U-18. Pada tahun 2007, dia berhasil menjadi juara Liga Pemuda Regional Jawa Timur dan meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur di Kota Surabaya.
Awal Karir bersama Persebaya Surabaya
Ketika usianya baru menginjak 17 tahun, Andik telah bergabung dengan tim senior Persebaya, dan menjadi salah satu pemain termuda dalam skuad yang saat itu dilatih Freddy Mulli tersebut.
Debutnya untuk Persebaya terjadi pada 29 Agustus 2008, saat melawan Persekabpas Pasuruan. Di Persebaya, karier Andik mulai mengalami perkembangan yang pesat. Pada tahun itu pula, Andik berhasil membawa tim sepak bola Jatim menjuarai PON di Kaltim.
Uniknya, kala itu Andik mengenakan nomor punggung 3, yang identik dengan pemain belakang. Padahal ia merupakan seorang winger.
Salah satu hal yang membuat Bonek sangat respek kepada Andik adalah ketika PSSI terbelah, Andik tak goyah. Dia ikut ke Persebaya "asli" alias Persebaya 1927 yang kala itu berkompetisi di Indonesia Premier League (IPL).
Andik dikenal sebagai winger yang memiliki kecepatan, skill mumpuni dan akurasi umpan yang baik. Sehingga, ia kerap kali menjadi sasaran lawan untuk dilanggar. Hal tersebut bukan hanya ketika di Persebaya, bahkan sampai ke level Timnas, Andik menjadi pemain yang sering dilanggar. Contohnya adalah saat bermain di Final Piala AFF 2016 kontra Thailand di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. ia terpaksa ditarik keluar karena berduel dengan pemain lawan, sehingga harus absen di leg kedua.
Di akhir periode kariernya bersama Green Force, Persebaya mengalami dualisme. Sehingga kepengurusan menjadi tidak sehat dan berdampak pada masalah gaji.
Diketahui, gaji Andik di akhir periodenya bersama Persebaya baru terbayarkan di tahun 2017, saat tim baru saja bangkit dari mati suri. Namun, saat itu Andika tidak masuk dalam tim yang ketika itu berkompetisi di Liga 2.
Jadi Andalan Timnas
Sejak bermain untuk Persebaya, Andik sering dipanggil untuk bergabung dengan Timnas Indonesia, termasuk saat berlaga di SEA Games 2011. Popularitasnya mulai meroket di Asia Tenggara dan dia bahkan dijuluki sebagai Messi-nya Indonesia.
Nama Andik semakin terkenal ketika dia bermain dalam pertandingan antara Indonesia All Stars melawan LA Galaxy, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Dia menjadi sorotan setelah mendapatkan tackling keras dari bintang sepak bola David Beckham.
Kejadian tersebut semakin membesarkan namanya, dan bahkan pelatih LA Galaxy, Bruce Arena, memberinya pujian. Kejutan bagi Andik, Beckham bahkan memberikannya jersey sebagai tanda maaf.
Penampilan gemilang Andik juga menarik perhatian pelatih klub dari berbagai negara seperti Italia, Portugal, dan Jepang. Dia bahkan trial di DC United dan menerima tawaran dari Ventforet Kofu. Namun, Andik akhirnya memilih untuk bergabung dengan Selangor FA dari Malaysia.
Setelah satu dekade tanpa gelar, Andik berhasil membawa Selangor meraih Piala Malaysia 2015 dengan mengalahkan Klub Kedah 2-0 di Shah Alam Stadium, Malaysia.
Prestasi gemilang Andik menarik perhatian Alfred Riedl, yang kemudian memasukkannya ke Timnas Indonesia. Dia menjadi bagian dari skuat untuk turnamen AFF Cup 2016 dan kembali menjadi salah satu andalan Tim Garuda Indonesia.
Bersinar di Negeri Jiran
Andik datang ke Malaysia sebagai salah satu pemain muda paling berbakat di Asia. Pada saat itu, usianya masih 22 tahun. Kesuksesan Andik bersama Selangor dimulai ketika ia berhasil mengantarkan klub tersebut menjadi juara Piala Malaysia pada 2015.
Di musim 2016, ia bahkan didapuk menjadi kapten, meski usianya baru 25 tahun dan bukan berstatus pemain lokal. Di musim tersebut, ia kembali berhasil membawa Selangor ke final Piala Malaysia, menghadapi klub yang sama, Kedah. Sayangnya ia gagal back to back dan kalah di final.
Andik akhirnya hijrah ke Kedah di tahun 2018, setelah menjalani lima tahun yang gemilang di Selangor. Tak banyak yang ia berikan di Kedah, sehingga hanya bertahan selama semusim sebelum pulang ke Indonesia.
Kembali bermain di Tanah Air
Andik menyelesaikan petualangannya di kancah sepak bola Negeri Jiran pada 2018. Setelah itu, banyak kabar berembus bahwa si anak hilang akan menemukan jalan pulang kembali ke Persebaya, klub yang membesarkan namanya.
Gosip pun hanya sebatas kabar burung. Bukannya merapat ke Kota Pahlawan, pada musim itu Andik memilih menyeberang ke Pulau Garam untuk memperkuat Madura United. Semusim berselang, dia cabut dari tim tersebut. Harapan Bonek pun kembali mekar untuk melihat sang idola kembali bermain untuk Green Force di musim berikutnya. Namun, kali ini Andik malah terbang ke Jakarta untuk memperkuat Bhayangkara FC.
Pemain bertinggi badan 163 cm itu bertahan hingga 2023 di tim milik Kepolisian tersebut. Setelah itu, pemain lincah itu terbang jauh ke ujung barat Indonesia untuk merumput bersama Persiraja Banda Aceh yang berjuang di Liga 2.
Untuk pertama kali dalam kariernya, Andik Vermansah bermain di kasta kedua suatu kompetisi. Hal tersebut ia lakukan bersama Persiraja Banda Aceh di Liga 2 2023/2024. Meski begitu, ia hanya selangkah lagi membawa Laskar Rencong kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Di babak semifinal, Persiraja bertemu dengan PSBS Biak. Andik yang dipercaya menjadi kapten memiliki andil besar terhadap pencapaian Laskar Rencong sejauh ini.
Patut ditunggu, apakah musim depan pemain yang kini berumur 32 tahun itu akhirnya akan mengenakan lambang suro dan boyo di dadanya atau akan bermain untuk tim lain. Itulah perjalanan Andik Vermansah, legenda Persebaya yang sampai kini belum menemukan jalan pulang. (*)
Karier
SSB Suryanaga, Jember
Persebaya Surabaya, 2008-2010
Persebaya 1927, 2010-2013
Selangor 2013-2017
Kedah 2018
Madura United 2019
Bhayangkara FC 2020-2023
Persiraja 2023-sekarang
TIMNAS
Indonesia U-23 2011-2012
Indonesia Senior 2012-2018