
Menteri Lingkungan Hidup (LH)/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat di Acara Acara Wisuda Universitas Muhammadyah Sumatera Utara (UMSU) Periode 2026, di Medan, Sumut, Selasa pagi, 27 Oktober 2026. (Istimewa)
JawaPos.com - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/ Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Republik Indonesia, Moh Jumhur Hidayat, melontarkan kritik tajam terhadap kebiasaan organisasi dan lembaga dalam mengukur keberhasilan program sosial dan lingkungan.
Menurut Menteri Jumhur, kesibukan menyelenggarakan seminar, membagikan bantuan darurat, atau menanam ribuan bibit pohon sering kali berhenti pada angka-angka di atas kertas, tanpa menyentuh perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Hal itu disampaikan Menteri Jumhur di hadapan pimpinan, cendekiawan, dan ribuan kader muda Muhammadiyah dalam Kuliah Umum bertajuk Generasi Muda dan Muhammadiyah: Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi untuk Rakyat, dari Teologi Al-Ma'un Menuju Kepemimpinan Sosial, Keadilan Ekologis, dan Transformasi Berbasis Dampak, di Acara Acara Wisuda Universitas Muhammadyah Sumatera Utara (UMSU) Periode 2026, di Medan, Sumut, Selasa (27/10).
Baca Juga:Bandara Tjilik Riwut Belum Normal Meski Jarak Pandang Sudah 1 Km, Kini Tunggu Kesiapan Maskapai
Dalam kuliah umumnya, Menteri Jumhur memaparkan makna Teologi Al-Ma'un di era modern. Menteri Jumhur mengajak audiens membayangkan sebuah realitas sosial yang kerap terjadi: sebuah sungai penuh sampah mendadak viral di media sosial, memicu ribuan komentar keprihatinan dan warganet yang membagikan pesan dukungan.
Namun pada saat yang sama, warga sekitar sungai tersebut tetap harus bergelut dengan air tercemar, anak-anak terganggu sekolahnya akibat banjir, dan pedagang kecil kehilangan mata pencaharian.
"Kepedulian sudah hadir. Tetapi kehidupan rakyat belum tentu berubah," kata Menteri Jumhur.
Menteri Jumhur mengingatkan kembali esensi Teologi Al-Ma'un yang diwariskan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Semangat keberpihakan kepada kaum dhuafa tidak boleh berhenti pada amal karitatif jangka pendek, melainkan harus bertransformasi menjadi pemberdayaan struktural.
Jumhur mencontohkan, menyelenggarakan seratus pelatihan usaha adalah sebuah capaian kegiatan. Namun, hal itu belum membuktikan pemberdayaan jika belum ada jawaban atas pertanyaan mendasar: apakah pendapatan keluarga meningkat, dan apakah usaha tersebut bertahan setelah setahun?
Pada kesempatan itu, Menteri Jumhur juga memaparkan Konsep "Tobat Ekologis" dan Evaluasi Berbasis Dampak. Dalam isu lingkungan, Menteri Jumhur menyoroti kerusakan alam selalu berdampak langsung pada keadilan sosial. Mulai dari ancaman kesehatan keluarga, hilangnya jam belajar anak akibat banjir berulang, hingga runtuhnya sumber penghidupan warga kecil.
Untuk menjembatani kesadaran ekologis dan aksi nyata, Menteri Jumhur mengusulkan kerangka kerja "Tobat Ekologis" yang mencakup lima langkah sistematis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Beberkan Kronologi Digerebek Petarung MMA: Ditendang dan Didengkul Ulu Hati
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
Kembali Lakukan Mutasi, Kapolri Suyudi Ganti 264 Pati dan Pamen Polri
Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Bayern Munchen: Alex Baena Ingin Tim Tamu Kesulitan
Prediksi Galatasaray vs Stuttgart: Tuan Rumah Punya Modal Bagus,tetapi Tim Tamu Siap Beri Perlawanan
Prediksi Skor Jeonbuk Motors vs Johor Darul Takzim FC, Duel Ketat di AFC Champions League Elite
Usai Digeruduk Rombongan Petarung MMA, Herri Pras Sempat Dievakuasi di Polsek Gunung Putri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022