← Beranda
Doa Bonek ke Rachmat Irianto! Militansinya Mirip Mendiang Legenda Persebaya Surabaya Bejo Sugiantoro
Moch. Rizky Pratama Putra• Senin, 8 Desember 2025 | 04.49 WIB
Rachmat Irianto yang berjibaku mengawal lini belakang Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)
 

JawaPos.com — Doa Bonek ke Rachmat Irianto mengalir deras setelah sang gelandang bertahan Persebaya Surabaya tampil militan saat menahan imbang PSM Makassar 1-1 di Stadion Gelora B.J. Habibie, Sabtu (6/12/2025).

Militansi itu membuat namanya kembali disandingkan dengan mendiang legenda Persebaya Surabaya dan ayah kandungnya, Bejo Sugiantoro, yang dikenal berani bertarung demi lambang di dada.

Pertandingan berlangsung panas sejak menit awal karena kedua tim sama-sama tampil agresif dan menekan di lini depan.

Persebaya Surabaya pulang dengan satu poin meski harus susah payah menjaga intensitas permainan hingga peluit panjang berbunyi.

Rachmat Irianto atau Rian tampil sebagai bek tengah bersama Leo Lelis dan menunjukkan determinasi tinggi saat mengawal lini belakang.

Banyak momen duel penting yang ia menangkan, membuat serangan PSM tak leluasa menembus kotak penalti.

Aksi tanpa kompromi itu membuatnya bertabrakan keras dengan pemain lawan hingga mengalami cedera kepala dan harus diperban.

Rian kemudian ditarik keluar oleh pelatih interim Uston Nawawi di babak kedua dan digantikan Kadek Raditya untuk menjaga stabilitas pertahanan.

Setelah laga, kolom komentar media sosial Persebaya Surabaya dipenuhi ucapan penyemangat dari Bonek yang khawatir kondisi sang pemain.

Mereka berharap cedera itu tidak serius dan Rian bisa segera merumput lagi bersama Green Force.

Salah satu ucapan paling menonjol datang dari fanbase @tribunpersebaya yang menulis “Get well soon, Rian. Semoga tidak ada cedera serius dan lekas pulih kembali @rachmatirianto,” sebagai bentuk dukungan moral untuk sang gelandang bertahan.

Doa lain juga bermunculan, mulai dari harapan agar Rian tetap kuat hingga ajakan untuk tidak menghakimi ketika performanya menurun.

“Rian emang sebenere awit ndisik maine apik atine ijo cuma terkadang nek lg underperformance kui haruse ojo dihujat nek iso support ben semangat,” tulis salah satu Bonek.

Ada pula komentar yang menyoroti totalitasnya di lapangan hingga membuat banyak suporter merasa bangga.

“Main totalitas koyok ngono, tapi liane malah opo enek’e,” ucap Bonek lain yang mengagumi kegigihan Rian dalam duel udara maupun tekel krusial.

Bonek lainnya juga mendoakan pemulihan cepat agar Rian dapat tampil pada laga berikutnya melawan Borneo FC. “Semoga lawan Borneo main ya Rian,” tulis pendukung Persebaya tersebut dengan penuh optimisme.

Ada pula pujian yang menyinggung mental petarung Rian yang dianggap sebagai ciri khas pemain asli Persebaya Surabaya.

“Mental petarung gak wedi cidera, ciri khas asli pemain Persebaya,” tulis seorang Bonek yang melihat keberanian Rian sebagai sesuatu yang langka.

Kegigihan itu membuat publik Surabaya kembali mengingat sosok mendiang Bejo Sugiantoro yang dulu dikenal sebagai palang pintu tangguh.

Bejo selalu tampil habis-habisan dan tak segan bertaruh tubuh demi menjaga kehormatan Persebaya Surabaya, sama seperti militansi yang kini ditampilkan Rachmat Irianto.

Di mata Bonek, karakter itulah yang membuat Rian layak menjadi penerus semangat juang Green Force.

Tekad pantang menyerahnya memunculkan nuansa nostalgia akan era keemasan bek-bek lokal Persebaya Surabaya yang dulu menjadi ikon kedisiplinan dan keberanian.

Rian sendiri merupakan pemain kelahiran Surabaya pada 3 September 1999 yang kini berusia 26 tahun.

Ia memiliki tinggi 1,75 meter dan dominan menggunakan kaki kanan dalam menjalankan tugas sebagai gelandang bertahan maupun bek tengah.

Ia kembali ke Persebaya Surabaya pada 1 Juli 2025 dan terikat kontrak hingga 31 Mei 2027. Kepulangannya disambut hangat karena ia dianggap sebagai bagian penting dari regenerasi pemain lokal yang melejit bersama klub tersebut.

Nilai pasarnya kini berada di angka 4,35 miliar yang menunjukkan konsistensi performanya selama beberapa musim terakhir.

Kemampuan bertahannya membuatnya fleksibel bermain sebagai gelandang bertahan, bek tengah, atau bek kanan ketika dibutuhkan.

Musim ini Rian sudah tampil dalam 10 pertandingan dengan total 699 menit bermain.

Meski belum mencetak gol, ia mencatatkan xG 0,38 dan melakukan tiga percobaan tembakan yang menunjukkan keberaniannya naik membantu serangan.

Akurasi umpannya mencapai 89 persen yang memperlihatkan ketenangannya dalam distribusi bola. Ia juga mencatat satu keypass yang menjadi bukti kontribusinya dalam membangun serangan Persebaya Surabaya.

Dalam aspek duel, ia melakukan enam pelanggaran dan sembilan kali dilanggar lawan sebagai gambaran intensitas permainan yang ia jalani.

Catatan kartu kuningnya hanya satu dan tidak ada kartu merah, menunjukkan agresivitasnya tetap terkontrol.

Dengan doa yang terus berdatangan dari Bonek, kehadiran Rian sangat dinantikan untuk pertandingan berikutnya. Fans percaya militansinya akan kembali memperkuat Persebaya Surabaya dan menjadi inspirasi di lapangan.

Cedera yang dialaminya menjadi kekhawatiran tersendiri, tetapi dukungan suporter diyakini mampu menambah motivasi sang pemain.

Semangat itu pula yang membuat banyak orang menyandingkannya dengan legenda Persebaya Surabaya, Bejo Sugiantoro, yang namanya begitu dihormati Bonek.

Rian kini berada dalam fase penting untuk pemulihan dan persiapan menuju laga berikutnya. Jika kondisinya membaik, bukan tidak mungkin ia kembali menjadi pilar lini belakang dengan determinasi seperti yang dicontohkan Bejo dulu.

Dalam situasi kompetisi yang ketat, figur seperti Rachmat Irianto sangat dibutuhkan Persebaya Surabaya untuk menjaga momentum.

Militansinya menjadi simbol klub ini selalu memiliki pemain yang berani bertarung sampai akhir.

Bagi Bonek, dukungan bukan hanya tentang sorak di tribun tetapi juga doa untuk para pemain yang jatuh bangun di lapangan.

Itulah yang kini mereka persembahkan untuk Rachmat Irianto yang totalitasnya kembali membangkitkan kebanggaan seluruh pendukung Persebaya Surabaya.

EDITOR: Edi Yulianto