← Beranda
Bukan Lagi Sekadar Chatbot, AI Agent Mulai Masuk Dapur Pengembangan Produk
Rian Alfianto• Senin, 28 September 2026 | 22.46 WIB
Ilustrasi Agentic AI. (MIT Sloan)

 

JawaPos.com - Kecerdasan buatan (AI) mulai bergerak lebih jauh dari sekadar chatbot yang menjawab pertanyaan atau membantu menyelesaikan satu pekerjaan.

Melalui pendekatan Agentic AI, teknologi ini mulai diarahkan untuk menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri dalam proses pengembangan produk digital, sekaligus mengubah cara tim produk, desainer, dan engineer bekerja.

Perubahan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Indonesia Product Conference (IPC) 2026 yang mempertemukan lebih dari 1.000 profesional produk dan lebih dari 25 pembicara dari berbagai industri.

Baca Juga: Bill Gates Soroti Bahaya AI, Minta Setiap Sistem Punya Pengamanan Ketat

Fokusnya bukan lagi sekadar seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat dibawa dari tahap eksperimen menjadi produk yang benar-benar digunakan, dipercaya, diukur, dan dikembangkan dalam kondisi nyata.

CEO EPIQ Events dan Apiary Academy Jessica Casey Jaya mengatakan, perubahan tersebut terlihat dari kebutuhan para profesional produk yang mulai bergeser seiring perkembangan AI.

“Perubahan menuju Agentic AI inilah yang ingin kami eksplorasi lebih jauh di IPC 2026,” ujar Jessica Casey Jaya di Jakarta, Senin (28/9).

Baca Juga: Cakupan Internet Tembus 90 Persen, Komdigi Bidik 5G Makin Ngebut

Ketika AI Mulai Masuk ke Proses Kerja Tim Produk

Perubahan paling besar dari perkembangan Agentic AI terletak pada cara teknologi digunakan.

AI generatif selama ini banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan teks, gambar, kode, merangkum informasi, atau memberikan jawaban berdasarkan instruksi pengguna.

Agentic AI membawa pendekatan tersebut lebih jauh dengan memungkinkan sistem menjalankan sejumlah langkah untuk mencapai tujuan yang diberikan.

Bagi tim pengembang produk, hal ini membuka kemungkinan baru sekaligus menghadirkan persoalan yang sebelumnya tidak terlalu dominan.

Jika sebagian pekerjaan dapat dikerjakan oleh AI agent, batas pekerjaan antara product manager, desainer, dan engineer ikut berubah.

Tim harus menentukan pekerjaan yang dapat didelegasikan kepada AI dan keputusan yang tetap membutuhkan penilaian manusia.

Baca Juga: Batas 1 Oktober, 7 PSE Harus Daftar ke Komdigi atau Akses Diputus

Pembahasan di Growth Stage IPC 2026 antara lain mencakup Agentic Shift in 2026, penerapan AI dalam produk, perubahan batas kerja PM, desainer dan engineer, hingga peran product manager ketika AI agent mulai mengerjakan sebagian pekerjaan.

Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana membuat AI bekerja, tetapi bagaimana memastikan hasilnya sesuai kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis.

Tantangan Berikutnya: Membuktikan AI Benar-Benar Berguna

Kecepatan menjadi salah satu perubahan yang paling terasa sejak AI masuk ke proses pengembangan produk.

Baca Juga: BSSN Tegaskan Keamanan Siber Kunci Sukses Satu Data indonesia

Dengan bantuan AI, tim dapat membuat prototipe, mengembangkan fitur, hingga meluncurkan produk dalam waktu yang lebih singkat.

Namun, semakin cepat produk dibuat, semakin penting pula kemampuan perusahaan mengetahui apakah produk tersebut benar-benar memberikan dampak.

Tom Blackman, VP & GM Mixpanel untuk APAC & Japan, mengatakan kecepatan pengukuran perlu mengikuti perkembangan proses pengembangan produk.

Baca Juga: Hari Bhakti Postel, Pemerintah Janjikan Pemerataan Infrastruktur Digital

Menurut dia, AI telah membuat pengembangan dan peluncuran produk digital berlangsung lebih cepat dari sebelumnya.

Namun, kemampuan untuk memahami apakah semua yang diluncurkan benar-benar memberikan dampak belum bergerak dengan kecepatan yang sama.

"Dengan laju pengembangan saat ini, perusahaan tidak bisa menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan jawaban. Pengukuran perlu bergerak secepat proses pengembangan, dan inilah yang didukung oleh platform product intelligence berbasis AI Mixpanel,” ujar Tom Blackman.

Artinya, keberhasilan penerapan AI tidak cukup diukur dari berapa banyak fitur atau produk yang berhasil dibuat menggunakan teknologi tersebut.

Baca Juga: Inovasi Drone EagleEye Disiapkan Kemenhut Sebagai Solusi Penanganan Karhutla

Perusahaan juga perlu melihat perilaku pengguna setelah produk diluncurkan, dampaknya terhadap bisnis, serta apakah solusi yang dibangun benar-benar menyelesaikan persoalan yang ingin diatasi.

Ketika Kepercayaan Menjadi Bagian dari Produk

Kemampuan AI agent untuk bekerja lebih mandiri juga membawa persoalan lain: kepercayaan.

Semakin besar peran AI dalam mengambil langkah atau menghasilkan keputusan, semakin penting bagi tim untuk memahami bagaimana sistem menghasilkan output dan kapan manusia perlu mengambil alih.

Baca Juga: Di PBB, Menkomdigi Meutya Hafid Soroti Perlindungan 70 Juta Anak Indonesia di Tengah Pesatnya AI

Karena itu, IPC 2026 turut membahas trust dalam agentic-driven research, cara bekerja dengan AI agents, serta pentingnya mempertahankan human judgment dalam proses pengembangan produk.

Di Innovation Lab dan Discovery Stage, pembahasan juga mencakup relationship-centered design untuk produk finansial serta penggunaan Claude dan kerangka product ideation.

Topik-topik tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Agentic AI tidak hanya menyangkut teknologi.

Baca Juga: OpenAI Ungkap 53 Gambar Pengguna Sempat Diunggah ke Situs Hosting Publik

Ada persoalan desain, pengalaman pengguna, bisnis, pengukuran, hingga batas antara keputusan yang dapat diserahkan kepada mesin dan keputusan yang tetap membutuhkan manusia.

Perubahan tersebut berlangsung di tengah ekosistem digital Indonesia yang semakin terbuka terhadap teknologi baru.

Dalam lima tahun penyelenggaraannya, IPC berkembang dari forum yang berfokus pada product management menjadi ruang yang mempertemukan lebih banyak fungsi dalam pengembangan produk digital.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah