Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Agustus 2023 | 22.02 WIB

Kontributor Kuat Perekonomian di ASEAN Dipegang Segmen Kelas Atas yang Belum Teridentifikasi

Chairman of Hakuhodo International Indonesia Irfan Ramli usai menyampaikan hasil riset terbaru bertajuk “Emerging Affluent: Discovering the Invisible Class in ASEAN. - Image

Chairman of Hakuhodo International Indonesia Irfan Ramli usai menyampaikan hasil riset terbaru bertajuk “Emerging Affluent: Discovering the Invisible Class in ASEAN.

JawaPos.com - Hakuhodo Institute of Life and Living ASEAN (HILL ASEAN), institusi yang berada di bawah naungan perusahaan periklanan asal Jepang, Hakuhodo Inc., mengumumkan hasil temuan dari riset terbarunya, Rabu (2/8). Riset itu berjudul Emerging Affluent: Discovering the Invisible Class in ASEAN melalui Forum HILL ASEAN ke-9 yang diselenggarakan secara luring di Soehanna Hall, SCBD Jakarta.

Riset Hakuhodo menyebutkan kalau perekonomian ASEAN berkembang secara signifikan dibandingkan perekonomian di tingkat global. Hal itu memberikan dampak positif pada tingkat kesejahteraan kelas menengah di ASEAN. Mereka memiliki potensi menjadi pendorong yang kuat bagi pasar konsumen ASEAN.

Lebih jauh, ternyata ada masyarakat kelas menengah yang sedang dalam proses naik menjadi kelas atas dengan kekuatan finansial yang lebih tinggi. “Istilah Emerging Affluent kami pakai untuk menyebut segmen masyarakat kelas atas di studi ini. Penelitian kami terkait sei-katsu-sha ASEAN juga mengungkap cerita menarik,'' ujar Director of Hakuhodo International Indonesia & Institute Director HILL ASEAN Devi Attamimi.

Devi mengatakan, individu di negara ASEAN yang masuk dalam segmen tersebut memiliki tekad dan dorongan yang kuat. Tujuannya, untuk meningkatkan pendapatan dan status sosial ekonomi mereka."Meski tiap individu dalam kelompok ini berbeda satu sama lain dalam hal gaya hidup, perilaku konsumsi, preferensi terhadap merek, serta nilai yang dipercaya, namun para individu yang rendah hati ini sangat bersemangat untuk mencapai stabilitas dalam hidup,” terangnya.

Hasil temuan HILL ASEAN mengungkap empat karakteristik sei-katsu-sha ASEAN yang termasuk dalam profil Emerging Affluent. Pertama, terkait latar belakang. Memiliki motif kuat untuk menjadi individu yang lebih sejahtera, dengan tekad dan dorongan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Mereka Percaya pada konsep bahwa upaya bukanlah satu-satunya hal yang menentukan, namun selalu ada yang membantu dari berbagai sumber. Termasuk, pertolongan Tuhan dan kuasa semesta (an invisible hand) hingga mereka bisa mencapai status kehidupan saat ini. Perspektif ini membuat mereka tetap realistis dan rendah hati.

Yang kedua, terkait dengan sikap terhadap kehidupan. Strategis dalam berpikir dan berperilaku, serta memiliki rencana hidup yang realistis secara jangka panjang. Mencari stabilitas dan membangun aset kehidupan secara horizontal.

Mereka memilih sikap sebagai runner-up untuk mengurangi tekanan tuntutan terhadap diri sendiri, dan sebaliknya memaksimalkan potensi terbaik sesuai kecepatan dan kemampuan diri sendiri. Tidak menjalani gaya hidup yang berlebihan. Menghindari perhatian yang tidak diinginkan, atau yang berpotensi mengalihkan mereka dari tujuan.

Yang ketiga, perilaku konsumen. Ini didak melulu keputusan belanja berdasarkan citra merek, lebih memprioritaskan manfaat fungsionalnya. Bijak menggunakan merek sebagai social passports untuk membantu memperkuat status dan kepercayaan orang lain terhadap diri mereka.

Umumnya enggan berbelanja secara royal, namun akan membelanjakan uang untuk keluarga. Memiliki kemampuan yang mengesankan dalam mengumpulkan dan menggunakan informasi dengan terampil.

Yang keempat, pola pendekatan terhadap media. Mereka yang berada di kelas atas terampil dalam mengumpulkan informasi. Khususnya yang terkait dengan keuangan. Lantas, membaginya dengan orang lain. Dapat disebut sebagai humble braggers yang tidak segan berbagi pengetahuan dengan keluarga mereka di media sosial.

Devi menambahkan, ada tiga kata kunci yang menggambarkan ASEAN Emerging Affluent adalah pola pikir yang strategis, mengutamakan stabilitas hidup, dan tetap rendah hati walau ambisius. Terkait fakta tersebut, HILL ASEAN menciptakan istilah bagi kelompok ini, yaitu Omni-mizers. "Itu adalah para Emerging Affluent yang secara sistematis memperkuat berbagai fondasi kehidupannya untuk memastikan stabilitas, umur panjang, dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Penelitian yang dilakukan dengan metode survei kualitatif dan kuantitatif itu dilakukan di enam negara ASEAN dan Jepang. Menganalisis lebih dalam terkait sikap dan perilaku masyarakat yang masuk dalam segmen emerging affluent atau kelas atas. Hasil riset dapat menjadi indikator berbasis fakta yang menciptakan perspektif baru dalam membantu strategi pemasaran dari produk-produk konsumen di negara ASEAN.

Hal ini sejalan dengan misi dan komitmen HILL ASEAN untuk selalu mendukung aktivitas perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hakuhodo International Indonesia dan Hakuhodo di seluruh dunia menjalankan usahanya dengan melandaskan diri pada filosofi ‘sei-katsu-sha’.

“Filosofi ini memandang konsumen dengan perspektif 360 derajat. Lebih dari sekedar pembeli yang melakukan fungsi ekonomi, namun sebagai individu secara holistik yang memiliki gaya hidup, mimpi dan aspirasi berbeda-beda serta menikmati hidup saat ini,'' ujar Chairman of Hakuhodo International Indonesia Irfan Ramli.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore