← Beranda
Bill Gates Dorong Regulasi AI, Ngaku Ingin Bertemu Trump Bahas Risiko dan Pengawasan Teknologi Ini
Mellyna Putri Diniar• Selasa, 29 September 2026 | 05.47 WIB
Bill Gates menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Donald Trump di State Dining Room Gedung Putih, Washington, 4 September 2025 (CTV News)

 

JawaPos.com - Dorongan untuk memperketat pengawasan kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) memasuki fase baru setelah salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh, Bill Gates, meminta Kongres AS menetapkan aturan yang mewajibkan perusahaan menerapkan pengamanan dan pemantauan terhadap sistem AI. Gates menilai pengaturan oleh industri sendiri tidak cukup untuk menghadapi kemampuan AI yang semakin maju.

Dilansir dari CTV News, Senin (28/9/2026), Gates menyampaikan pandangan itu dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC yang ditayangkan Minggu. Menurutnya, pemerintah, aparat penegak hukum, dan politisi perlu terlibat langsung dalam menentukan standar keselamatan AI.

"Kita membutuhkan aparat penegak hukum dan para politisi untuk terlibat dalam pembahasan mengenai seperti apa pengamanan dan pemantauan itu. Dan hal itu harus diwajibkan," kata Gates. 

Seruan itu muncul setelah OpenAI melaporkan pada Juli bahwa sebuah agen AI otonom keluar dari batas yang ditetapkan dalam pengujian keamanan dan meretas perusahaan lain, sehingga kendali manusia berhasil ditembus. Peristiwa itu memperkuat dorongan intervensi pemerintah federal. Gates menegaskan, "Tidak ada yang menganggap pengaturan mandiri sudah cukup."

Baca Juga: Agen AI Kembali Bertindak di Luar Instruksi, OpenAI Hentikan Pelatihan Model Terbaru

Dorongan Gates juga mencerminkan pergeseran sikap di sebagian industri teknologi. Dalam perkembangan yang relatif jarang terjadi, pimpinan Anthropic, OpenAI, Google DeepMind, Microsoft, dan xAI sama-sama menyerukan perlambatan pengembangan sistem AI yang semakin kuat. Kekhawatiran itu muncul bersamaan dengan peringatan sejumlah peneliti mengenai potensi penyalahgunaan AI untuk serangan siber, biologi, maupun bentuk kerusakan berskala besar. 

Namun, dorongan regulasi menghadapi penolakan dari Presiden AS Donald Trump dan pihak lain yang menilai pembatasan pemerintah dapat mengurangi posisi AS dalam persaingan teknologi dengan Tiongkok.

Trump bahkan menyebut seruan untuk membuat aturan baru sebagai sebuah "hoaks." Gates membantah pandangan tersebut secara langsung. "Itu sama sekali bukan hoaks," ujarnya kepada NBC. 

Gates juga menilai pengamanan AI tidak akan menghambat industri secara signifikan. Dia mengatakan aturan tersebut memang akan menambah beban tertentu bagi perusahaan, tetapi tidak sampai memperlambat pengembangan teknologi secara drastis. 

Dalam wawancara yang sama, Gates menyatakan ingin bertemu Trump untuk membicarakan persoalan AI secara langsung.

"Saya berharap, mengingat seluruh pekerjaan hidup saya di bidang ini, penyampaian saya mengenai betapa unik dan berbedanya teknologi ini serta betapa khawatirnya saya akan menambah apa yang didengarnya dari orang lain," kata Gates.

Perdebatan itu semakin tajam setelah mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, memperingatkan bahwa AI berpotensi memusnahkan manusia pada akhir dekade. Evan Hubinger, pimpinan alignment science Anthropic, juga menyebut terdapat kemungkinan lebih dari 10 persen bahwa peristiwa semacam itu terjadi dalam satu dekade mendatang. Peringatan tersebut mendorong sejumlah anggota parlemen AS kembali membahas aturan keselamatan AI. 

Salah satu gagasan yang muncul adalah kill switch yang memungkinkan pemerintah federal menghentikan model AI tertentu ketika dianggap berbahaya. Gates tidak menolak kemungkinan mekanisme itu, tetapi menilai tombol penghentian saja tidak memadai. Sistem AI tetap membutuhkan pengamanan dan pemantauan sejak awal agar penggunaan berbahaya dapat terdeteksi sebelum berkembang menjadi krisis. 

Persoalannya kemudian melampaui kebijakan domestik AS. Washington dan Beijing telah sepakat membuka dialog mengenai AI setelah Presiden Tiongkok Xi Jinping berkunjung ke Washington.

Gates sebelumnya juga memperingatkan bahwa membangun kesepakatan internasional mengenai AI bahkan dapat lebih sulit dibandingkan negosiasi pembatasan senjata nuklir pada era Perang Dingin. 

Baca Juga: Bill Gates Soroti Bahaya AI, Minta Setiap Sistem Punya Pengamanan Ketat

Sementara itu, Gedung Putih tetap mempertahankan pendekatan yang menempatkan kepemimpinan teknologi AS sebagai prioritas. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, "Presiden Trump telah menegaskan bahwa Amerika akan memimpin dunia dalam superinteligensi, sekaligus melindungi konsumen Amerika."

Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi, tetapi juga oleh aturan pemerintah dan kesepakatan antarnegara mengenai batas pengembangannya.

EDITOR: Candra Mega Sari