
Shinta Amalina Hazrati Havidz di Wuhan of University Technology Tiongkok.
Shinta Amalina Hazrati Havidz termotivasi mengejar gelar doktor karena tak diwisuda secara resmi setelah menyelesaikan master. Semula berencana ke Durham, ternyata malah balik ke Wuhan.
JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Bekasi
---
"ITU pekan yang bikin gembira sekaligus bikin sedih," kata Shinta Amalina Hazrati Havidz di sela-sela menyantap mi hot plate.
Pada suatu siang pertengahan bulan lalu itu, kami bertemu di sebuah restoran di Cikarang, Bekasi.
Jam makan siang baru saja berlalu. Restoran agak sepi. Sementara di luar sana terik matahari membakar Bekasi.
Pekan yang dimaksud Shinta adalah pekan ketika dia hendak diwisuda. Setelah menyelesaikan kuliah master of business administration in corporate finance di Wuhan University of Technology (WUT), Tiongkok.
"Anggaplah Rabu itu wisuda, Senin malam mama-papa sudah sampai (di Wuhan). Senang dong," kata Shinta.
Tapi, kabar menyedihkan itu datang di Selasa pagi. Petugas kampus menelepon Shinta dan memberitahukan bahwa dia tidak bisa ikut wisuda. Namanya tidak masuk list. Shinta yang menyelesaikan studinya 1,5 tahun tersebut dianggap tidak memenuhi syarat untuk bisa wisuda. Butuh minimal dua tahun.
Sedih, jengkel, ngambek, dan menangis tentu saja. Tapi, ke kampus yang membuatnya sedih, jengkel, ngambek, dan menangis itu pula dia akhirnya kembali setahun kemudian.
Untuk menyelesaikan program doktoral. Dan, akhirnya mencatat prestasi membanggakan: Perempuan Indonesia Termuda Peraih Gelar Doktor di Perguruan Tinggi Tiongkok.
Itulah rekor atas nama Shinta yang tercatat di Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) pada 17 Mei 2018. Pada tanggal itulah Shinta menjalani sidang untuk meraih gelar PhD. Dia berhasil menyelesaikan studi program doktor pada usia 25 tahun 11 bulan.
Raihan berujung rekor itu didapat lewat jalan panjang yang tak mudah. Shinta mengaku, studinya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan, saat lulus sarjana strata satu, dia pun tak mendapatkan predikat cum laude. Saat bersekolah di SMPN 7 Kota Jambi, dia mencoba mendaftar kelas akselerasi, juga tidak masuk.
Yang membuat studinya hingga meraih gelar doktor lebih cepat, katanya, adalah dia memulai lebih awal. Saat usia 5 tahun dia sudah masuk SD Islam Al Falah Jambi.
"Saya ini sebenarnya follower kakak. Kuliah di Wuhan juga ikut kakak, bahkan jurusannya pun sama," kata Shinta.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022