
Suasana lengang di Jalan Gunung Rinjani, Denpasar saat H+3 Lebaran 2026 akibat banyak pedagang mudik. (Radar Bali)
JawaPos.com — Memasuki H+3 Lebaran 2026, wajah Kota Denpasar tampak berbeda dari hari-hari biasanya. Denyut ekonomi di sejumlah titik keramaian justru melambat, menghadirkan suasana lengang yang jarang terlihat.
Kondisi ini menjadi pemandangan kontras di tengah euforia Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Saat daerah lain dipadati aktivitas silaturahmi dan wisata, sebagian sudut ibu kota Bali justru terasa sepi.
Salah satu potret nyata terlihat di kawasan Jalan Gunung Rinjani pada Senin (23/3/2026). Kawasan yang biasanya padat oleh aktivitas pedagang dan pembeli kini tampak lengang tanpa hiruk pikuk.
Baca Juga:Wajib Borong Sebelum Pulang! 5 Oleh-Oleh Khas Gresik Ini Jadi Buruan Pemudik Arus Balik Lebaran 2026
Jalan yang identik dengan kemacetan itu mendadak longgar tanpa antrean kendaraan. Situasi ini memberi kesan seperti kota yang sedang beristirahat dari rutinitasnya.
Sepinya kawasan tersebut tak lepas dari fenomena mudik tahunan yang selalu terjadi setiap Lebaran. Mayoritas pelaku usaha kecil di Denpasar diketahui merupakan perantau dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka berasal dari Pulau Jawa hingga wilayah lain seperti Sumatra dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat Lebaran tiba, para perantau ini pulang ke kampung halaman untuk merayakan hari besar bersama keluarga.
Dampaknya, roda ekonomi sektor informal di Denpasar ikut melambat secara signifikan. Aktivitas jual beli yang biasanya ramai mendadak berkurang drastis.
Warung makan, kios kecil, hingga pedagang kaki lima banyak yang tutup sementara. Hal ini membuat suasana kota terasa lebih tenang dibanding hari-hari biasa.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru bagi Denpasar. Setiap tahun, pola serupa selalu terjadi saat momen Lebaran tiba.
Namun, kondisi tahun ini terasa lebih mencolok karena hampir seluruh titik perdagangan kecil ikut terdampak. Tidak hanya satu dua kawasan, tetapi merata di berbagai sudut kota.
Ketergantungan Denpasar terhadap sektor informal dari para pendatang menjadi salah satu faktor utama. Ketika para pelaku usaha ini mudik, aktivitas ekonomi pun ikut “libur”.
Di sisi lain, masyarakat lokal yang tidak mudik cenderung mengurangi aktivitas konsumsi. Mereka lebih memilih menikmati suasana Lebaran dengan keluarga di rumah.
Kondisi ini membuat perputaran uang di tingkat mikro menjadi melambat. Dampaknya langsung terasa pada pedagang yang tetap bertahan berjualan.
