Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Juli 2026 | 15.11 WIB

Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Hari Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan melemah pada perdagangan Selasa (21/7), setelah sebelummya ditutup menguat melemah 27 poin menjadi Rp 17.948 per dollar AS pada perdagangan Senin (20/7).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (21/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.940-Rp 18.000," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (21/7).

Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.

AS dan Iran saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam. Serangan baru tersebut terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya.

Militer AS dilaporkan memperluas sasaran serangan di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya. Pertempuran masih berfokus pada kendali Selat Hormuz. CENTCOM menyebut operasi terbarunya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut.

Di sisi lain, meski data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan ekonomi, pelaku pasar masih mencermati apakah kenaikan harga energi akan mempersulit upaya Federal Reserve menekan inflasi.

"Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi membuat inflasi tetap berada di atas target The Fed sehingga bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini umumnya akan menopang penguatan dolar AS," ujarnya.

Sementara itu, dari dalam negeri pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berpotensi berada di bawah level 5 persen akibat lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi domestik, meski investasi asing masih menunjukkan kinerja positif.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore