Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2026 | 15.57 WIB

Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen, Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini

 

Ilustrasi: Proses pengajuan kredit perbankan. (Istimewa).

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Senin (24/8), setelah sebelummya ditutup menguat 54 poin menjadi Rp 17.694 per dollar AS pada perdagangan Jumat (21/8).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.

"Untuk perdagangan (24/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.640-Rp 17.700," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (24/8).

Ibrahim mengatakan, sentimen positif bagi rupiah datang dari masih solidnya pertumbuhan kredit perbankan nasional. Kredit perbankan Indonesia pada Juli 2026 tercatat tumbuh 13,58 persen secara tahunan (year-on-year), meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,67 persen pada Juni 2026.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan penyaluran kredit masih tetap kuat meskipun dunia usaha cenderung mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kinerja positif sektor perbankan juga didukung oleh kondisi likuiditas dan permodalan yang kuat. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan berada pada level tinggi sebesar 23,70 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap terjaga rendah di kisaran 2,09 persen secara bruto.

Ibrahim menilai kondisi tersebut memperlihatkan pertumbuhan kredit tidak semata-mata bergantung pada peningkatan minat pinjaman dari dunia usaha. Pertumbuhan juga ditopang oleh insentif likuiditas serta kebijakan makroprudensial Bank Indonesia (BI) yang tetap akomodatif.

Namun, terdapat sejumlah sentimen yang perlu diwaspadai pasar, salah satunya pelebaran defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan sebesar US$12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau setara 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya yang sebesar US$3,6 miliar atau 1,0 persen terhadap PDB.

Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Salah satunya adalah meningkatnya defisit neraca perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia.

Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah akibat peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sementara surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I-2026.

Sentimen lain yang turut menjadi perhatian adalah kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat fenomena El Niño. Fenomena iklim tersebut berpotensi menurunkan produksi pertanian akibat kekeringan berkepanjangan.

Editor: Kuswandi
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore