
Kapal di Selat Hormuz, dekat Bandar Abbas, Iran. Penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak dunia, telah memicu krisis energi di sejumlah negara. (Al-Jazeera)
JawaPos.com - Penutupan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak dunia, telah memicu krisis energi di sejumlah negara. Singapura sebagai salah satu hub migas di kawasan Asia Tenggara terdampak parah. Namun, lebih dari Singapura, ternyata Spanyol terpukul lebih dalam.
Krisis di Selat Hormuz yang dipicu konflik Iran kembali memperlihatkan rapuhnya ketahanan energi negara-negara Asia. Gangguan distribusi energi global akibat penutupan jalur vital tersebut mendorong kebutuhan yang semakin mendesak untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.
Langkah ini dinilai penting bukan hanya untuk menekan dampak lonjakan harga energi dunia terhadap ekonomi domestik, tetapi juga untuk memperkuat keamanan energi dalam jangka panjang.
Dalam laporan terbaru Komisi Transisi Energi atau Energy Transitions Commission (ETC) berjudul Lessons on Energy Security after the Hormuz Crisis: How Accelerating the Clean Energy Transition Builds Resilience Against Future Price Shocks, disebutkan bahwa krisis kali ini berbeda dibandingkan krisis energi sebelumnya.
Sejumlah negara kini mulai memiliki kesiapan sistem energi alternatif yang lebih mudah diimplementasikan. ETC memperkirakan percepatan penggunaan energi alternatif berpotensi memangkas permintaan minyak dan gas global lebih dari 20 persen pada 2035.
Perbedaan dampak krisis terlihat jelas antarnegara. Spanyol, misalnya, yang sudah menggunakan energi terbarukan hingga 57 persen dalam sistem kelistrikannya, hanya mengalami kenaikan harga listrik sekitar USD 50 per megawatt-hour (MWh), terendah di Uni Eropa. Sebaliknya, Singapura yang sekitar 95 persen pembangkit listriknya masih bergantung pada gas mengalami tekanan harga lebih berat, yakni melampaui USD 200 per MWh.
“Krisis saat ini menunjukkan bahwa ketergantungan bahan bakar fosil tidak hanya merupakan risiko iklim tetapi juga kerentanan ekonomi dan strategis. Sistem energi bersih lebih terdistribusi, lebih efisien dan kurang terpapar guncangan harga yang diciptakan oleh ketergantungan terus menerus pada bahan bakar yang diperdagangkan,” kata Co-Chair ETC, Adair Turner dalam keterangannya.
ETC mencatat, dampak terbesar dari krisis energi saat ini dirasakan negara berkembang dan negara pengimpor energi. Penutupan Selat Hormuz menghambat distribusi sekitar 18,4 juta barel minyak per hari dan 110 miliar meter kubik LNG per hari. Dari total pasokan yang melewati jalur tersebut, sekitar 84 persen minyak mentah dan lebih dari 80 persen LNG ditujukan ke pasar Asia.
Akibat gangguan itu, harga minyak acuan Asia melonjak dari kisaran USD 70 per barel menjadi sekitar USD 90 hingga USD 120 per barel pada Maret. Harga LNG juga naik tajam dari sebelumnya sekitar USD 10–12 per MMBtu menjadi lebih dari USD25 per MMBtu.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Prediksi Skor Palermo vs Mantova di Coppa Italia: Rosanero Siap Libas Tim Tamu di Renzo Barbera
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Manajemen Buka Suara Usai Ikang Fawzi Dikabarkan Menikah Lagi
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
35 Santri Keracunan MBG Masih Dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo
Prediksi Skor Laos U-20 vs Timnas Indonesia U-20: Garuda Muda Berpeluang Pesta Gol!
Prediksi Sassuolo vs Frosinone di Coppa Italia 2026/2027: Jay Idzes Cs Menang Susah Payah
