Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Desember 2022 | 01.39 WIB

Akhir Abad 18, Biji Kopi Sempat Bernilai Tinggi di Minangkabau

ILUSTRASI: Biji kopi di Toko Kopi Sari Murni, Jatinegara, Jakarta Timur. - Image

ILUSTRASI: Biji kopi di Toko Kopi Sari Murni, Jatinegara, Jakarta Timur.

JawaPos.com - Indonesia merupakan salah satu negara penghasil biji kopi terbesar di tingkat internasional. Hampir setiap daerah dikenal dengan biji kopinya, termasuk di Sumatera Barat (Sumbar). Biji kopi ini sempat menjadi sumber ekonomi masyarakat pada masa silam.

Menurut sejarawan Univerasitas Andalas (Unand) Padang Gusti Asnan, masyarakat Minangkabau dulunya tidak menganggap tanaman kopi sebagai komoditas yang bernilai tinggi. Sebelum abad 18, masyarakat Minangkabau lebih banyak menikmati minuman kopi dari daunnya. Bukan dari biji kopi.

Setelah abad ke-18, datang saudagar dari Amerika. Mereka membeli biji kopi dari Minangkabau. Kala itu mereka mencari varites arabika. Karena, biji kopi arabika di tanah Minangkabau dikenal sangat bagus dan enak. Mereka membeli biji kopi dengan harga sangat layak untuk dibawa ke negara mereka.

"Setelah kedatangan saudagar itu, berbondong-bondonglah orang Minang menanam kopi dan menjual kopinya," ujar Gusti Asnan kepada JawaPos.com, Selasa (13/12).

Pandangan Gusti Asnan soal kopi ini juga dikupas dalam bukunya berjudul Dunia Maritim pantai barat Sumatera. Buku itu terbit pada 2007.

Itu kondisi kopi di Minangkabau pada masa lampau.  Pada masa kini, di Sumatera Barat lebih banyak terdapat kopi varites robusta. "Kopi arabika di Sumbar tidak banyak lagi karena dulu sempat ada hama. Arabika tidak kuat terhadap hama itu. Sehingga itulah yang menyebabkan kini kopi arabika sangat jarang dan kini robusta lebih banyak," sambung Gusti Asnan.

Dari literatur lain, Christine Dobbin dalam dalam (Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri; Minangkabau 1784-1847) menyatakan, di Minangkabau sistem tanam paksa kopi mulai diberlakukan sekitar 1834. Pemerintah Hindia Belanda memulai usahanya untuk mendapatkan kopi Minangkabau dengan menggunakan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dan konsep ‘harga terlindung’. Karena wilayah Minangkabau belum ditaklukkan seutuhnya kala itu, usaha tersebut gagal pada 1839.

Pendapat tentang mahsyurnya kekayaan alam Minangkabau juga diaminkan oleh Ketua DPRD Sumbar Supardi. Dia mengatakan, kopi ikut mengubah sejarah Minangkabau. Dari kopi, perekonomian penduduk Minangkabau sebelum kolonial membaik. "Para alim ulama berkali-kali naik haji karena perkebunan kopi hampir tumbuh di setiap sudut Sumatera Barat,” ujar Supardi dalam pembukaan Festival Keragaman Kopi.

Adapun Festival Keragaman Kopi baru saja digelar di Kota Payakumbuh. Tepatnya di Agamjua Art and Culture Cafe pada Sabtu (10/12) hingga Selasa (13/12). Festival tersebut menghadirkan para barista pemula se-Sumatera Barat untuk unjuk kebolehan. Event itu juga menggelar workshop terkait pengolahan kopi.

Yoga Pratama, salah seorang peserta workshop mengatakan, saat ini kopi robusta lebih dominan di Sumbar. Varian itu lebih banyak diolah dan dicampur dengan susu dan gula. Seperti yang dikenal dengan kopi susu gula aren dan kopi susu kekinian lainnya. "Robusta ini kadar kafein lebih tinggi, sehingga dicampur dengan susu atau gula," ujar Yoga Pratama.

Mukhtar Dahari, salah seorang barista yang mengikuti Festival Keragaman Kopi mengatakan, dengan event tersebut membuat pelaku usaha kopi semakin luwes bersinergi dengan petani. Setidaknya sinergi untuk mendapatkan biji kopi kualitas terbaik.

"Kami bisa menikmati proses, mengetahui kendala dari industri kopi dari hulu ke hilir. Semoga kopi dari Sumbar semakin dikenal di Nusantara dan dunia," pungkasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore