← Beranda
PBSI Kembangkan Cipayung jadi Akademi Bulu Tangkis
Antara• Kamis, 8 Oktober 2026 | 00.20 WIB
Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Leo Rolly Carnando (kiri) dan Daniel Marthin (kanan) menjalani latihan di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Kamis (10/9/2026). PP PBSI menurunkan 20 pebulu tangkis untuk memperkuat tim bulu tangkis Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang dengan target meraih satu medali emas dari nomor beregu putra. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.

 

JawaPos.com - Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran mengatakan Pelatnas Cipayung diarahkan menjadi akademi bulu tangkis yang menopang pembinaan atlet secara menyeluruh menuju prestasi tertinggi.

“Saya kira Cipayung ini bukan hanya tempat berlatih, tetapi menjadi akademi badminton. Saya sudah menyampaikan beberapa program bahwa anak-anak di sini harus didukung dengan semua hal untuk menuju puncak prestasi tertinggi,” kata Fadil di Pelatnas PP PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu.

Fadil mengatakan pengembangan Cipayung sebagai pusat pembinaan dilakukan dengan memperkuat berbagai aspek pendukung atlet, tidak hanya latihan teknik di lapangan.

Baca Juga: PBSI Beri Apresiasi Rp 4,5 Miliar Kepada Peraih Medali Asian Games 2026

Menurut dia, penerapan sport science menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut dan harus dijalankan secara nyata serta terukur.

“Sport science bukan hanya slogan, tetapi betul-betul kita kerjakan. Dan semuanya terukur dan jelas, mulai dari kemampuan fisik, kondisi kesehatan, hingga kondisi psikologis,” ujar Fadil.

Ia menambahkan evaluasi teknis juga dilakukan secara berjenjang dan berkelanjutan oleh bidang pembinaan dan prestasi bersama tim kepelatihan.

Baca Juga: PBSI Petakan Jalan Menuju Kuota Penuh Olimpiade Los Angeles 2028

Fadil menilai keberhasilan Indonesia meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menunjukkan bahwa proses pembinaan dan regenerasi mulai memberikan hasil.

Namun, ia menegaskan capaian tersebut tidak boleh membuat atlet maupun pengurus cepat puas karena masih banyak aspek yang perlu dievaluasi dan diperbaiki.

“Regenerasi, keberlanjutan kompetisi, dan keberlanjutan pembinaan. Saya kira itu kata kuncinya. Di bawahnya banyak pilar yang mendukung itu,” kata Fadil.

EDITOR: Banu Adikara