← Beranda
5 Pemain Koleksi Kartu Kuning Terbanyak di Super League! Salah Satunya Tukang Jagal Persebaya Surabaya
Moch. Rizky Pratama Putra• Minggu, 14 September 2025 | 17.50 WIB
Toni Firmansyah wajib waspada hadapi Semen Padang jika tak ingin absen lebih cepat bersama Persebaya Surabaya. (Media Persebaya)
 

JawaPos.com — Selain mempersiapkan taktik menghadapi Semen Padang, Eduardo Perez juga punya pekerjaan rumah penting lainnya. Pelatih Persebaya Surabaya itu wajib menyiapkan strategi khusus agar gelandang mudanya, Toni Firmansyah, tidak kembali menerima kartu kuning di laga Jumat (19/9/2025) mendatang.

Pasalnya, Toni sudah mengoleksi tiga kartu kuning hanya dalam empat penampilan awal bersama Green Force.

Jika kembali diganjar kartu kuning kontra Semen Padang, ia terancam absen di laga berikutnya dan tentu jadi kerugian besar bagi lini tengah Persebaya Surabaya.

Situasi ini membuat Persebaya Surabaya harus ekstra hati-hati dalam memanfaatkan tenaga Toni.

Julukan “tukang jagal” pun mulai melekat karena gaya bermainnya yang keras kerap memancing wasit untuk mengangkat kartu kuning.

Toni memang tampil penuh determinasi di lapangan, namun terkadang pelanggaran keras yang diambil bisa berdampak merugikan tim.

Dengan jadwal padat Super League, kehilangan satu gelandang pekerja keras bisa mengganggu keseimbangan tim asuhan Eduardo Perez.

Kekhawatiran itu muncul setelah laga melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Jumat (12/9/2025).

Persebaya Surabaya gagal membawa pulang poin setelah takluk 0-1 lewat gol tunggal Uilliam Barros di menit ke-53.

Meski kalah, Green Force menunjukkan perbaikan signifikan terutama di babak kedua. Sayangnya, tekanan demi tekanan tidak berhasil membuahkan gol karena penyelesaian akhir yang masih tumpul.

Eduardo Perez mengakui rasa kecewa atas hasil tersebut, tetapi tetap mengapresiasi perjuangan tim. Ia menegaskan permainan memang terbagi dua, babak pertama milik Persib dan babak kedua dikuasai Persebaya Surabaya.

“Untuk saya, permainan ini memiliki dua bagian yang berbeda. Babak pertama untuk Persib, dan babak kedua untuk Persebaya,” kata Eduardo Perez sesuai pertandingan, Jumat (12/9/2025).

“Tentu saja kami sedih dengan hasilnya. Tapi di babak kedua, saya sangat senang dengan perjuangan dan semangat pemain,” sambungnya.

Pelatih asal Spanyol itu menegaskan masih ada waktu untuk berbenah sebelum duel melawan Semen Padang. Ia bertekad memperbaiki kekurangan yang terlihat di laga kontra Persib agar bisa tampil lebih tajam pekan depan.

“Kita punya satu minggu untuk menyiapkan pertandingan selanjutnya. Kita akan evaluasi apa yang terjadi hari ini, dan harus bisa bermain lebih bagus lagi,” tegasnya.

Penjaga gawang Ernando Ari juga menyoroti banyak momentum yang terbuang sia-sia.

Menurutnya, Persebaya Surabaya terlalu sering membuang waktu sehingga serangan tidak efektif dan membuat peluang emas menghilang begitu saja.

“Pertama ada yang diperbaiki setelah pertandingan ini. Banyak waktu terbuang, kita terlalu lama membuang-buang waktu. Itu harus diperbaiki,” tandasnya.

Fokus perbaikan permainan kini dibarengi kewaspadaan terhadap risiko akumulasi kartu kuning.

Toni Firmansyah menjadi sorotan utama karena perannya vital sekaligus berpotensi meninggalkan lubang besar jika absen akibat hukuman disiplin.

Menariknya, Toni bukan satu-satunya pemain yang menjadi langganan kartu kuning di awal musim Super League 2025/2026.

Ada empat pemain lain yang juga sudah mengoleksi tiga kartu kuning dan kini masuk daftar penggawa paling “nakal”.

Selain Toni, ada Hugo Gomes dari Dewa United yang juga tercatat menerima tiga kartu kuning dalam lima laga. Gelandang asal Brasil itu dikenal agresif dan kerap terlibat duel keras di lini tengah.

Nama berikutnya adalah Novan Setya dari Madura United. Bek senior itu sudah tiga kali diganjar kartu kuning dalam empat kali tampil, termasuk tiga kali masuk sebagai pemain pengganti.

Carlos França dari Persijap Jepara juga masuk dalam daftar pemain dengan kartu kuning terbanyak.

Dalam lima pertandingan awal, ia sudah mengantongi tiga kartu kuning yang membuat wasit kerap memberikan perhatian ekstra pada setiap tekel kerasnya.

Tak ketinggalan ada Moisés Gaúcho dari Bhayangkara FC yang juga koleksi tiga kartu kuning. Dalam empat laga awal, ia menunjukkan gaya bermain tanpa kompromi yang sering membuatnya berurusan dengan wasit.

Dengan lima nama ini, Super League 2025/2026 tercatat sudah menghadirkan banyak duel keras sejak awal musim.

Para pemain tersebut memang jadi tumpuan penting tim masing-masing, namun gaya bermain agresif membuat risiko akumulasi kartu selalu menghantui.

Bagi Persebaya Surabaya, masalah ini lebih serius karena Toni Firmansyah adalah pemain muda yang baru mendapatkan kepercayaan penuh musim ini. Absennya Toni di tengah padatnya jadwal bisa membuat opsi lini tengah semakin terbatas.

Eduardo Perez dituntut menemukan cara agar Toni bisa tetap bermain efektif tanpa harus kehilangan konsentrasi akibat emosinya.

Instruksi detail mengenai kapan harus menekan dan kapan harus mengendurkan agresivitas akan sangat menentukan.

Jika berhasil, Persebaya Surabaya tidak hanya bisa memaksimalkan peran Toni, tetapi juga menjaga stabilitas permainan di setiap laga. Namun jika gagal, Green Force harus bersiap kehilangan sang gelandang karena akumulasi kartu.

Kini publik menunggu bagaimana strategi Eduardo Perez menghadapi dilema ini.

Apakah Toni Firmansyah bisa mengurangi jumlah kartu kuning dan tetap tampil garang, atau justru kembali menjadi tukang jagal yang harus menepi karena hukuman disiplin.

EDITOR: Edi Yulianto