JawaPos.com - Empat tahun lalu, peristiwa kelam itu terjadi. Sebanyak 135 orang meninggal dalam insiden yang terjadi di Stadion Kanjuruhan.
Pada Kamis (1/10) hingga Jumat (2/10), peringatan tragedi itu kembali berlangsung melalui serangkaian aksi di sejumlah lokasi.
Seluruh elemen yang terlibat dalam aksi-aksi itu mengusung semangat yang sama. Selain mendoakan 135 korban, mereka juga tetap konsisten mendorong penuntasan penanganan hukum dalam insiden tersebut yang dinilai belum tuntas.
Salah satu aksi peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan berlangsung di depan Balai Kota Malang. Sejak Kamis (1/10) petang, massa gabungan dari Aremania, warga, dan mahasiswa menggelar mimbar bebas serta aksi teatrikal.
Selain itu, dengan iringan temaram lilin, massa yang datang dari berbagai daerah tersebut menggelar doa bersama bagi seluruh korban pada Kamis (1/10) malam.
Di kompleks Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, peringatan tragedi itu diisi dengan beragam kegiatan. Mulai dari khataman Al-Qur’an hingga salawat dan doa bersama. Warga dari berbagai daerah hadir.
“Kegiatan (doa bersama) ini menjadi bagian untuk merawat ingatan seluruh masyarakat terhadap insiden kelam pada 1 Oktober 2022,” kata Sekretaris Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) Cholifatul Nur.
Dia menegaskan bahwa kegiatan ini diupayakan akan terus berlangsung konsisten. “Karena ini untuk merawat ingatan bahwa ada kasus besar di Malang yang menyebabkan 135 orang meninggal dunia,” kata Cholifatul.
Selain itu, lewat momen ini, semua elemen konsisten untuk terus menyuarakan tuntutan terkait penegakan keadilan atas tragedi tersebut.
Baca Juga: Arema FC Matangkan 2 Sistem Permainan, Penguasaan Bola Jadi Fokus Jelang Lawan Bhayangkara
Sementara itu, salah satu keluarga korban, Minsai’in, mengungkapkan dirinya masih terus menyimpan harapan terkait penegakan hukum yang adil.
“Yang kami tunggu adalah keadilan ditegakkan, siapapun itu orangnya dan apapun itu profesinya semua harus diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku,” ucap dia. (ant/ris)