JawaPos.com - Wisatawan Indonesia yang ingin bepergian ke Vietnam memiliki pilihan penerbangan langsung dari Jakarta dan Bali menuju Hanoi serta Ho Chi Minh City.
Koneksi ini memudahkan perjalanan ke dua kota utama Vietnam tanpa perlu transit di negara lain.
Hanoi dan Ho Chi Minh City juga dapat menjadi pintu masuk untuk melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi lain di Vietnam.
Dari ibu kota Vietnam, wisatawan bisa menjangkau kawasan utara seperti Ha Long Bay, Ninh Binh, dan Sapa.
Sementara dari Ho Chi Minh City, perjalanan dapat diteruskan menuju kawasan selatan seperti Delta Mekong atau destinasi pantai di sekitarnya.
Bagi wisatawan yang berangkat dari Indonesia, pilihan penerbangan langsung dari Jakarta maupun Bali membuat Vietnam relatif mudah dimasukkan ke dalam rencana liburan singkat maupun perjalanan lintas destinasi di Asia.
Jakarta dan Bali Jadi Titik Keberangkatan
Jakarta dan Bali saat ini menjadi dua titik keberangkatan dari Indonesia untuk penerbangan langsung menuju Vietnam. Rute tersebut menghubungkan Indonesia dengan Hanoi dan Ho Chi Minh City.
Hanoi merupakan pusat pemerintahan sekaligus salah satu kota bersejarah di Vietnam.
Kawasan kota tua, bangunan peninggalan sejarah, kuliner lokal, hingga akses menuju sejumlah destinasi di Vietnam bagian utara menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Sementara itu, Ho Chi Minh City menawarkan karakter kota yang berbeda. Kota terbesar di Vietnam tersebut dikenal dengan kawasan perkotaan yang ramai, bangunan bersejarah, pusat kuliner, serta akses menuju sejumlah tujuan wisata di wilayah selatan.
Dua kota tersebut dapat dipilih sesuai rencana perjalanan. Wisatawan yang ingin menjelajahi Vietnam bagian utara bisa menjadikan Hanoi sebagai titik awal.
Sebaliknya, Ho Chi Minh City dapat menjadi pilihan untuk perjalanan ke kawasan selatan.
Bisa Jadi Pilihan untuk Perjalanan ke Vietnam
Ketersediaan rute langsung juga membuat perjalanan ke Vietnam tidak hanya relevan bagi wisatawan yang ingin menghabiskan liburan di satu kota.
Wisatawan dapat menyusun perjalanan dengan pola open-jaw, misalnya masuk melalui Hanoi dan kembali dari Ho Chi Minh City, atau sebaliknya, jika jadwal dan harga tiket memungkinkan.
Cara tersebut dapat mengurangi kebutuhan untuk kembali ke kota awal sebelum terbang pulang. Namun, wisatawan tetap perlu memperhatikan jadwal penerbangan, bagasi, durasi perjalanan darat atau penerbangan domestik, serta aturan perjalanan yang berlaku.
Vietnam sendiri memiliki jaringan destinasi yang cukup beragam, mulai dari kota bersejarah, kawasan pegunungan, pantai, hingga pusat kuliner. Karena itu, pemilihan kota kedatangan sebaiknya disesuaikan dengan destinasi yang ingin dikunjungi.
Jaringan Penerbangan Terus Diperluas
Perluasan konektivitas Vietnam juga berlangsung di luar rute Indonesia. Pada paruh pertama 2026, Vietjet menyebut telah mengangkut lebih dari 13,4 juta penumpang dalam sekitar 72.000 penerbangan.
Jaringan yang dilayani mencapai 213 rute, terdiri dari 46 rute domestik dan 167 rute internasional. Maskapai tersebut juga membuka sejumlah rute baru menuju Jepang, Filipina, Sri Lanka, Tiongkok, Kazakhstan, hingga Republik Ceko.
Dua rute internasional dari Hanoi, yakni Hanoi–Almaty dan Hanoi–Prague, dijadwalkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.
Perluasan tersebut menunjukkan semakin terbukanya konektivitas dari Vietnam menuju sejumlah kota di luar kawasan Asia Tenggara.
Bagi wisatawan Indonesia, perkembangan jaringan ini memberikan kemungkinan untuk menjadikan Vietnam bukan sekadar tujuan akhir, tetapi juga bagian dari perjalanan yang menghubungkan beberapa negara.
Di tengah perluasan jaringan tersebut, Vietjet meraih gelar 'Asia’s Leading Airline Brand 2026' dalam ajang World Travel Awards di Maladewa.
CEO Vietjet, Nguyen Thanh Son, mengatakan maskapainya tengah memasuki fase pertumbuhan baru dengan memperluas pilihan produk dan layanan.
“Kami berkomitmen membangun Vietjet sebagai maskapai yang tidak hanya menghubungkan lebih banyak destinasi, tetapi juga menghadirkan nilai yang lebih besar, pengalaman yang lebih kaya, serta berbagai kemungkinan baru bagi penumpang di seluruh dunia,” kata Nguyen Thanh Son melalui keterangannya.
Menurut data Brand Finance yang dikutip Vietjet, nilai merek maskapai tersebut meningkat 117 persen menjadi USD 906 juta pada 2026.
Vietjet juga menyebut telah memesan lebih dari 600 pesawat Airbus dan Boeing untuk mendukung rencana ekspansi jangka panjangnya.