JawaPos Radar | Iklan Jitu

CORE Prediksi Pertumbuahn Ekonomi Tahun Depan 5,1-5,2 Persen

21 November 2018, 17:29:53 WIB | Editor: Teguh Jiwa Brata
CORE Prediksi Pertumbuahn Ekonomi Tahun Depan 5,1-5,2 Persen
Ilustrasi (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia meramalkan tahun 2019 pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1-5,2 persen. Lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi pemerintah dalam Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) 2019 5,3 persen.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut, target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen yang dipatok pemerintah untuk 2019 secara realistis masih sulit tercapai. 

"Kami berkeyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019 masih berada pada rentang 5,1 persen hingga 5,2 persen atau kurang lebih sama dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2018," ujarnya di graha CIMB Niaga Jakarta, Rabu (21/11).

Faisal mengaku, belanja pemerintah, memang dapat digenjot untuk tumbuh lebih tinggi, namun dua sumber pertumbuhan yang lain yakni investasi dan net ekspor masih mengalami tekanan. Sementara konsumsi rumah tangga yang menjadi penyumbang terbesar PDB kemungkinan besar juga masih sulit tumbuh lebih dari 5,1 persen.

Pihaknya sendiri memang memprediksikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi domestik, masih bertahan pada level 5 persen di 2019. 

Faisal menambahkan, sejumlah kebijakan pemerintah yang bertujuan mendorong peningkatan pendapatan dan daya beli diprediksi dapat menjaga tingkat konsumsi masyarakat antara lain rencana kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN) dan premi jaminan sosial bagi ASN, TNI, dan POLRI, peningkatan bantuan sosial untuk rakyat miskin, serta kenaikan upah minimum.

Ditambah, lanjutnya, pemilihan presiden tahun depan diharapkan juga ikut mendorong konsumsi swasta. Alokasi belanja bantuan sosial sendiri meningkat 26,7 persen pada APBN 2019, setelah pada APBN 2018 meningkat 42,6 persen.

"Walaupun secara parsial efek dari masing-masing kebijakan tersebut terhadap keseluruhan konsumsi rumah tangga tidak terlalu besar, secara simultan tetap berpotensi memiliki daya dorong signfikan terhadap konsumsi rumah tangga di tahun depan," tuturnya.

Mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di dalam negeri, kata dia, menjadi krusial untuk mencegah terkereknya inflasi dan melemahnya daya beli khususnya bagi masyarakat golongan menengah ke bawah. 

Selain itu, upaya stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia juga perlu dilakukan secara cermat untuk menjaga optimisme konsumen dan pelaku usaha di dalam negeri.

(hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up