Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Oktober 2026 | 21.45 WIB

Inkonsistensi Regulasi jadi Penghambat Utama Target Listrik Bersih Indonesia

Foto: Ilustrasi PLTS. (Istimewa) - Image

Foto: Ilustrasi PLTS. (Istimewa)

JawaPos.com - Tidak konsistenya regulasi di Indonesia menjadi salah satu penghambat utama percepatan transisi energi di Indonesia khususnya terkait dengan implementasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Direktur Program Transformasi Sistem Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, mengatakan konsistensi kebijakan menjadi kunci untuk mendorong permintaan listrik sekaligus mempercepat penyediaan energi bersih.

Menurutnya, transisi energi perlu berjalan beriringan dari sisi permintaan dan pasokan. Peningkatan elektrifikasi di sektor industri, transportasi, dan rumah tangga dapat mendorong efisiensi serta produktivitas, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

IESR memproyeksikan permintaan listrik Indonesia dapat meningkat hampir dua kali lipat, dari 440 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi sekitar 854 TWh pada 2035.

Pertumbuhan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan ketersediaan pasokan listrik yang terjangkau dan bersih.

“Ketidakkonsistensian ini harus dihindari sebenarnya. Ini penting untuk jadi perhatian agar industrinya bisa punya kapasitas untuk tumbuh itu sendiri,” ujar Deon dalam seminar di Jakarta, Selasa (13/10).

Deon mencontohkan kebijakan insentif kendaraan listrik roda dua yang masih menghadapi ketidakpastian. Padahal, konsistensi dukungan pemerintah dibutuhkan agar industri dapat mengembangkan kapasitas sekaligus mendorong masyarakat beralih ke teknologi yang lebih efisien.

Selain transportasi, persoalan regulasi juga memengaruhi pengembangan PLTS.  Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Menurutnya, salah satu tantangannya adalah biaya pembangunan PLTS yang masih relatif tinggi dibandingkan negara lain.

Menurut perhitungan IESR, biaya listrik dari PLTS skala utilitas di Indonesia berada pada kisaran 5–10 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan India yang telah mencapai sekitar 3,7 sen dolar AS per kWh.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore