Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Mei 2026 | 16.37 WIB

Rupiah Terus Tertekan, Proyeksi BI Rate Dipersimpangan Antara Tetap atau Naik

Ilustrasi penukaran uang di sebuah money changer - Image

Ilustrasi penukaran uang di sebuah money changer

JawaPos.com - Para ekonom menyampaikan pandangan berbeda mengenai arah BI-Rate antara tetap pada level 4,75 persen atau naik ke level 5 persen, menghadapi nilai tukar rupiah yang terus melemah dan mencapai titik terendahnya sepanjang sejarah pada level Rp17.600-an per dolar AS.

Pada hari ini atau Rabu (20/5) siang, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan kebijakan suku bunga dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2026.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, memandang bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5 persen layak untuk dilakukan bank sentral dalam kondisi saat ini.

Meski kenaikan suku bunga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit, ia menilai prioritas utama Bank Indonesia (BI) saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah.

Indonesia tercatat mengalami capital outflow sebesar 15 juta dolar AS dari pasar saham pada 15 April-12 Mei serta outflow 0,4 miliar dolar AS dari pasar SBN pada 15 April-8 Mei, sebelum kembali mencatat inflow sekitar 0,22 miliar dolar AS pada 11-12 Mei.

Riefky menyoroti fenomena flattening yield curve atau menyempitnya selisih yield SBN jangka panjang dan pendek yang mengindikasikan investor memandang risiko jangka pendek lebih tinggi sehingga arus keluar modal dari obligasi tenor pendek lebih besar dibanding tenor panjang.

Untuk menjaga pasokan valas dan menarik inflow, BI telah meningkatkan outstanding SRBI sekitar Rp214 triliun sepanjang 2026, sementara rata-rata tertimbang kupon SRBI naik menjadi 6,4 persen pada 13 Mei dari 5,89 persen pada pertengahan April dan 4,9 persen pada awal 2026.

Cadangan devisa juga tergerus lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir untuk menstabilkan rupiah. Namun, intervensi BI dinilai kurang efektif karena rupiah tetap terus melemah.

Riefky mengungkapkan, kinerja rupiah tergolong buruk dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya dengan pelemahan sebesar 5,50 persen secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) dan hanya lebih baik dibandingkan lira Turki dan rupee India.

Meski faktor eksternal jelas berperan dalam depresiasi rupiah sebagaimana dialami mata uang negara berkembang lain, ia mengingatkan bahwa faktor domestik juga memberi kontribusi besar terhadap pelemahan rupiah, salah satunya terkait kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal akibat rendahnya tax ratio.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore