JawaPos.com - Amazon memperpanjang taruhan pada energi nuklir dengan meneken kesepakatan pasokan listrik selama 20 tahun bersama Constellation Energy. Perjanjian ini akan mendukung investasi infrastruktur lebih dari USD 3 miliar atau sekitar Rp53,85 triliun, dengan kurs Rp17.950 per dolar AS, sekaligus menambah kapasitas pembangkitan nuklir di Maryland, Amerika Serikat.
Dilansir dari Fox Business, Sabtu (3/10/2026), kesepakatan tersebut mencakup pasokan 690 megawatt (MW) dari Calvert Cliffs Clean Energy Center. Dari keseluruhan komitmen itu, sekitar 190 MW merupakan tambahan kapasitas yang diperkirakan mulai beroperasi pada 2030 hingga 2032. Investasi akan mencakup peningkatan fasilitas di seluruh pembangkit berkapasitas 1.790 MW tersebut.
Kesepakatan ini penting karena kebutuhan listrik perusahaan teknologi meningkat seiring ekspansi pusat data dan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Reuters melaporkan permintaan terhadap energi nuklir ikut meningkat ketika perusahaan teknologi mencari sumber listrik yang andal untuk menopang infrastruktur komputasi AI yang membutuhkan pasokan stabil.
Baca Juga: Amazon Mendadak Blokir Muse, Agen AI Belanja Milik Meta
Amazon dan Constellation juga membuat perjanjian pasokan listrik ritel untuk operasi Amazon di seluruh wilayah PJM yang mencakup 13 negara bagian. Skema itu dirancang membantu Amazon mengelola biaya energi di berbagai fasilitasnya. Berbeda dari pembangkit yang terhubung langsung ke pusat data, listrik Calvert Cliffs tetap dialirkan ke jaringan listrik regional PJM dan tidak dikhususkan bagi fasilitas Amazon.
Bagi Constellation, kontrak jangka panjang tersebut memberikan kepastian pendapatan yang dibutuhkan untuk mengupayakan perpanjangan izin operasi Calvert Cliffs selama 20 tahun berikutnya. Dua reaktor pembangkit itu saat ini memiliki izin operasi hingga 2034 dan 2036. Komitmen Amazon juga membuka ruang bagi pengembangan pembangkit energi bersih baru dan teknologi nuklir lanjutan di lokasi tersebut.
"Kesepakatan ini menunjukkan bagaimana investasi swasta dapat memperkuat infrastruktur energi yang sangat penting," kata Chairman, President, dan CEO Constellation Joe Dominguez. Menurut dia, komitmen Amazon mendukung keberlangsungan Calvert Cliffs untuk generasi mendatang sekaligus menjadi dasar investasi lebih lanjut pada fasilitas itu dan teknologi nuklir lanjutan.
Dari sisi Amazon Web Services (AWS), Vice President Global Operations and Data Center Delivery Kerry Person mengatakan perusahaan ingin menggunakan investasi energi bebas karbon untuk memperkuat jaringan listrik sekaligus memberi manfaat bagi wilayah tempat Amazon beroperasi.
"Kesepakatan jangka panjang dengan Constellation ini mempertahankan operasi dan ekspansi sumber energi bebas karbon terbesar di Maryland, mendukung ratusan lapangan kerja, serta menghadirkan pembangkitan baru dalam jumlah signifikan ke jaringan regional," ujarnya.
Calvert Cliffs merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di Maryland dan menghasilkan sekitar 80 persen energi bersih negara bagian tersebut. Fasilitas di Lusby itu mampu menghasilkan listrik yang setara dengan kebutuhan lebih dari 1,3 juta rumah serta mempekerjakan lebih dari 800 orang. Pembangkit tersebut juga menyumbang sekitar USD 21 juta atau Rp376,95 miliar per tahun dalam bentuk pajak untuk sekolah, jalan, dan layanan publik.
Langkah Amazon memperlihatkan perubahan penting dalam hubungan antara perusahaan teknologi dan sektor energi. Amazon sebelumnya telah menginvestasikan USD 500 juta atau sekitar Rp8,98 triliun pada pengembang nuklir lanjutan X-energy serta bekerja sama dengan Energy Northwest untuk mendukung pengembangan reaktor modular kecil di Washington. Reuters mencatat kebutuhan listrik yang meningkat untuk AI menjadi salah satu pendorong menguatnya minat perusahaan teknologi terhadap nuklir.
Baca Juga: Amazon Prime Video Tantang TikTok, Kini Hadirkan Klip Berita Pendek
Dengan kontrak dua dekade tersebut, Amazon bukan hanya mengamankan akses listrik bagi ekspansi bisnisnya, tetapi turut menopang peningkatan kapasitas pembangkit yang tetap melayani jaringan publik. Model ini menempatkan kebutuhan energi AI dalam konteks yang lebih luas: pertumbuhan komputasi perusahaan teknologi kini ikut mendorong investasi pada infrastruktur listrik yang harus beroperasi andal dalam jangka panjang.