
Karyawan melintas didekat layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/3/2020). IHSG ditutup melemah 1,68% di level 5361,24 setelah sempat menghijau sebelum penutupan perdagangan sesi I.FOTO:MIFTAHULHAY
JawaPos.com – Nilai tukar rupiah menembus Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat (USD) kemarin (17/3). Tepatnya di angka Rp 15.187,50. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ambles dengan finis di zona merah.
Analis pasar modal Hans Kwee menilai pandemi virus korona baru (Covid-19) menjadi penyebab. Banyak investor asing yang menarik diri dari pasar modal dan lebih memilih safe haven untuk menyimpan aset.
’’Kita tidak bisa mencegah (investor, Red) asing keluar. Mengingat, jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di dalam negeri juga meningkat,’’ kata Hans kepada Jawa Pos kemarin.
Wajar, lanjutnya, jika kemudian kondisi pasar modal dan keuangan tanah air terpukul. Sejak perdagangan pasar modal dibuka, IHSG terkoreksi 61 poin atau 1,3 persen di posisi 4.629. Indeks LQ45 melemah 14 poin (1,9 persen) ke posisi 717. Pada pukul 15.02, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat memberhentikan perdagangan sementara (trading halt). Sebab, IHSG terpantau merosot 5 persen ke posisi 4.456. Hingga penutupan, IHSG finis di 4.456,75 atau turun 233,91 poin.
Menurut Hans, untuk menyelamatkan pasar modal Indonesia, dibutuhkan peran investor lokal. Diharapkan, mereka tidak ikut-ikutan latah menjual saham. Yang harus dilakukan adalah tetap tenang. Seharusnya momentum saat ini dimanfaatkan untuk belanja saham. Memetakan emiten yang memiliki kinerja cemerlang untuk membeli saham mereka.
’’Ketika nanti harganya kembali naik, saham bisa dijual. Pengalaman saya di setiap krisis selalu mendatangkan keuntungan,’’ ungkap pria yang juga menjabat direktur PT Anugerah Mega Investama tersebut.
Sementara itu, ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi kondisi pelemahan rupiah saat ini berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Prediksi itu didasarkan pada beberapa kondisi yang terus memicu sentimen negatif.
Bhima menyebut kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang kembali menerapkan program quantitative easing (QE) sebagai salah satu faktor pemicu pelemahan nilai tukar. Sebagaimana diketahui, AS kembali menerapkan QE senilai USD 700 miliar. QE adalah kebijakan moneter nonkonvensional yang dipakai bank sentral untuk mencegah penurunan suplai uang saat kebijakan moneter standar mulai tidak efektif.
"Nah, QE ini dilakukan ketika kondisi mendekati resesi. Ini nggak beresnya di situ. Jadi, kondisi ini persis seperti (krisis) 2008–2009, kondisi yang sedang nggak bagus," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Zidane Ingin Menang di Stade de France
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Koordinator BEM UI Diserang OTK di Tebet Jaksel, Sempat Diancam Bunuh
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022