JawaPos.com - Korea Selatan semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengolah rekaman kamera keamanan. Teknologi tersebut memungkinkan petugas dengan cepat mencari orang hilang sekaligus mendeteksi kejadian seperti perkelahian atau orang yang terjatuh di jalan.
Dilansir dari Kyodo, Kamis (1/10), teknologi itu membantu petugas memilah rekaman dalam jumlah besar yang sebelumnya harus diperiksa secara manual. Dukungan masyarakat terhadap kamera keamanan sebagai sarana keselamatan juga turut mendorong penggunaannya semakin luas.
Di pusat kendali di Distrik Yeongdeungpo, Seoul, petugas dan polisi memantau rekaman sepanjang waktu dari sekitar 5.500 kamera keamanan yang dipasang pemerintah daerah.
"Biarkan saya menunjukkan cara kerja sistem pencarian AI," kata seorang petugas yang bertanggung jawab atas sistem tersebut sambil menghadap monitor.
Berdasarkan informasi dari polisi, operator memasukkan sejumlah data, termasuk jenis kelamin orang yang hilang serta warna pakaian bagian atas dan bawah.
Setelah menentukan waktu dan lokasi orang tersebut menghilang, AI menganalisis rekaman kamera di area sekitar. Sistem kemudian menampilkan gambar orang yang sesuai dengan deskripsi yang dimasukkan.
Setelah orang tersebut ditemukan, operator dapat mencari rekaman dari kamera terdekat untuk melacak pergerakannya.
Sistem itu dapat secara bersamaan mencari rekaman berdurasi 30 menit dari hingga 100 kamera. Proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tujuh hingga delapan menit.
"Sebelumnya, orang harus memeriksa rekaman dari satu kamera ke kamera lainnya," ujar petugas tersebut.
Teknologi itu telah membantu menemukan orang hilang. Pada 4 Juli, seorang lansia dengan demensia dilaporkan hilang di Yeongdeungpo.
Bekerja sama dengan polisi, pusat kendali menggunakan sistem AI untuk menemukan lansia tersebut yang sedang berjalan tanpa tujuan di kawasan itu. Dia kemudian dapat dibawa ke tempat yang aman sekitar dua jam setelah dinyatakan hilang.
AI juga digunakan untuk mendeteksi secara otomatis situasi yang berpotensi berbahaya, seperti orang yang tergeletak di jalan atau perkelahian. Dengan begitu, petugas dapat merespons lebih cepat dan membantu mencegah kejahatan.
Di kawasan Sungai Han, kamera di jembatan menggunakan teknologi yang dirancang untuk mendeteksi perilaku yang dianggap sebagai tanda peringatan kemungkinan bunuh diri. Salah satunya adalah ketika seseorang berada di lokasi yang sama dalam waktu lama.
Menurut media Korea Selatan, jumlah kamera keamanan yang dioperasikan pemerintah daerah di seluruh negeri meningkat dari sekitar 440 ribu unit pada 2020 menjadi 650 ribu unit pada 2024.
Di sisi lain, jumlah petugas yang memantau rekaman justru menurun. Pada 2024, rata-rata seorang petugas bertanggung jawab terhadap 477 kamera sehingga kebutuhan akan analisis yang lebih efisien semakin mendesak.
Jumlah kamera di kota-kota Korea Selatan sebenarnya jauh lebih besar jika sistem yang dipasang secara pribadi dan kamera dasbor kendaraan turut dihitung.
Seorang polisi yang bekerja di pusat kendali Yeongdeungpo mengatakan penyidik kini semakin mengandalkan rekaman kamera dibandingkan mencari saksi atau melakukan wawancara.
"Ingatan orang bisa tidak konsisten. Tetapi jika sesuatu terekam dengan jelas oleh kamera, tidak ada yang bisa membantahnya," katanya.
Petugas pusat kendali tersebut mengatakan pandangan masyarakat terhadap kamera keamanan juga telah berubah. "Dulu, ada pandangan negatif bahwa kamera keamanan merupakan bagian dari 'masyarakat pengawasan'," ujarnya. "Sekarang, pandangan yang berlaku adalah kamera tersebut membantu membuat masyarakat lebih aman."
"Banyak juga permintaan agar kamera tambahan dipasang."