JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pengamat: Grab yang Memulai Perang Tarif

07 Desember 2018, 18:21:57 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Pengamat: Grab yang Memulai Perang Tarif
mitra driver Gojek (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Perang tarif yang terjadi di bisnis transportasi online saat ini merupakan akibat dari ulah Grab menerapkan tarif sangat rendah ke konsumen dan strategi banjir promo. Perusahaan ride-hailing asal Malaysia ini memang sempat menggencarkan promo tarif Rp 1 demi menjaring pengguna dan menantang Gojek di pasar Indonesia.

"Grab punya andil sebagai yang memulai perang tarif ini. Jadi, tidak bisa lepas tangan begitu saja. Kenaikan angka pengguna Grab sangat dipengaruhi oleh tarif yang terlampau murah dan banjir promo," kata pengamat transportasi dari ICT Institute Heru Sutadi, di Jakarta, Jumat (7/12).

Sampai akhirnya Gojek merespon tindakan Grab tersebut dengan ikut melakukan penyesuaian tarif dan memberikan promo. Bagi Heru, tindakan Gojek merupakan hal yang wajar terjadi dalam urusan persaingan bisnis. "Kalau Gojek melakukan penyesuaian tarif, itu karena Grab melakukan hal tersebut terlebih dahulu. Wajar saja, jadi tak perlu ada kritik," katanya.

Dalam persaingan ini, kata Heru, tarif yang kompetitif cuma merupakan satu dari tiga komponen upaya menjaring lebih banyak pengguna. Masih ada dua komponen penentu lainnya, yaitu layanan berkualitas dan kelengkapan layanan dalam satu aplikasi. Ketiga aspek ini saling berkaitan erat dalam upaya menggaet konsumen lebih banyak lagi.

Hanya, strategi penerapan tarif murah untuk konsumen juga harus tetap memperhatikan kesejahteraan mitra pengemudi sebagai pilar di bisnis ini. Jangan sampai mitra pengemudi malah menjadi pihak yang paling rugi. "Harus ada jaminan kesejahteraan. Selama ini, kita melihat investasi ke Grab cukup besar, tapi seperti tidak menetes ke pengemudinya. Makanya sampai terjadi demo dan migrasi pengemudi," kata Heru.

Fenomena migrasi mitra pengemudi Grab ke Gojek sangat dipengaruhi oleh persoalan kemampuan perusahaan memberikan kenyamanan dan jaminan kesejahteraan. Menurut Heru, selain soal tarif dan insentif untuk mitra pengemudi Grab terlampau rendah, layanan Gojek jauh lebih banyak dan populer guna membantu mendongkrak pendapatan lebih layak.

"Kita semua tahu, popularitas Go-Food dan Go-Send, serta skema top up Go-Pay sebagai opsi tambahan pendapatan, belum bisa disaingi oleh Grab. Ini jelas menjadi daya tarik untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih layak," ujar Heru.

Sebelumnya, Managing Director Grab Indonesia Rizki Kramadibrata mengkritik penyesuaian tarif yang dilakukan oleh Gojek. VP Corporate Affairs Gojek Michael Say merespon kritik tersebut dengan menyatakan bahwa penyesuaian dilakukan justru demi mengikuti kondisi pasar dan menjamin daya saing mitra pengemudi.

Pada kenyataannya, tarif yang diterima mitra pengemudi Gojek saat ini justru masih lebih tinggi daripada tarif Grab. Berdasarkan data perbandingan di lapangan, tarif yang diterima pengemudi Grab adalah Rp 1.200 per kilometer untuk perjalanan jarak dekat, sedangkan Gojek memberikan tarif Rp 1.600 per kilometer.

(srs/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up