
Film Pelangi di Mars mengisahkan perjalanan seorang ibu dan putrinya yang hidup di Mars pada 2090. (Istimewa)
JawaPos.com-Setelah merilis teaser first look di awal tahun, film Pelangi di Mars akhirnya membocorkan sneak peak-nya, Kamis (17/7). Menampilkan adegan singkat seorang ibu bernama Pratiwi (Lutesha) yang tinggal di Mars bersama putrinya Pelangi (Messi Gusti) pada 2090.
“Kayak bisul pecah. Saya sangat terharu dan bangga karena ini mimpi manusia kecil yang pada saat itu nggak nyangka bisa sampai di titik ini,” kata Sutradara Upie Guava saat konferensi pers di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan.
Upie sangat puas dengan hasil yang dikerjakan seluruh tim produksi. Walau saat ini, penggarapan film Pelangi di Mars belum rampung seratus persen.
“Masih 80-90 persen lah. Syuting sih udah selesai, tinggal finishing saja lah,” timpal Produser Dendy Reynando.
Upie menceritakan, ide awal cerita Pelangi di Mars merupakan buah dari pemikiran random pada 2020. Dia membayangkan seorang anak kecil yang bisa membuat dan hidup bersama robot. Kemudian, dikembangkan dan berfokus pada kehidupan Pelangi di Mars bersama para robot dari berbagai negara. Yaitu, Batik, Kimci, Petya, Yoman dan lainnya.
“Secara premis dibuat terdengar harmoni, seorang anak manusia menyatukan para robot yang awalnya saling berantem, nggak akur karena perbedaan. Keluguan Pelangi jadi sebuah harmoni yang indah,” tutur Upie.
Proses produksi memakan waktu lama karena terhambat masalah teknis. Dia menuturkan bahwa di Indonesia belum ada teknologi yang bisa merealisasikan ide-ide gilanya.
Di film Pelangi di Mars, Upie menggunakan teknologi Extended Reality (XR) dengan Unreal Engine. Kedua teknologi tersebut digunakan dalam proses pembuatan film Star Wars.
“Nah, nggak ada teknologi di Indonesia yang bisa mendukung kami karena sangat mahal dan rumit. Saya juga nggak mau bikin apa adanya,” ucap Upie.
Karena itu, dia meminta waktu kepada produser untuk mencari tahu formula lain. Bahkan, sampai mengehentikan proses produksi yang sedang berlangsung. Sebab, Upie ingin fokus membangun studio DossGuava Xr Studio selama dua tahun.
“Kami bangun studio dulu. Itu makan waktu buat penelitian dan pengembangan. Setahun menjalankan barenga klien studio supaya terlatih dengan beragam job lah,” jelas dia.
Setelah yakin dan percaya diri, proses produksi kembali berjalan.
“2024 lah proyek Pelangi di Mars, kami bawa balik ke studio. Karena sebelumnya (waktunya) kami fokus pakai buat kreatif. Bikin skrip, develop karakter dan teknologi,” papar Upie.
Sedangkan proses syuting dibagi ke dua sesi. Yaitu, animasi dan live action.
“Animasi kami sebut motion capture, jadi yang terlibat hanya Pelangi dan robot-robot itu sekitar 12 hari. Syuting live action seperti Lutesha dan Rio sekitar 14 hari,” jelas dia.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
