← Beranda
Cuma Pernah Dua Kali Tercipta di Indonesia, Kenapa Triple Crown di Pacuan Kuda Langka untuk Diraih?
Dimas Ramadhan Wicaksana• Kamis, 10 Juli 2025 | 05.13 WIB
Triple Crown dalam dunia olahraga pacuan kuda hanya pernah dua kali terjadi di Indonesia dan terakhir tercipta pada 2014. (Dok. Sargaco)

JawaPos.com - Triple Crown menjadi salah satu istilah dalam olahraga berkuda sekaligus pencapaian bersejarah nan langka. Di Indonesia, prestasi ini baru bisa diraih oleh dua kuda sepanjang sejarah Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI).

Dalam dunia pacuan kuda, Triple Crown bukan sekadar tiga kemenangan berturut-turut. Melainkan sebuah simbol keunggulan mutlak dan mahkota yang hanya bisa disematkan kepada kuda-kuda terbaik yang pernah menginjak lintasan, ditunggangi joki-joki dengan intuisi luar biasa, dan dipoles tim pelatih dengan nyali besar, serta presisi strategi tingkat tinggi.

Istilah Triple Crown bisa didefinisikan sebagai tiga balapan besar dalam satu musim, yang harus dimenangkan seekor kuda pacu berusia tiga tahun. Karena itu, tiap kuda hanya punya satu peluang seumur hidup untuk mengejarnya, tidak bisa memperoleh lebih cepat, tidak juga ada musim kedua atau ulangan.

Setidaknya ada tiga faktor yang membuat meraih Triple Crown sangat sulit. Pertama adalah dikarenakan setiap balapan punya jarak tempuh yang berbeda-beda. Artinya, seekor kuda harus punya kecepatan sekaligus daya tahan.

Selain itu, waktu pemulihan yang dimiliki kuda terbilang singkat. Sebab balapan biasanya digelar dalam rentang waktu relatif dekat dan persaingan sangat ketat. Tidak ada lawan yang mudah karena semua kuda terbaik usia 3 tahun ikut serta.

Sementara faktor ketiga adalah faktor eksternal. Aspek ini meliputi cuaca, trek, start buruk, hingga tekanan media, yang itu semua dapat memengaruhi performa kuda.

Rentetan faktor itu membuat Triple Crown bak pencapaian langka dan bersejarah di seluruh dunia. Hanya segelintir kuda yang berhasil mengunci tiga kemenangan dan menyematkan gelar Triple Crown Champion di namanya.

Konsep Triple Crown ini sudah hadir di berbagai belahan dunia sebagai simbol supremasi pacuan kuda. Amerika Serikat contohnya, punya tiga balapan legendaris yang harus ditaklukkan.

Yakni Kentucky Derby (1.600 meter), Preakness Stakes (1.900 meter), dan Belmont Stakes (2.400 meter). Ketiga balapan bergengsi itu harus dilombakan dalam rentang waktu dua bulan untuk menyandang gelar bergengsi tersebut.

Tak pelak, sampai saat ini hanya ada 13 kuda yang berhasil mencatatkan namanya sebagai juara sejati dalam sejarah satu setengah abad Triple Crown Amerika Serikat.

Terakhir kali Triple Crown tercipta adalah pada 2018 oleh Justify. Sejarah itu muncul setelah keberhasilan American Pharoah tiga tahun sebelumnya pada 2015, yang mengakhiri masa penantian selama hampir 40 tahun setelah peraih gelar terakhir.

Kemudian di Tanah Inggris, yang merupakan tempat kelahiran pacuan kuda modern, Triple Crown justru seperti sebuah mitos. Inggris punya tiga balapan yang harus dimenangkan, yaitu 2000 Guineas Stakes (1.600 meter), The Derby (2.400 meter), St. Leger Stakes (2.900 meter).

Tantangan untuk meraih Triple Crown di Inggris bukan hanya soal jarak yang makin panjang, tapi juga karena standar kualitas yang luar biasa tinggi. Sejauh ini pun cuma 15 kuda saja pernah sukses menyapu bersih ketiganya.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? Triple Crown di Tanah Air mengusung semangat yang sama berupa tiga seri balapan berjenjang, namun terdapat perbedaan rute.

Tiga balapan yang termasuk dalam Triple Crown Indonesia antara lain adalah Seri I pada April (1.200 meter), Seri II pada Mei (1.600 meter), dan puncaknya dalam Indonesia Derby pada Juli sejauh 2.000 meter.

Sepanjang sejarah Pordasi, baru dua kuda saja yang sukses meraih gelar Triple Crown. Pertama adalah kuda Manik Trisula pada 2002 dan yang kedua merupakan kuda Djohar Manik pada 2014. Sejak itu, satu dekade lebih, mahkota kuda terbaik hanya indah dikenang dan tak pernah terulang.

Sejarah mencatat, setidaknya ada tujuh kuda yang nyaris menyentuh Triple Crown. Namun semuanya gagal karena pasti selalu meleset di salah satu leg yang ada.

Contohnya adalah King Master (2006), King Runny Star (2015), Nara Asmara (2016), dan Queen Thalassa (2019), yang gagal di leg terakhir. Ada juga yang mampu memenangi dua leg terakhir, tapi gagal di leg pertama seperti Pesona Nagari (2008) dan Bintang Maja (2023).

Sementara Lady Aria (2018), berhasil memenangkan leg pertama dan leg ketiga di Derby, namun hanya mampu finis kedua di leg kedua.

"Dari situ kita lihat, begitu sulit meraih Triple Crown Indonesia," ujar Munawir selaku Ketua Komisi Pacu PP Pordasi.

Menurut Munawir, Triple Crown menuntut daya tahan luar biasa kuda, konsistensi tak tergoyahkan, strategi cermat, dan kesiapan menghadapi tantangan cuaca, cedera, bahkan fluktuasi psikologis seekor kuda.

"Realistis saja. Karena kuda-kuda di sini belum kuat jaraknya sepanjang itu. Artinya seekor kuda hanya punya satu kali peluang seumur hidup untuk menjadi juara Triple Crown," ucap dia.

Tapi kini setelah lebih dari satu dekade, Triple Crown kembali berpotensi muncul lagi di Tanah Air. Adalah kuda King Argentine yang punya kans besar untuk meraih prestasi bersejarah dan langka itu.

 

King Argentine berhasil melalui dua balapan bergengsi Indonesia’s Horse Racing (IHR)–Triple Crown Serie 1 pada April dan IHR–Triple Crown Serie 2 pada Mei.

Artinya tinggal satu balapan lagi yang tersisa untuk dimenangkan oleh King Argentine. Yakni IHR–Kejurnas Serie 1 Indonesia Derby atau IHR–Indonesia Derby, yang rencananya digelar pada 27 Juli mendatang. Akankah sejarah Triple Crown kembali hadir di Indonesia?

Triple Crown dalam dunia olahraga pacuan kuda hanya pernah dua kali terjadi di Indonesia dan terakhir tercipta pada 2014. (Dok. Sargaco)
Triple Crown dalam dunia olahraga pacuan kuda hanya pernah dua kali terjadi di Indonesia dan terakhir tercipta pada 2014. (Dok. Sargaco)
EDITOR: Hendra