Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Agustus 2026 | 18.35 WIB

Menteri BUMN Era Megawati Laksamana Sukardi Soroti Defisit RAPBN 2027 dan Risiko Ekonomi

Laksamana Sukardi menjawab pertanyaan media setelah diperiksa oleh penyidik di Gedung KPK, Jakarta. (Dok. Jawa Pos) - Image

Laksamana Sukardi menjawab pertanyaan media setelah diperiksa oleh penyidik di Gedung KPK, Jakarta. (Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri BUMN Era Presiden Megawati Soekarnoputri, Laksamana Sukardi, menyoroti target pemerintah tentang defisit 2,4 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Laksamana Sukardi menilai defisit 2,4 persen di APBN terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi tantangan tersendiri untuk dicapai. Walaupun keputusan itu memang patut diapresiasi.

Namun, kekuatan target itu tetap bergantung pada asumsi makro ekonomi yang digunakan pemerintah, terutama pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen.

Menurut dia, APBN bukan sekadar kumpulan angka melainkan cerminan dari sikap pemerintah dalam melihat masa depan, menghadapi risiko, hingga menentukan pihak yang harus menanggung beban ketika uang negara terbatas.

“APBN adalah cermin sikap pemerintah, seberapa optimistis melihat masa depan, seberapa hati-hati menghadapi risiko, dan siapa yang akhirnya harus menanggung beban ketika uang negara terbatas,” ujar Sukardi, dikutip Minggu (23/8).

Diketahui, pemerintah dalam RAPBN 2027 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen; inflasi 2,5 persen; nilai tukar rata-rata Rp 17.500 per dolar AS; harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD 75 per barel; serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun sebesar 6,9 persen; dan defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB.

Dia mengingatkan, defisit dalam RAPBN 2027 tidaklah berdiri sendiri, melainkan beriringan dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen.

Bila pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari target, PDB sebagai pembagi dalam perhitungan defisit tidak akan tumbuh sebesar rencana. Maka, akan membuat penerimaan negara berpotensi mengalami tekanan.

“Defisit 2,4 persen terlihat meyakinkan, tetapi kekuatannya ikut bergantung pada tercapainya pertumbuhan yang diasumsikan. Karena itu anggaran negara seharusnya tidak hanya dinilai ketika semua asumsi berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore