
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira saat ikut aksi protes di depan Kantor BGN, Jakarta, Rabu (10/6). (Dok Dimas Choirul/JawaPos.com)
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai terdapat dua faktor yang membuat Morgan Stanley Capital International (MSCI) berniat untuk menurunkan status pasar saham di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, pada Jumat (16/10) santer terdengar MSCI baru saja merilis laporan terbaru yang membuka peluang Indonesia turun dari status. Dari semula sebagai pasar negara berkembang atau emerging market menjadi pasar mandiri atau standalone market.
“Pertama soal akuisisi saham Bayan yang dianggap tidak transparan dan terindikasi melibatkan kredit agunan saham ke Bank Mandiri. Artinya ada afiliasi antar pemain di bursa saham, sementara gelap nih transaksinya,” ujar Bhima kepada JawaPos.com pada Minggu (18/10).
Bhima mengatakan faktor kedua adalah rencana Danantara beli saham BEI paska demutualisasi bursa timbul kekhawatiran soal independensi pengawasan bursa. “Pasti ada konflik kepentingan disitu. Pemain dan wasit jadi tercampur. Padahal harusnya kan terpisah,” ujarnya.
Bhima berujar rencana Danantara menjadi penstabil pasar (market stabilizer) juga berisiko mengurangi kapasitas investasi langsung yang mampu menyerap tenaga kerja. Menurutnya, investasi di pasar saham berbeda dengan investasi langsung yang dapat mendorong pembangunan pabrik dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian.
“Kalau masuk ke bursa saham, apa ada jaminan ditranslasi ke pembuatan pabrik misalnya? Kan beda investasi portofolio dengan investasi langsung untuk ciptakan efek berganda ke ekonomi,” jelasnya. Ia juga menilai, langkah Danantara masuk ke pasar saham berpotensi tidak menyelesaikan persoalan mendasar yang menyebabkan investor asing menarik dananya dari Indonesia.
Menurut Bhima, persoalan kepercayaan investor perlu ditangani agar arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik. “Selain itu risiko Danantara hanya menggarami air laut. Masalah keluarnya dana asing dari saham karena isu kepercayaan, maka aksi Danantara tidak memperbaiki ekspektasi apa pun,” ungkapnya.
Bhima menilai, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian serius karena bobot Indonesia dalam indeks saham global mengalami penurunan tajam. Ia menyebut, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen.
Artinya, porsi relatif Indonesia dalam indeks tersebut menyusut sekitar 63 persen. Kondisi itu berpotensi mengurangi alokasi dana investor global ke pasar saham Indonesia, khususnya investor yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Monza vs Cagliari di Liga Italia: Tim Tamu Punya Catatan Impresif di Laga Tandang
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City: Menang Tipis, De Zerbi Akhiri Tren Buruk
Prediksi Skor Trabzonspor Vs Besiktas di Liga Turki: Salah Cs Punya Rekor Kandang Impresif
UU Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Said Iqbal: Kalau Ciptaker Sembarangan
Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano: Emil Audero Bantu El Rayo Perpanjang Kutukan 10 Laga!
Persebaya Berangkat ke Makassar Besok! Tavares Siap Tantang Mantan Tim PSM
Prediksi Skor Al Fayha vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: Ivan Toney Siap Menggila di Al Majma’ah
Prediksi Skor Parma vs Torino: Kans Il Toro Tundukkan Tuan Rumah di Stadio Ennio Tardini!
Prediksi Tottenham vs Coventry: Spurs Belum Menang dalam Enam Laga, Coventry Percaya Diri
Prediksi Skor Monza vs Cagliari: Rossoblù Menang Tipis, Rekor Berusia 61 Tahun Terancam Pecah!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022