← Beranda
Penipuan Digital Makin Canggih, Ponsel Jadi Celah yang Sering Diabaikan
Rian Alfianto• Jumat, 9 Oktober 2026 | 18.42 WIB
Jumpa pers Bitdefender di Jakarta, Kamis (8/10). (Rian/JawaPos.com)

JawaPos.com - Penipuan digital semakin sulit dikenali seiring pelaku kejahatan siber memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat pesan, situs, hingga skenario rekayasa sosial yang lebih meyakinkan. Di Indonesia, persoalan ini menjadi perhatian karena 66 persen orang dewasa dilaporkan pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Anti Scam Alliance yang menunjukkan tingginya paparan masyarakat Indonesia terhadap berbagai modus penipuan digital. Ancaman tidak hanya menyasar komputer, tetapi juga perangkat mobile yang kini digunakan untuk aktivitas sensitif, mulai dari perbankan hingga belanja online.

Ironisnya, masih banyak pengguna yang belum memasang perlindungan keamanan tambahan di perangkat mereka. Survei terhadap 7.000 konsumen secara global menunjukkan hampir separuh responden atau 48 persen tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga di ponsel. 

Baca Juga: Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda

Padahal, 53 persen di antaranya menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif seperti pembayaran tagihan dan transaksi belanja.

Kondisi ini menunjukkan adanya celah antara tingginya ketergantungan masyarakat terhadap perangkat digital dan kesadaran untuk melindunginya.

AI Membuat Modus Penipuan Semakin Meyakinkan

Perkembangan AI membuat pelaku kejahatan siber memiliki lebih banyak cara untuk menjalankan serangan dalam skala besar. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat komunikasi palsu yang lebih meyakinkan, menyusun serangan rekayasa sosial, hingga membantu penyebaran malware.

“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” ujar Ciprian Istrate, Senior Vice President of Operations, Bitdefender Consumer Solutions Group di jumpa pers di Jakarta, Kamis (8/10) sore.

Risiko tersebut semakin relevan karena aktivitas digital masyarakat kini tidak lagi terbatas pada komputer. Ponsel telah menjadi perangkat utama untuk berkomunikasi, mengakses layanan keuangan, berbelanja, menyimpan data pribadi, hingga mengakses berbagai layanan digital.

Ketika satu perangkat digunakan untuk begitu banyak aktivitas, kompromi terhadap perangkat atau akun dapat membawa konsekuensi yang lebih luas, termasuk pencurian data pribadi, identitas, maupun akses ke akun penting.

Indonesia Jadi Pasar dengan Paparan Penipuan Tinggi

Tingginya angka korban penipuan di Indonesia menjadi gambaran bahwa persoalan keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan serangan teknis. Faktor manusia, seperti kemampuan mengenali pesan palsu dan membedakan komunikasi asli dengan rekayasa sosial, juga menjadi bagian penting.

Secara global, survei yang sama mencatat satu dari tujuh orang menjadi korban penipuan dalam periode satu tahun terakhir.

Artinya, ancaman tersebut telah menjadi persoalan yang semakin dekat dengan aktivitas digital sehari-hari. Modusnya pun dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari phishing, penipuan transaksi, pencurian identitas, hingga manipulasi berbasis rekayasa sosial.

Perkembangan teknologi AI berpotensi membuat batas antara komunikasi asli dan palsu semakin sulit dikenali oleh pengguna biasa.

Melihat perubahan pola ancaman tersebut, perlindungan konsumen kini berkembang dari sekadar mendeteksi malware. Sistem keamanan juga mulai mencakup perlindungan identitas, privasi, anti-penipuan, hingga pendeteksian konten manipulatif seperti deepfake.

Dalam konteks ini, Bitdefender dan Gema Informatika Abadi (PT GIA) mengumumkan kerja sama distribusi eksklusif untuk menghadirkan portofolio keamanan konsumen Bitdefender di Indonesia.

PT GIA akan mendistribusikan produk keamanan konsumen tersebut melalui jaringan reseller di berbagai wilayah Indonesia. Portofolionya mencakup perlindungan untuk komputer dan perangkat mobile, identitas, privasi, anti-scam, serta teknologi pendeteksi deepfake.

“Konsumen saat ini melakukan aktivitas perbankan, berbelanja, dan tetap terhubung dengan teman secara online, sehingga perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting,” ujar Chok, Direktur PT GIA dalam kesempatan yang sama.

Kerja sama tersebut mencakup paket perlindungan untuk individu maupun keluarga. Fokusnya tidak hanya pada malware, tetapi juga ancaman yang berkaitan dengan phishing, penipuan online, pencurian identitas, dan aktivitas digital lainnya.

Kebiasaan Digital Tetap Menjadi Lapisan Pertahanan Pertama

Meski perangkat keamanan dapat membantu mengurangi risiko, pengguna tetap menjadi salah satu lapisan pertahanan terpenting. Banyak serangan bermula dari tindakan sederhana, seperti membuka tautan mencurigakan, memberikan kode OTP, memasukkan data ke situs palsu, atau mempercayai pesan yang tampak berasal dari pihak resmi.

Karena itu, peningkatan kemampuan mendeteksi modus penipuan menjadi semakin penting, terutama ketika AI memungkinkan pelaku membuat serangan yang lebih personal dan meyakinkan.

Ciprian mengatakan kerja sama tersebut juga diarahkan pada peningkatan perhatian terhadap keamanan berbasis AI dan perlindungan anti-penipuan.

Bagi pengguna, persoalan utamanya bukan sekadar memilih aplikasi keamanan. Yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa ponsel kini menjadi pusat berbagai aktivitas pribadi dan finansial.

Semakin banyak data dan transaksi yang dilakukan melalui satu perangkat, semakin besar pula konsekuensi jika perangkat atau akun tersebut berhasil ditembus. Di tengah berkembangnya penipuan berbasis AI, keamanan digital akhirnya tidak lagi menjadi persoalan teknis semata, tetapi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah