Menteri Kelautan dan Perikanan atau Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono. (Istimewa)
JawaPos.com - Menteri Kelautan dan Perikanan atau Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan alasannya untuk melanjutkan studi di Program Doktor Oseanografi di bawah Program Studi Doktor Sains Kebumian, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Salah satu alasannya, karena background pendidikannya yang berasal dari Teknik Industri. Sementara bidang kelautan dan perikanan yang saat ini ia geluti amat sangat syarat dengan keilmuan.
"Karena background saya industrial engineering, jadi kalau bikin bisnis, saya jago gitu. Tapi kalau sudah mulai bicara tentang kelautan perikanan, syarat dengan keilmuan. Nggak ngerti, saya enggak kuliah di situ," kata Menteri KKP belum lama ini.
Dia menyebut, dalam pendidikan Oseanografi yang tengah dijalani, ia sangat serius menggeluti dan belajar tentang ekologi di laut.
"Itulah kenapa kemudian saya ngambil sekolah. Kalau tadi dibocorin, saya ambil doktoral bidang itu, saya belajar serius tentang Oceanography, saya belajar serius tentang ekologi di laut," tambahnya.
Bukan tanpa alasan, ketertarikannya pada ekologi laut sejalan dengan pesan yang disampaikan di dalam kitab suci yang dianutnya. Di mana, kata dia, dalam dalam Arum:41 mengatakan ketika laut sudah mulai rusak, disitulah kehancuran dunia.
"Saya tahu persis bahwa udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanaman yang hidup di darat, itu semua berasal dari laut. Betapa itu adalah sebuah siklus ekosistem alam. Daya dukung dunia ya cuma segini. Laut jawa segini, dunia ya segini, tidak pernah bertambah," jelasnya.
Di sisi lain, kata dia, populasi masyarakat duni akan terus bertambah. Bahkan hingga saat ini populasinya telah tercatat mencapai 7,7 miliar orang di dunia.
Ia menilai, ketika populasi dunia terus bertambah, maka akan berdampak pada ketersediaan ekologi karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi atau kebutuhan umat manusia.
"Itulah yang mendasari, jadi satu tahun saya belajar, saya keliling ke seluruh dunia, bagaimana mengelola laut yang baik. Itu yang terjadi," pungkasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
