JawaPos.com - Nokia dan perusahaan antariksa Finlandia ICEYE memperluas persaingan di orbit rendah Bumi dengan mengembangkan sistem komunikasi satelit yang dapat dimiliki dan dikendalikan langsung oleh pemerintah. Kemitraan ini menyasar kebutuhan pertahanan, keamanan perbatasan, layanan darurat hingga penanganan bencana.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (3/10/2026), kedua perusahaan akan membangun sistem komunikasi pita lebar berbasis satelit low Earth orbit (LEO) yang dirancang aman, berdaulat, dan berperforma tinggi. Satelit pertama dari proyek tersebut ditargetkan meluncur pada 2028.
Berbeda dari model layanan satelit komersial yang dioperasikan oleh satu perusahaan, Nokia dan ICEYE menawarkan sistem yang memungkinkan negara pengguna memiliki dan mengendalikan infrastrukturnya sendiri. Kedua perusahaan mengatakan sistem berbasis teknologi Eropa itu akan mencakup satelit, segmen darat, serta terminal yang digunakan untuk mengakses jaringan.
Baca Juga: Nokia Tutup Fasilitas di Tiongkok Daratan hingga Akhir 2026, Terdesak Persaingan Lokal
Model itu memberi pemerintah alternatif ketika jaringan komunikasi terestrial mengalami gangguan atau dikompromikan. Dalam kondisi demikian, pasukan pertahanan, petugas tanggap darurat, dan otoritas sipil dapat kehilangan akses terhadap sistem informasi serta komando yang mereka andalkan. Karena itu, ICEYE dan Nokia menempatkan ketahanan komunikasi sebagai bagian utama dari rancangan mereka.
Sistem yang dikembangkan juga tidak dimaksudkan menggantikan seluruh jaringan militer dan komersial yang sudah tersedia. Kedua perusahaan mengatakan jaringan tersebut akan melengkapinya dengan konektivitas berkapasitas tinggi dan latensi rendah pada wilayah operasi prioritas, sekaligus memperluas jangkauan dan menambah ketahanan komunikasi.
Bagi ICEYE, langkah ini memperluas bisnis yang sebelumnya kuat di bidang pengamatan Bumi menggunakan satelit radar apertur sintetis atau SAR. Perusahaan tersebut telah mengembangkan model satelit berdaulat yang memungkinkan pemerintah memiliki sistem antariksa sendiri. Kini pendekatan serupa dibawa ke sektor komunikasi satelit melalui kerja sama dengan Nokia.
CEO sekaligus salah satu pendiri ICEYE Rafal Modrzewski mengatakan negara perlu memiliki kendali penuh atas infrastruktur komunikasinya.
"Negara harus dapat sepenuhnya memiliki dan mengendalikan komunikasinya," ujarnya, seraya menyoroti risiko ketergantungan pada ketentuan layanan operator komersial asing.
Modrzewski juga mengatakan ICEYE sebelumnya telah menyerahkan sistem satelit radar milik Polandia dalam waktu kurang dari satu tahun. Menurutnya, kemitraan dengan Nokia memungkinkan perusahaan bergerak dengan kecepatan serupa untuk komunikasi satelit, mengikuti kebutuhan waktu yang ditetapkan negara pengguna.
Sementara itu, Presiden sekaligus CEO Nokia Justin Hotard mengaitkan komunikasi berdaulat dengan kemampuan pemerintah untuk memperoleh informasi, mengambil keputusan, dan bertindak secara cepat.
"Operasi berdaulat bergantung pada kemampuan untuk mengamati, memutuskan, dan bertindak secara waktu nyata," katanya. Dia menilai kecerdasan buatan fisik membutuhkan konektivitas aman dan tangguh di darat, laut, udara, serta antariksa.
Kemitraan tersebut sekaligus menempatkan Nokia dan ICEYE dalam arena yang selama ini dikenal melalui Starlink milik SpaceX, perusahaan antariksa Amerika Serikat. Masuknya dua perusahaan Eropa itu memperlihatkan upaya membangun pilihan lain bagi pemerintah yang membutuhkan jaringan komunikasi satelit untuk kebutuhan strategis tanpa sepenuhnya bergantung pada satu operator komersial asing.