
COVER BUKU
Henrique Schneider menjawab tantangan atas novel realis yang kerap terjebak pada jabaran kejayaan atau penderitaan yang jargonistik.
BILA sepak bola adalah agama di Brasil dan mendukung timnas adalah tiangnya, tokoh Raul dalam novela 1970 sudah murtad. Saat 96 juta warga Brasil sedang kemrungsung menanti gelar Piala Dunia ketiga mereka, bahkan untuk sekadar ikut-ikutan bersorak di tengah kerumunan nonton bareng (nobar) saja berat bagi dia.
Bagaimana bisa bersorak kalau dua puluh jam sebelumnya, Raul pingsan karena disiksa. Yang jadi soal, pelakunya adalah mereka yang sama dengan yang mengurus sepak bola: pemerintah.
Sepak Bola + Politik
Novela yang terbit kali pertama di Brasil pada 2019 ini dibagi menjadi 22 bab singkat. Masing-masing ditandai tanggal, tempat, dan keterangan sudut pandang –khas prosa bertempo cepat.
Henrique Schneider, pengarangnya, membuka cerita dengan Raul yang dibuang macam kucing liar di jalanan sambil bingung karena para penculiknya ngoceh melulu soal ”Pertandingan”. Itu terjadi setelah sembilan hari penyiksaan atas tuduhan mematikan: komunis.
Sekilas, elemen sepak bola hanya tempelan. Secara jumlah, bab yang bertitimangsa hari H final Piala Dunia hanya lima –tidak sampai seperempat buku. Bahkan, cuma tiga di antaranya yang benar-benar berlatar nobar di bar.
Gladhys, penerjemahnya dari bahasa Portugis, mewanti-wanti agar jangan tertipu sampul; bahwa novela ini bukan (cuma) tentang sepak bola. Memang, sampul versi Marjin Kiri tampak menekankan aspek kulit bundar dengan menyitir logo Piala Dunia 1970 Meksiko yang diwarnai Auriverde (Emas-Hijau) –warna kebanggaan Brasil.
Pun tanpa sampul itu, sejatinya sepak bolalah yang sedari awal membuat kisah tapol (salah tangkap pula!) dari Henrique ini pantas dibaca dan dibeli. Sebab, ada sudut cerita yang segar di sana. Ini bukan semata roman sepak bola macam komik Tsubasa atau ode untuk tapol seperti novel Laut Bercerita. 1970 adalah keduanya; ketika politik dan sepak bola bukan minyak dan air.
Teror yang Sublim
Ketika saya katakan 1970 sebagai novel (kekerasan) politik cum sepak bola, jangan dibayangkan yang ”besar-besar”. Ini bukan tentang noraknya Jenderal Medici menggatukkan kejayaan timnas dengan kesuksesan mengurus negara. Jangan juga berharap romansa perjuangan pesepak bola prorakyat macam Socrates di tahun ’80-an.
Betapa pun keduanya nyaris selalu jadi tema utama tulisan-tulisan sepak bola dan politik militer Brasil, Henrique tidak tergoda untuk menjajal formula generik ini. Buktinya, sang presiden dalam 1970 hanya disebut sepintas. Pula, tidak ada omongan soal intrik politik di tubuh timnas. Hanya sekali ketika si sipir menuding eks pelatih timnas Brasil, Saldanha, sebagai komunis.
Inilah yang saya bilang kesegaran. Henrique menjawab tantangan atas novel realis yang kerap terjebak pada jabaran kejayaan atau penderitaan yang jargonistik. Sebaliknya, halaman demi halaman kita bakal disajikan pergulatan emosi tokoh dan ironi-ironi sosial yang sublim.
Ketika melukiskan teror, Henrique membuatnya nyelip dan justru karena itulah dia semakin horor. Simak percakapan yang canggung dan tarikan ketegangan ketika si sipir mendapati Raul hanya bengong, sementara dia berjingkrak kesetanan sejak sepak mula pertandingan:
”Kamu tidak bersorak?”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Isenmulang Kalteng vs Persebaya di Super League, Green Force Berpeluang Curi Tiga Poin
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain Persik vs Madura United: Reina Siapkan Strategi Terbaik
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Suahasil Buka Suara soal Pembagian Tugas Tiga Wamenkeu, Ini Fokusnya!
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang
Adhyaksa FC Bekasi Vs PSGC Ciamis: Misi Bangkit Tuan Rumah

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022