← Beranda
Pakai VR Ternyata Bisa Picu Seseorang Mengalami Pengalaman Mistis, Studi Ungkap Alasannya
Mellyna Putri Diniar• Selasa, 6 Oktober 2026 | 18.56 WIB
Seseorang menggunakan headset virtual reality (VR) untuk menjelajahi lingkungan digital tiga dimensi (Psypost)

 

JawaPos.com - Headset virtual reality (VR) ternyata tidak hanya mampu membuat pengguna merasa berada di dunia digital. Studi terbaru menunjukkan, teknologi imersif ini juga dapat memicu pengalaman mistis yang biasanya dikaitkan dengan praktik spiritual mendalam atau penggunaan zat psikedelik.

Temuan itu berasal dari studi "Mystical Experiences in Virtual Reality 2: Fantasy Versus Realism and Psychophysiological Correlates" yang ditulis Rebekka Miller, Tallulah Nyland, dan Paul Frewen dari Western University. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Psychology of Consciousness: Theory, Research, and Practice. 

Melansir PsyPost, Senin (5/10/2026), pengalaman mistis dalam psikologi merujuk pada kondisi mental yang ditandai rasa menyatu dengan keberadaan tertentu, perubahan persepsi terhadap waktu dan ruang, serta emosi positif yang sangat kuat. Kondisi ini juga dapat membuat batas antara diri dan lingkungan terasa menghilang sehingga seseorang merasakan kesatuan dengan segala sesuatu.

Baca Juga: Startup Teknologi Kembangkan Virtual Meeting Berbasis VR

Para peneliti merekrut 80 orang dewasa muda. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Satu kelompok mengikuti panduan imajinasi fantastis, termasuk gambaran roh hewan yang muncul dari api unggun dan lubang hitam di langit. Kelompok lain menjalani meditasi pernapasan yang lebih realistis.

Keduanya menggunakan Nature Treks: Together, lingkungan virtual tiga dimensi yang menampilkan pulau, vegetasi, bebatuan, dan kehidupan laut. Peserta tampil sebagai sosok tanpa tubuh yang dapat bergerak dan menjelajahi lingkungan tersebut.

Setiap peserta menjalani pengalaman yang sama dua kali, sekali dengan headset VR dan sekali melalui monitor komputer dua dimensi. Selama eksperimen, peneliti merekam aktivitas listrik otak menggunakan elektroensefalografi (EEG), serta detak jantung dan variabilitas detak jantung.

Hasilnya mencolok. Sebanyak 28 persen peserta kelompok imajinasi dan 18 persen kelompok meditasi mengalami apa yang dikategorikan peneliti sebagai pengalaman mistis lengkap ketika menggunakan VR. Sebaliknya, tidak satu pun peserta mencapai ambang tersebut saat melihat pengalaman yang sama melalui monitor.

Pengalaman lengkap itu ditentukan berdasarkan empat aspek, yakni rasa menyatu, perubahan persepsi waktu dan ruang, suasana hati positif yang intens, serta kesulitan menggambarkan pengalaman dengan kata-kata.

VR juga menghasilkan skor lebih tinggi untuk rasa takjub, ketenangan, ketertarikan, keindahan, serta rasa hadir secara fisik dan temporal di lingkungan digital. Sebaliknya, penggunaan monitor lebih banyak dikaitkan dengan kebosanan dan kelelahan.

Data fisiologis mendukung temuan subjektif tersebut. Aktivitas gelombang otak meningkat pada frekuensi theta, alfa, beta, dan gamma selama penggunaan VR. Detak jantung juga lebih tinggi, sementara variabilitas detak jantung menurun pada bagian kedua sesi VR.

Menariknya, hampir tidak ada perbedaan berarti antara pengalaman fantastis dan meditasi realistis. Ini mengindikasikan bahwa tingkat imersi VR mungkin lebih menentukan daripada unsur fantasi dalam konten.

Baca Juga: Ini 7 Tips Memanfaatkan Virtual Reality untuk Pembelajaran Jarak Jauh yang Lebih Interaktif dan Efektif

Peneliti menyimpulkan bahwa "imajinasi fantastis maupun meditasi dalam VR dapat menjadi dua cara untuk memicu pengalaman mistis pada sebagian orang dewasa muda."

Meski demikian, hasil tersebut belum membuktikan bahwa VR secara pasti dapat menghasilkan pengalaman mistis. Lingkungan meditasi yang disebut realistis tetap dinilai sangat seperti mimpi dan surreal karena peserta seolah melayang sebagai sosok tanpa tubuh. Gerakan kepala dan tubuh saat menggunakan VR juga berpotensi menimbulkan gangguan pada data EEG.

Selain itu, peserta menjalani pengalaman yang sama dua kali sehingga efek kejutan dapat berkurang. Penelitian berikutnya perlu menguji pengalaman pertama pengguna serta melibatkan peserta dengan latar belakang spiritual dan budaya yang lebih beragam. 

EDITOR: Candra Mega Sari