Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Oktober 2026 | 19.17 WIB

PLTN Diklaim Bisa Perkuat Ketahanan Energi, Kesiapan Indonesia Masih Jadi Sorotan

Diskusi Economic Frontline bertajuk “Is Nuclear a Clean & Clear Energy for Prosperous Indonesia? Menimbang Manfaat, Biaya, Risiko, dan Kesiapan Pembangunan PLTN di Indonesia” yang digelar di Tana Pool & Lounge, Jakarta Pusat, Rabu (14/10). (Dok Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Diskusi Economic Frontline bertajuk “Is Nuclear a Clean & Clear Energy for Prosperous Indonesia? Menimbang Manfaat, Biaya, Risiko, dan Kesiapan Pembangunan PLTN di Indonesia” yang digelar di Tana Pool & Lounge, Jakarta Pusat, Rabu (14/10). (Dok Nanda Prayoga/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dinilai berpotensi memperkuat ketahanan energi Indonesia. Namun, rencana pemanfaatan energi nuklir masih membutuhkan sejumlah persiapan. Mulai dari penguasaan teknologi, kesiapan sumber daya manusia (SDM), pembiayaan, hingga pengelolaan limbah radioaktif.

Sejumlah aspek tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi Economic Frontline bertajuk “Is Nuclear a Clean & Clear Energy for Prosperous Indonesia? Menimbang Manfaat, Biaya, Risiko, dan Kesiapan Pembangunan PLTN di Indonesia” yang digelar di Tana Pool & Lounge, Jakarta Pusat, Rabu (14/10).

Diskusi tersebut turut menyoroti kesiapan nasional dan dampak pembangunan PLTN terhadap masyarakat di sekitar lokasi pembangkit.

M. Kholid Syeirazi dari Dewan Energi Nasional mengatakan, energi nuklir berpotensi menjadi salah satu penopang kedaulatan energi. Hal itu tidak hanya berkaitan dengan kepastian pasokan, tetapi juga kemampuan menghadapi perubahan harga energi global, menguasai teknologi, menyiapkan tenaga ahli, serta menentukan kebijakan energi secara mandiri.

“PLTN berpotensi mendukung ketahanan pasokan listrik karena kebutuhan bahan bakarnya relatif kecil dibandingkan energi yang dihasilkan jika dibanding dengan batu bara. Namun, Indonesia tetap harus memperhitungkan rantai pasok bahan bakar nuklir, ketergantungan pada teknologi dan komponen tertentu, pembiayaan proyek, serta kemampuan mengelola limbah dan dekomisioning pembangkit,” kata Kholid.

Menurut Kholid pengembangan PLTN perlu diiringi penguatan kemampuan nasional. Hal itu mencakup peningkatan keahlian, transfer pengetahuan dan teknologi, tata kelola proyek, serta pengawasan keselamatan.

Ketersediaan listrik yang stabil juga dinilai penting untuk mendukung berbagai sektor, mulai dari manufaktur, pusat data, transportasi listrik, hingga pelayanan publik. Meski demikian, ketahanan energi tidak cukup dibangun dengan mengandalkan satu jenis sumber energi.

“Ketergantungan berlebihan pada satu sumber energi dapat meningkatkan kerentanan sistem terhadap gangguan pasokan, perubahan harga, maupun kendala operasional. Sebaliknya, diversifikasi sumber energi dapat membantu memperkuat ketahanan sistem kelistrikan apabila direncanakan dan dikelola dengan baik”.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN, Topan Setiadipura menyebut Indonesia membutuhkan pasokan listrik rendah karbon untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Berbagai sumber energi, seperti surya, angin, air, panas bumi, dan nuklir, memiliki karakteristik berbeda dalam mendukung sistem kelistrikan.

Editor: Diar Candra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore