← Beranda
Bocoran Pelatih Top Potensial Gantikan Shin Tae-yong Jika Resmi Hengkang dari Timnas Indonesia
Moch. Rizky Pratama Putra• Minggu, 23 Juni 2024 | 19.51 WIB
TOP: Giovanni van Bronckhorst bisa jadi opsi menarik jika Shin Tae-yong hengkang dari Timnas Indonesia karena bisa mengasuh pemain keturunan Indonesia. (Instagram Giovanni van Bronckhorst)

JawaPos.com — Durasi kerja Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas Indonesia akan berakhir pada Juni 2024. Meski begitu, pembahasan kontrak baru pelatih asal Korea Selatan tersebut sudah dilakukan oleh PSSI.

Shin Tae-yong sebelumnya diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia pada 28 Desember 2019. Pelatih berusia 53 tahun ini menggantikan peran Simon McMenemy.

PSSI yang saat itu dipimpin oleh Mochamad Iriawan memberi kontrak Shin Tae-yong berdurasi empat tahun. Artinya, kontrak Shin Tae-yong sudah berakhir tahun lalu, tetapi dia masih melanjutkan tugasnya hingga berakhirnya Piala Asia U-23 2024. Sejauh ini, Shin Tae-yong belum pernah membawa Timnas Indonesia senior, Timnas U-23, atau Timnas U-20 meraih titel juara. Pencapaian terbaiknya adalah membawa skuad Garuda lolos hingga 16 besar Piala Asia 2023.

Dengan kontrak yang segera berakhir, Shin Tae-yong dianggap masih layak mendapatkan perpanjangan durasi kerja karena membawa dampak positif bagi penampilan Timnas Indonesia. Namun, tidak sedikit yang beranggapan jika Shin Tae-yong tak pantas dipertahankan.

Jika akhirnya kontrak Shin Tae-yong tak diperpanjang, PSSI bisa mempertimbangkan sejumlah pelatih top untuk menangani Timnas Indonesia. Berikut ini lima di antaranya.

Luis Milla

Nama pelatih pertama yang bakal mendapat sambutan hangat apabila menjadi pengganti Shin Tae-yong di Timnas Indonesia adalah Luis Milla Aspas. Pelatih asal Spanyol ini memang punya kenangan yang cukup indah bersama pendukung Timnas Indonesia, meskipun belum ada prestasi berarti yang diraih. Satu-satunya prestasi yang bisa dipersembahkan Luis Milla adalah membawa skuad Garuda Muda merebut medali perak SEA Games 2017.

Saat menukangi Timnas Indonesia pada medio 2017-2018, eks pelatih Timnas Spanyol U-21 itu mampu membuat skuad Garuda menyajikan permainan yang menarik. Momen itu tepatnya terjadi ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Dengan mengandalkan pemain-pemain muda, Milla sukses memberikan sajian yang enak ditonton. Namun demikian, saat masuk bursa calon pelatih Timnas Indonesia pada 2019, Milla tak berani menggaransi gelar juara bagi Timnas Indonesia. Adapun hal itu yang kemudian disanggupi Shin Tae-yong.

Akira Nishino

Kandidat selanjutnya adalah Akira Nishino. Sosok Akira sempat disebut-sebut bakal menjadi Direktur Teknik PSSI menggantikan posisi Indra Sjafri. Teranyar, pelatih berusia 68 tahun itu masuk bursa calon pengganti Shin Tae-yong di Timnas Indonesia.

Akira Nishino memiliki rekam jejak cukup mentereng di dunia racik strategi. Dia sempat dipercaya Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) untuk membesut Timnas Jepang di Piala Dunia 2018. Kiprah Samurai Biru di Piala Dunia 2018 Rusia juga tidak buruk-buruk amat. Akira Nishino sukses membawa timnya lolos ke babak 16 besar. Sayang, Jepang gagal melaju ke perempat final setelah kandas di tangan Belgia.

Nishino punya nama besar di sepak bola Jepang. Tidak hanya di tim nasional, dia mengukir beberapa prestasi mentereng di level klub bersama Gamba Osaka pada medio 2002 hingga 2011. Peraih gelar Japan Football Hall of Fame pada 2019 itu bisa menjadi opsi terbaik jika Shin Tae-yong bercerai dengan Timnas Indonesia. Kebetulan, Akira Nishino kini sedang menganggur setelah kali terakhir melatih Timnas Thailand pada 2021.

Giovanni van Bronckhorst

Van Bronckhorst merupakan mantan bek Timnas Belanda. Setelah memutuskan pensiun pada akhir musim 2009/2010, Giovanni van Bronckhorst menjalani karier di dunia kepelatihan. Tim pertama yang diasuh eks pemain Barcelona tersebut adalah Feyenoord pada 18 Mei 2015 hingga 19 Mei 2019. Setelah itu, dia menjabat sebagai pelatih Guangzhou R&F (Januari 2020-Desember 2020), dan Rangers (18 November 2021-21 November 2022).

Giovanni van Bronckhorst pun bisa menjadi opsi ideal untuk mengasuh Timnas Indonesia. Selain memiliki darah Indonesia, tepatnya Maluku, dia juga bisa berkomunikasi dengan pemain naturalisasi Garuda yang kebanyakan berasal dari Belanda. Kans PSSI merayu Van Bronckhorst agar mau melatih Timnas Indonesia cukup terbuka. Sebab, sang pelatih saat ini berstatus tanpa klub setelah dipecat Rangers.

Park Hang-seo

Pelatih asal Korea Selatan ini dikenal karena kesuksesannya bersama Timnas Vietnam. Meskipun belum pernah melatih di Indonesia, pemahamannya tentang sepak bola Asia Tenggara membuatnya menjadi pilihan yang layak. Park Hang-seo telah membawa Timnas Vietnam meraih berbagai prestasi, termasuk Piala AFF 2018 dan medali emas SEA Games 2019. Kemampuannya dalam memotivasi dan mengembangkan pemain muda dapat memberikan dampak positif bagi Timnas Indonesia.

Alexandre Polking

Pelatih Brasil ini menjadi kunci sukses Thailand meraih Piala AFF 2020 dan 2022. Meski dicopot dari jabatan pelatih kepala setelah hasil kurang memuaskan di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Polking tetap menjadi opsi yang menarik. Dengan gaya permainan menyerang yang diterapkannya, Polking dapat memberikan warna baru dalam strategi Timnas Indonesia. Selain itu, pengalamannya di sepak bola Asia Tenggara bisa menjadi nilai tambah dalam memahami karakteristik lawan di region ini.

Joachim Loew

Pelatih berusia 63 tahun ini memiliki reputasi gemilang dengan membawa Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014. Dengan pengalaman yang luas, Loew dapat menjadi pilihan yang menarik bagi Timnas Indonesia. Gaya kepemimpinannya yang tenang dan strategis dapat membantu mengembangkan potensi pemain Indonesia. Meski belum pernah melatih di Asia, pengalaman internasionalnya dapat memberikan perspektif baru dalam pendekatan taktik dan manajemen tim.

Kehadiran pelatih-pelatih tersebut tentu akan memberikan harapan baru bagi sepak bola Indonesia. Namun, PSSI perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan. Faktor adaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia, kemampuan berkomunikasi dengan pemain, serta visi dan misi yang sejalan dengan PSSI harus menjadi pertimbangan utama.

Jika PSSI memilih untuk tidak memperpanjang kontrak Shin Tae-yong, langkah selanjutnya adalah mencari pengganti yang mampu melanjutkan program pengembangan yang telah dirintis oleh pelatih asal Korea Selatan tersebut. Dalam memilih pelatih baru, PSSI harus memastikan bahwa pelatih tersebut memiliki visi yang jelas dan strategi yang dapat membawa Timnas Indonesia meraih prestasi lebih tinggi.

Pada akhirnya, siapa pun yang akan menjadi pelatih Timnas Indonesia selanjutnya, dukungan penuh dari seluruh elemen sepak bola nasional sangat diperlukan. Kesuksesan Timnas Indonesia tidak hanya bergantung pada satu individu saja, tetapi merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi dari semua pihak. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, kita dapat membawa sepak bola Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

Mari kita tunggu bersama perkembangan selanjutnya dan tetap mendukung Timnas Indonesia di setiap langkahnya. Siapa pun pelatih yang terpilih, kita berharap dia dapat membawa Timnas Indonesia meraih prestasi yang membanggakan dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

EDITOR: Edi Yulianto