Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Maret 2026 | 02.23 WIB

Harga Minyak Dunia Bergejolak, Indonesia Didesak Segera Bangun Cadangan Strategis

Ilustrasi kilang minyak. (FREEPIK) - Image

Ilustrasi kilang minyak. (FREEPIK)

JawaPos.com - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu gejolak harga minyak dunia yang semakin tak menentu. Kenaikan harga minyak mentah global tidak hanya berdampak pada negara produsen, tetapi juga menekan negara importir seperti Indonesia yang masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

Harga minyak global saat ini masih mengacu pada dua indeks utama, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Hingga Kamis (27/3) pagi, harga minyak WTI tercatat berada di level USD 93,2 per barel, turun dari posisi USD 98,5 per barel pada awal pekan.

Sementara itu, minyak Brent menyentuh USD 106 per barel. Secara rata-rata, harga minyak mengalami kenaikan signifikan sejak konflik memanas.

Sejumlah negara anggota International Energy Agency (IEA) telah merespons lonjakan harga dengan melepas cadangan minyak strategis ke pasar. Dari total sekitar 1,2 miliar barel cadangan strategis yang dimiliki, IEA bersama negara anggotanya sepakat menggelontorkan sekitar 400 juta barel guna meredam tekanan harga. Kebijakan ini turut diperkuat oleh langkah pelonggaran embargo minyak Rusia oleh AS serta peningkatan kuota produksi oleh negara-negara OPEC.

Namun demikian, efektivitas kebijakan tersebut masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika perang berkepanjangan dan blokade terhadap jalur distribusi energi terus terjadi, maka harga minyak berpotensi tetap tinggi. Apalagi, sekitar 20 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global yang kini berada dalam tekanan geopolitik.

Tak hanya itu, potensi perluasan konflik ke kawasan Laut Merah juga menjadi ancaman serius. Gangguan di jalur strategis seperti Bab el-Mandeb akan memaksa kapal tanker memutar jalur lebih jauh, meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi.

Laporan internasional menyebutkan, premi asuransi risiko perang dapat melonjak hingga jutaan dolar AS per kapal, yang pada akhirnya ikut mendorong kenaikan harga energi global.

Nikolaus Loy, Analis Kebijakan Energi, Jurusan Hubungan Internasional, UPN Veteran Yogyakarta, mengatakan, bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm serius.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore