
Masyarakat Kelurahan Sri Mulya, Sematang Borang, Palembang memanfaatkan lahan rawa untuk budidaya lele dimana setiap kolam mampu menghasilkan lele siap panen berkisar 200-400kg.
JawaPos.com – Budidaya lele merupakan pilihan tepat menjadikan rawa lebih produktif. Dikenal memiliki ketahanan tubuh yang kuat, ikan ini mampu berkembang di lahan dengan tingkat keasaman cukup tinggi. Bahkan dengan pengelolaan yang tepat, panen bisa dilakukan 10 hari sekali.
Seperti dilakukan masyarakat Kelurahan Sri Mulya, Sematang Borang, Palembang yang banyak membudidayakan lele. “Sangat potensial, kebanyakan lahannya juga rawa jadi banyak memanfaatkan kolam rawa, kebutuhan lele Palembang kan masih kurang,” ujar Rachman Chorib Penyuluh Perikanan.
Rachman menambahkan, lele dipilih pula karena cara budidayanya yang mudah dan siklus panen yang singkat. “Pembudidaya 10 hari pasti sortir, ada yg sudah bisa dipanen ada yang belum, nah nanti 10 hari lagi sortir langsung panen lagi,” imbuhnya.
Cara budidayanya adalah dalam satu kolam rawa yang luas dibagi menjadi beberapa petakan kolam waring. Waring tersebut diikat menggunakan kayu gelam dan dibiarkan mengambang di air. Dengan kata lain, tidak sampai menyentuh dasar tanah.
Kemudian penebaran benih dilakukan pada kolam waring pertama terlebih dahulu. Untuk ukuran 3x5m, benih yang ditebar berukuran 3-5cm sebanyak 3-5 ribu ekor. Setelah 1 bulan dibesarkan, benih dibagi ke 3 kolam waring sesuai pengelompokan ukurannya. Waring 1 untuk benih yang masih berukuran 3-5cm (kecil), waring 2 untuk benih 4-6cm (sedang), dan waring 3 untuk benih 5-7cm (besar).
Photo
Pembudidaya di Kelurahan Sri Mulya, Sematang Borang, Palembang memanen ikan lele yang dikembangkan di lahan rawa. (LPMUKP untuk JawaPos.com)
Setelah 2,5 bulan, lele disortir dan yang memenuhi ukuran akan dipanen. Sementara yang masih kecil dibesarkan kembali. Umumnya pembeli mencari lele isi 7-8 ekor per kilogram, namun ada juga yang meminta 10 ekor. Dalam 1 kali masa panen untuk 1 lokasi kolam rawa yang terdiri dari beberapa waring perolehannya berkisar 200-400kg.
“Per kilo harga di pembudidaya Rp 19.000, lumayan bisa dibilang tinggi,” terang Rochman.
Dengan adanya sistim tersebut panen dapat dilakukan secara kontinu. Pendapatanpun diperoleh secara berkelanjutan. Begitu pula ketersediaan lele akan selalu ada. Dalam satu tahun, total produksi di Sri Mulya mencapai 180-250 ton dengan nilai Rp3,240-4,5 miliyar.
Capaian produksi lele tersebut sebenarnya bisa ditingkatkan lagi. Luasan kolam rawa masih tersedia dan belum semua termanfaatkan. Namun sayangnya biaya untuk merapikannya termasuk ongkos tenaga tidaklah sedikit. Bukan hanya itu, ketika kolam sudah jadi, modal tambahan juga diperlukan mengadakan benih lele.
Guna memenuhi permodalan para pembudidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyediakan fasilitas dana bergulir melalui satuan kerjanya, yakni Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) sehingga berbagai kebutuhan usaha dapat dipenuhi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe: Duel Tim Papan Bawah Sulit Diprediksi
Prediksi Skor Skotlandia vs Slovenia di UEFA Nations League: Duel Sengit Rawan Imbang
Prediksi Skor Rusia vs Nigeria: Tuan Rumah On Fire, Super Eagles Kehilangan Banyak Pemain
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Skor Belarusia vs Finlandia di UEFA Nations League: Huuhkajat Menang Tipis di Budapest
Alasan Ole Romeny Selebrasi Bawa Jersey Marselino saat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Prediksi Skor Luksemburg vs Bulgaria di UEFA Nations League: The Lions Jemawa Bisa Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022