Pedagang baju bekas impor di Pasar Senen. (Royyan/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pemerintah menyiapkan terobosan baru dalam penanganan balpres atau baju bekas impor ilegal. Alih-alih dimusnahkan dengan cara dibakar, saat ini Kementerian Keuangan menggandeng Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) untuk mencacah dan disiapkan sebagai bahan baku industri bagi UMKM.
Langkah tersebut dipilih Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa karena praktik pemusnahan selama ini justru menimbulkan beban biaya besar bagi negara.
“Kan saya selalu komplain itu balpres, saya tangkap barangnya, orangnya nggak bisa didenda, terus saya mesti memusnahkan barangnya, itu mahal tuh satu kontainer itu sekitar 12 juta kalau nggak salah. Rugi, abis itu masih makan orang yang ditahan, rugi besar kita. Jadi mau kita ubah,” tegas Purbaya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (14/11).
Itu sebabnya, pemerintah menggandeng AGTI guna mencari solusi agar balpres tidak sekadar dibakar tanpa nilai tambah. Dari pembahasan itu, muncul opsi untuk mencacah ulang seluruh baju bekas impor ilegal menjadi material industri.
Adapun nantinya material tersebut kan dijual dengan harga lebih murah kepada para UMKM pelaku industri tekstil di tanah air. Bahkan, Purbaya juga memastikan bahwa solusi tersebut sudah direstui oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi kita berpikir-pikir gimana mencari masalah itu. Jadi kita ngomong sama AGTI bertanya, ini juga atas arahan presiden, ini mesti dimanfaatkan, jangan dibakar begitu saja,” jelas Purbaya.
“Kita pikir-pikir gimana, apa boleh nggak kita cacah ulang? Boleh. Jadi kita ketemu dengan AGTI, menawarkan bisa nggak mereka mencacah ulang balpres itu. Nanti sebagian mereka pakai, sebagian dijual ke UMKM dengan harga murah,” tambahnya.
Menurutnya, beberapa pelaku industri tekstil sudah siap terlibat dalam proses pemanfaatan kembali barang sitaan tersebut. Berdasarkan rencana, pencacahan baju bekas impor ilegal akan mulai dieksekusi pada pekan depan.
Dengan skema ini, seluruh balpres yang menumpuk di gudang-gudang Bea Cukai akan segera dikeluarkan untuk diolah. Adapun nantinya bisa digunakan menjadi bahan baku, salah satunya dalam bentuk benang.
“Mereka mau, ada beberapa pengusaha yang udah siap, minggu depan diskusi dengan mereka ya. Jadi langsung ketuk palu, langsung jalan,” katanya.
“Jadi yang di gudang-gudang itu dikeluarin semuanya, tempatnya juga kosong. Jadi itu bisa dipakai untuk bahan baku industri kan, dalam bentuk benang dan lain-lain. Nanti UMKM akan bisa memakai sebagai bahan dengan biaya yang lebih murah,” tuturnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
