
BELUM SELESAI: Bangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan dalam proses pembangunan. Namun, unit KDMP sudah berjalan sejak 2025 dengan menyewa bangunan milik desa. (Rizal F. Syatori/Jawa Ppos Radar Bromo)
JawaPos.com - Pengalihan 58,03 persen dana desa (DD) untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) berdasarkan PMK 7/2026 senilai Rp 34,57 triliun mulai berdampak di lapangan. Kebijakan itu memicu polemik di tingkat desa, karena berdampak pada program pembangunan yang sudah direncanakan.
Di sejumlah wilayah, terutama desa di pelosok dataran tinggi, KDMP dinilai kurang relevan dibanding kebutuhan infrastruktur untuk mendukung distribusi hasil kebun. Seperti yang terjadi di Tiris, Kabupaten Probolinggo.
Sekretaris Desa (Sekdes) Tiris Husen Mansyur mengatakan, program KDMP memiliki dampak positif dan negatif. Yang paling dirasakan, adalah pengurangan dana desa yang seharusnya dimanfaatkan untuk membangun desa.
“Dana Desa yang dialihkan sejatinya telah direncanakan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga kegiatan sosial masyarakat. Pengalihan ini berdampak langsung pada program seperti jalan desa, TPT, irigasi, dan bangunan fisik lain yang sebelumnya disepakati dalam musyawarah desa,” terangnya.
Kondisi itu membuat pemerintah desa terbatas dalam bergerak karena anggaran tersisa harus disesuaikan. Padahal, kepala desa memiliki kontrak politik dengan masyarakat untuk menghadirkan pembangunan dan kesejahteraan.
Husen mencontohkan, sebelumnya desa bisa membangun dua hingga tiga proyek fisik per tahun. Namun kini, hanya proyek yang bersifat mendesak yang bisa dijalankan.
“Banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa anggaran dialihkan. Paling kelihatan proyek pembangunan fisik. Sementara pembangunan fisik sudah direncanakan secara bergiliran. Tetap yang jadi kambing hitam adalah pemerintah desa,” tuturnya.
Ia menilai KDMP lebih memungkinkan berjalan di desa yang ramai dan strategis, sementara di wilayah pelosok berpotensi tidak efektif. Warga di desa terpencil lebih memilih pembangunan infrastruktur dibanding gerai koperasi. Sebab, infrastruktur dinilai lebih berdampak pada ekonomi.
Karena itu, Husen menyarankan agar program ini diuji terlebih dahulu melalui pilot project di desa yang dianggap potensial sebelum diterapkan luas. Jika evaluasinya positif, memungkinkan diterapkan pada desa lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Borneo FC vs Persija Jakarta: Macan Kemayoran Menang Tipis di Samarinda
Prediksi Skor Lyon vs Auxerre di Liga Prancis: Les Gones Berpeluang Menang Telak di Groupama!
Prediksi Skor Newcastle United vs Bournemouth di Liga Inggris: The Magpies Tak Ingin Malu di Kandang
Prediksi Skor Hoffenheim vs Borussia Dortmund di Liga Jerman: Kans Die Borussen Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Bhayangkara FC vs Persebaya Surabaya: Green Force Diprediksi Menang Tipis di Lampung
Prediksi Arema FC vs Isenmulang Kalteng FC: Singo Edan Diprediksi Menang di Kanjuruhan
Santri Cilik Tegur Bacaan Alquran Nusron Wahid: Ayat Alquran Jangan Diacak-acak!
Prediksi Skor Werder Bremen vs RB Leipzig di Liga Jerman: Die Bullen Bisa Gondol 3 Poin
Prediksi Skor Brentford vs Sunderland di Liga Inggris: The Bees Berpeluang Gasak Tim Tamu!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
