← Beranda
Pemulihan Desa Adat Sade: Membangun Kembali Ekonomi dan Pariwisata
Rian Alfianto• Senin, 12 Oktober 2026 | 00.55 WIB
Dua petarung pria (pepade) membawakan tarian khas Suku Sasak, Tari Peresean, laksana bertarung (perang) menggunakan rotan sebagai senjata dan perisai kulit (ende), di Desa Wisata Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Estu Suryowati/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Pemulihan Desa Adat Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilakukan dengan membangun kembali rumah adat dan sejumlah fasilitas publik yang terdampak kebakaran. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan aktivitas pariwisata sekaligus mengembalikan mata pencaharian warga yang bergantung pada kunjungan wisatawan.

Kebakaran yang melanda kawasan wisata budaya masyarakat Sasak tersebut sempat mengganggu aktivitas pariwisata dan kegiatan ekonomi warga. Sejumlah fasilitas yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus mendukung kegiatan wisata perlu dibangun kembali agar desa adat itu dapat kembali beraktivitas.

Dalam proses pemulihan, pembangunan mencakup empat unit rumah adat, gapura desa, balai pertemuan, serta pusat ibadah masyarakat. Infrastruktur tersebut tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan permukiman, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Pemulihan fasilitas di Desa Adat Sade menjadi penting karena aktivitas ekonomi warga berkaitan erat dengan sektor pariwisata. Pengrajin tenun, pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga pengelola homestay bergantung pada kegiatan wisata yang berlangsung di desa tersebut.

Ketika kunjungan wisata terganggu akibat bencana, pendapatan kelompok masyarakat tersebut ikut berisiko terdampak. Karena itu, pemulihan tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki bangunan yang rusak, tetapi juga perlu memastikan warga dapat kembali menjalankan usaha dan memperoleh penghasilan.

Pemulihan Desa Sade Tak Cukup dengan Membangun Rumah

Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pemulihan Desa Adat Sade perlu diarahkan pada keberlanjutan ekonomi masyarakat, bukan hanya perbaikan fisik pasca kebakaran.

“Membangkitkan Desa Sade bukan sekadar merenovasi bangunan, melainkan menghidupkan kembali rantai ekonomi warga. Pariwisata halal yang beretika harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat setempat,” kata Anggoro.

Menurut dia, aktivitas pariwisata perlu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lokal. Wisatawan yang datang diharapkan tidak hanya menikmati kekayaan budaya Sasak, tetapi juga turut menggerakkan perekonomian warga melalui pembelian produk lokal dan penggunaan jasa masyarakat.

“Ketika wisatawan berkunjung, rezeki harus mengalir langsung ke para penenun, pedagang, dan pelaku UMKM lokal. BSI ingin memastikan budaya Sasak tetap terjaga sekaligus menjadi pilar kemandirian ekonomi warga Sade,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan pemulihan ekonomi sebagai bagian penting dari penanganan dampak bencana. Bagi desa wisata berbasis budaya, keberlanjutan penghasilan masyarakat juga berkaitan dengan kemampuan mereka menjaga tradisi dan mempertahankan aktivitas sosial yang menjadi daya tarik kawasan.

Infrastruktur dan Mata Pencaharian Warga Jadi Perhatian

Pembangunan kembali fasilitas desa dilakukan melalui program bertajuk Satu Benang untuk Sade, dengan dukungan sinergi bersama Danantara Indonesia.
Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memulihkan fasilitas yang terdampak sekaligus mendukung kesiapan Desa Adat Sade menerima kembali wisatawan domestik maupun mancanegara.

Keberadaan rumah adat, balai pertemuan, dan fasilitas ibadah memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menunjang kegiatan wisata. Fasilitas tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dipulihkan agar aktivitas sosial dan budaya dapat berlangsung kembali.

Sementara itu, keberlanjutan sektor pariwisata turut menentukan peluang pemulihan usaha warga. Pengrajin tenun, misalnya, membutuhkan pasar untuk menjual produk mereka. Pedagang dan pelaku UMKM juga memerlukan arus kunjungan agar kegiatan usaha kembali berjalan.

Dengan demikian, pemulihan Desa Adat Sade berkaitan dengan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengembalikan fungsi fasilitas yang terdampak kebakaran dan menghidupkan kembali kegiatan ekonomi masyarakat.

Desa Wisata Perlu Memiliki Ketahanan Pascabencana

Peristiwa kebakaran di Desa Adat Sade memperlihatkan kerentanan kawasan wisata yang menggantungkan penghasilan masyarakat pada aktivitas kunjungan. Ketika bencana mengganggu fasilitas dan kegiatan wisata, dampaknya dapat meluas hingga ke usaha-usaha kecil yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.

Karena itu, pemulihan pascabencana perlu memperhatikan keberlangsungan mata pencaharian warga serta upaya menjaga warisan budaya. Perbaikan fasilitas menjadi langkah awal, tetapi keberhasilan pemulihan juga bergantung pada kembalinya aktivitas usaha dan kemampuan masyarakat menghadapi risiko serupa pada masa mendatang.

Dalam program Satu Benang untuk Sade, dukungan pemulihan juga dibuka melalui BSI Maslahat dengan mengajak masyarakat berpartisipasi lewat donasi yang dapat diakses melalui aplikasi BYOND by BSI.

Namun, dalam jangka panjang, keberlanjutan Desa Adat Sade tidak hanya ditentukan oleh pembangunan kembali fasilitas yang rusak. Kembalinya aktivitas wisata, terbukanya pasar bagi produk lokal, serta terjaganya kehidupan budaya masyarakat menjadi bagian penting agar warga dapat kembali mengandalkan sektor pariwisata sebagai sumber penghidupan.

EDITOR: Estu Suryowati