
Pekerja menyembelih ayam potong di Rumah Potong Hewan (RPH) UD Budi Berkah di Pasar Peterongan,kota Semarang, Jawa Tengah. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
JawaPos.com - Komoditas daging ayam ras sepanjang September dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menyumbang andil terhadap inflasi nasional.
Ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan permintaan daging ayam ras didorong oleh kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah dan juga faktor harga pakan ternak.
Sebagai antisipasi fluktuasi harga yang berlebihan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bakal menyiapkan subsidi biaya angkut dari daerah produsen ke daerah yang bukan produsen daging ayam ras yang mengalami fluktuasi harga.
"Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang," terang Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan di Jakarta dikutip pada Sabtu (3/10).
Menurut Hermawan, salah satu kendala yang kerap dihadapi pemerintah daerah dalam upaya stabilisasi harga pangan pokok strategis adalah adanya biaya angkut distribusi dari luar daerahnya. Apalagi jika daerah tersebut bukan daerah sentra produsen.
"(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada," kata Hermawan lagi.
Mengenai perkembangan harga daging ayam sampai saat ini, dalam pemantauan harga Bapanas, per 2 Oktober rerata harga secara nasional berada di Rp 40.961 per kilogram (kg). Ini sebenarnya telah terjadi penurunan 0,62 persen terhadap seminggu sebelumnya yang Rp 41.218 per kg dan menurun 0,82 persen terhadap sebulan sebelumnya yang Rp 41.300 per kg.
Untuk diketahui, komoditas daging ayam ras sempat jatuh pada April 2026 dengan mencatatkan deflasi hingga 6,20 persen. Bulan selanjutnya pada Mei 2026 juga kembali deflasi di angka 3,83 persen. Dampak deflasi tentu saja sangat mempengaruhi peternak unggas dalam negeri.
Selain itu, berdasarkan data BPS, indeks harga yang diterima petani unggas mulai menurun setelah Maret 2026 sempat bertengger sangat tinggi di 138,19. Namun April 2026 turun ke 132,22. Mei 2026 kembali turun ke 130,57. Juni dan Juli 2026 masing-masing turun ke 127,23 dan 127,02. Terakhir pada Agustus dan September 2026 kembali menguat menjadi 132,43 dan 134,99.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022