
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah. Berdasarkan pantauan kurs di Google pada Senin (18/5) pukul 11.40 WIB, satu dolar AS tercatat setara Rp17.671. Kondisi ini dinilai menjadi perhatian serius.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M Rizal Taufikurahman, mengatakan, pelemahan rupiah terhadap dolar bukan lagi sekadar gejolak harian, melainkan mencerminkan tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang berada pada fase risk-off terhadap emerging markets, termasuk Indonesia. Apalagi di tengah tingginya ketidakpastian global, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.
"Penyebab paling dominan saat ini masih berasal dari faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, dan lonjakan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik. Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi otomatis meningkatkan kebutuhan impor dan permintaan dolar AS," kata Rizal kepada Jawapos.com, Senin (18/5).
Di sisi lain, lanjut Rizal, faktor domestik juga ikut memperberat tekanan, mulai dari kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, kebutuhan pembiayaan utang yang besar, hingga persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
"Jadi tekanan rupiah saat ini bukan hanya karena dolar kuat, tetapi juga karena premi risiko Indonesia ikut meningkat," tambahnya.
Meski Bank Indonesia (BI) sudah melakukan berbagai intervensi melalui pasar spot, DNDF, dan stabilisasi pasar obligasi, menurut Rizal stabilitas nilai tukar tak bisa hanya mengandalkan intervensi moneter saja tetapi juga harus melihat kondisi fiskal.
"Pasar saat ini juga melihat konsistensi fiskal, kredibilitas kebijakan, dan kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan investor. Karena itu, penguatan koordinasi fiskal dan moneter menjadi sangat penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam," terangnya.
Baca Juga:Rupiah Senin Pagi kembali Melemah, Sentuh Rp 17.630 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Berlanjut
Pria yang juga berprofesi sebagai Dosen itu memprediksi, ke depan, tren pergerakan rupiah masih akan cenderung volatile dalam jangka pendek. "Saya melihat ruang pergerakan rupiah masih berada di kisaran Rp17.500–17.900 per dolar AS dalam beberapa waktu ke depan," katanya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
