JawaPos Radar | Iklan Jitu

Indahnya Kolaborasi Desain dengan Cita Rasa Seni Bernuansa Sejarah

07 Desember 2018, 13:15:59 WIB | Editor: Nurul Adriyana Salbiah
pameran seni,
Salah satu seniman, Alexandra Karyn dalam media bingkai koran bertajuk 'sejarah adalah sekarang'. (Rieska Virdhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Para seniman yang berbasis di Jakarta berkumpul dalam pameran seni bernuansa sejarah yang artistik. Dalam tema 'From Another Time', pameran exi(s)t tahun ini mengajak milenial untuk memahami karya seni dengan grafis yang indah dengan kemasan kekinian.

Tahun ini, exi(s)t mengundang Evelyn Huang dan Stella Katherine, dosen dan kurator dari Jakarta, untuk berperan sebagai kurator. Para seniman yang terlibat adalah Alexandra Karyn, Aziz Amri, Ella Wijt, Rummana Yamanie, Semburat, Sherchle, Tandika Cendrawan, dan Yovista Ahtajida. Tema besar untuk program exi(s)t mengulik aspek kesejarahan dalam rentang interpretasi artistik seluas-luasnya.

Peristiwa sejarah yang epik, mitos, tradisi lisan, narasi personal dan politisasi sejarah merupakan sebagian topik yang ditanggapi oleh para seniman muda berbasis di Jakarta yang tergabung dalam program ini. Pameran ini berusaha menangkap dan sekaligus menampilkan sejarah melalui kacamata anak muda.

"Tema yang saya angkat 'sejarah adalah sekarang'. Dan ada dalam 2 bentuk salah satunya dalam bingkai media koran," kata Alexandra Karyn kepada JawaPos.com di Dia.Lo.Gue Kemang, Jakarta, Kamis (6/12).

Pameran exi(s)t pertama dimulai pada tahun 2012, digagas oleh Hermawan Tanzil, FX Harsono dan dia.lo.gue Artspace. Hermawan Tanzil adalah seorang desainer grafis sekaligus pendiri LeBoYe. Selama berkarya hingga kini, karya-karyanya pernah dipublikasikan di beberapa media internasional seperti : Type Annual 28, Type Director Club of New York, Nop. 2007 AS; Tokyo TDC Annual Books dan masih banyak lagi.

Penggagas lainnya, FX harsono, adalah seniman serta edukator yang aktif mengkritisi perkembangan politik dan kebudayaan Indonesia sejak masih mahasiswa di STSRI “ASRI” Yogyakarta (1969-1974) dan di Institut Kesenian Jakarta (1987-1991). Beberapa pameran tunggal yang pernah di gelar oleh FX Harsono adalah Testimonies, Singapore Art Museum, Singapura (2010); dan The Erased Time, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2009).

Pada tahap awal, tim kuratorial yang terdiri dari Evelyn Huang dan Stella Katherine memberikan esai singkat mengenai sejarah alternatif sebagai pemantik eksplorasi yang akan dilakukan oleh para seniman terkait dengan minat dan ideologi mereka.

Terlibat pula Timoteus Anggawan Kusno, seniman yang kerap menghadirkan tema sejarah fiktif; Victoria Tunggono, penulis fiksi yang tertarik dengan okultisme Jawa; Lilawati Kurnia, yang berprofesi sebagai dosen kajian budaya; dan Saleh Husein, seniman yang akhir-akhir ini berkarya dengan tema sejarah personal, kesemuanya membawa seniman dalam diskusi yang berkelanjutan hingga membaurkan batas antara mitos, fakta, dan iman.

Setelah proses kuratorial selama bulan, para seniman merampungkan ide mereka dalam karya. Siapa saja mereka?

Alexandra Karyn
Dalam media bingkai koran bertajuk 'sejarah adalah sekarang'.

Aziz Amri
Seniman yang menampilkan performans yang merefleksikan relasi antara manusia sebagai obyek dengan penonton yang terinspirasi dari keadaan di masa kolonial.

Ella Wijt
Dia menghadirkan jagat paralel berdasarkan sejarah lisan dan
temuannya di situs yang personal baginya.

Rummana Yamanie
Dirinya mengolah temuannya akan sosok perempuan yang multi peran lewat performans.

Semburat
Menggunakan strategi visual yang dipakai oleh grup Stamboel di
masa lampau ke dalam konsep sinema yang menjadi kekhasan mereka.

Sherchle
Tertarik pada zaman keemasan
kerajaan di bumi nusantara melalui serangkaian ilustrasi.

Tandika Cendrawan
Dia menelusuri memori kolektif sebuah
marga Tionghoa melalui dokumentasi mixed media.

Yovista Ahtajida
Mengkritisi komodifikasi agama dalam kurun waktu tertentu melalui karya instalasi.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up