JawaPos Radar | Iklan Jitu

Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)

Usir Bosan dengan Ngobrol Bareng ”Tetangga”

20 November 2018, 08:00:59 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Sunyi, Sendiri, Penuh Risiko: Kehidupan Para Penjaga Rompong (1)
DI TENGAH LAUT: Aldi Novel Adilang menambatkan perahu untuk naik ke rompong yang dijaga Deko Tahulending. (TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS)
Share this

Hanyut berbulan-bulan sampai ke negeri jauh tak ada apa-apanya dibanding risiko paling mengerikan: ditabrak kapal. Wartawan Jawa Pos TAUFIQURRAHMAN mendatangi langsung tempat kerja para penjaga rompong di sekitar perairan Sulawesi Utara. 

--

OMBAK setinggi 2 meter bergulung berganti-ganti menghantam lunas perahu kami yang lebarnya kurang dari 1 meter. Tapi, Aldi Novel Adilang yang duduk di anjungan tetap tampak riang. Berkali-kali dia berswavideo lewat smartphone miliknya.

Juli lalu pemuda 19 tahun yang sempat ramai diperbincangkan karena hanyut selama 49 hari di Samudra Pasifik itu tampak riang. ”Ini pertama kalinya saya melaut sejak hanyut dulu,” katanya sebelum kami berangkat dari Pantai Minahasa Utara, Sulawesi Utara, akhir Oktober lalu.

Kami berangkat berlima. Di belakang Aldi ada Herlina Bora, kakak ipar yang mengurus kepulangan Aldi kemarin, lalu saya. Alvian Adilang, ayah Aldi, ada di buritan memegang kemudi perahu serta Columbus Tater, paman Aldi.

Sejam kemudian, apa yang kami cari mulai tampak di kejauhan. Sebuah titik putih mengapung sendirian di tengah lautan. ”Itu dia rakitnya,” seru Columbus sambil menunjuk titik putih.

Persisnya bukan rakit. Melainkan rumah rakit alias rompon atau rompong. Columbus secara hati-hati mendekatkan perahu ke rakit. Ada banyak tambang berseliweran di sekitar rakit. Jika cadik perahu kami tersangkut, kami tidak bisa pulang ke darat.

Aldi dan Alvian beberapa kali meneriakkan permisi ke arah rakit. Awalnya tidak bersahut, pintu rumah rakit pun tertutup tirai. Dari dalam terdengar musik pop Manado cukup keras. Setelah perahu semakin dekat, barulah musik mengecil dan si penjaga, Melki Yohanes alias Buang, muncul dari balik tirai. 

Rompong ini sejenis gubuk kayu yang diikat di atas jalinan bambu. Diapungkan di atas air laut dan ditambatkan pada pelampung semacam tongkang/ponton. Ponton biasanya mengapung beberapa meter di dekat rompong. Ponton itu tersambung dengan lima utas tambang yang tersambung ke sebuah sauh yang ditanam ribuan meter di dasar laut di bawahnya.

Rompong ramai diperbincangkan setelah apa yang terjadi dengan Aldi. Masih di Juli lalu juga, Stenly Tatoy, warga Minahasa lainnya, ternyata juga hanyut. Oktober lalu baru diketahui pria 37 tahun itu terdampar di Pulau Yap yang masuk wilayah negeri liliput di Pasifik: Federasi Mikronesia.

Di tiap rompong ada tiga utas tambang yang menghubungkannya dengan ponton. Jika tali-tali itu putus, rompong akan hanyut. Karena tanpa ”pertahanan” sama sekali, hanyutnya bisa jauh sekali. Bergantung ombak dan arah angin. 

Fungsi rompong sama dengan rumpon ikan (pengumpul ikan, fish attractor). Praktik memasang rumpon ikan bukan hal yang baru di Indonesia. Namun, rumpon yang ditinggali manusia hanya ditemui di lautan Sulawesi dan Maluku Utara. 

Di siang hari ikan-ikan akan banyak berkumpul di sekitar rakit karena teduh. Tapi, pada malam hari, akan lebih banyak ikan yang berkerumun karena penjaga rompong memasang empat hingga lima buah lampu merkuri ukuran besar. Jika sudah cukup banyak ikan di bawah rompong, si penjaga lantas mengontak armada kapal di darat untuk datang dan memanen ikan.

Menginjakkan kaki ke rompong tidak mudah. Saya beberapa kali hampir jatuh. Tapi, pemandangannya sungguh khas. Ikan-ikan bermacam warna, dari yang kecil hingga ukuran sedang, dengan sukacita terlihat berenang-renang di bawah rakit. Sementara beberapa meter dari rakit terlihat sekawanan bayi tuna melompat-lompat dalam kerumunan besar yang berbentuk setengah lingkaran mengitari rakit.

Sebuah cabang pohon silar (semacam gebang, palem) dengan untaian daun-daun berbentuk kipas diikat ke rakit dan dibiarkan melambai-lambai seperti ekor putri duyung beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Selain sebagai penarik ikan, pohon silar ini berfungsi sebagai tempat tumbuh kerang laut sekaligus menarik plankton. Membuat ikan kerasan di bawah rakit.

Saya dan Aldi naik ke gubuk. Agak sulit menjaga tubuh tegak karena rompong bergoyang tiada henti. Buang mempersilakan kami. Suara kemerasak keluar dari radio komunikasi. ”Dorang dari wartawan, Jawa Pos. Dari Jakarta, sama Aldi,” kata Buang kepada seorang penjaga rompong lainnya, entah di mana. 

Buang menoleh sejenak ke Aldi. ”Aldi yang anyur (hanyut, Red), so viral itu?” tanya suara di seberang sana. ”Iya, Aldi itu,” jawab Buang.

Setelah itu, banyak suara lain yang bersahut-sahutan berkomentar tentang kedatangan Aldi siang itu.

 

***

 

Untunglah, ada mobile transceiver radio. Sedikit jadi medium pengusir kebosanan bagi para penjaga saat hidup di rompong seorang diri.

Para penjaga rompong seperti Buang bisa saling mengobrol dengan ”tetangga” mereka sesama penjaga rompong meskipun jaraknya berjauhan. Satu rompong dengan yang lain berjarak 2 hingga 3 mil laut (3,704–5,556 km).

Kadang, kalau frekuensi tepat, terdengar alunan musik. Seseorang dengan pemutar lagu nun jauh di sana mau berbagi dengan mendekatkan speaker-nya ke mikrofon agar seluruh rompong lain juga bisa mendengar musik.

Sistem radio komunikasi dialiri listrik yang dihasilkan panel tenaga surya yang dipasang di atas gubuk. Sebuah antena radio menjulang berdampingan dengan antena tempat lampu suar penanda posisi berdiri.

Kalau malam, suar akan berkedip-kedip untuk memberitahukan ada rompong di situ. Terutama bagi kapal-kapal yang lewat. Biar mereka tidak ditabrak. 

Kalau musim hujan, panel surya susah menghasilkan listrik karena langit mendung. Tapi, ada cadangan berupa genset ukuran kecil. Beberapa yang lain menggunakan aki mobil. Listrik juga digunakan untuk menghidupkan lampu penarik ikan.

Panjang jalinan rakit 7 hingga 8 meter. Lebar 2,7 hingga 3 meter. Sementara gubuk tempat hidup penjaga berukuran 2 x 1,8 meter. Dengan satu tempat tidur, rak tempat bumbu rempah-rempah, dan tempat masak.

Semua kebutuhan hidup tersedia. Kompor dan gas elpiji, minimal 3 kg. Ada juga yang sedia 5,5 kg. Beras sekitar dua karung isi 10 kilogram, tempat pakaian, jam dinding, terminal stopkontak, alat-alat pancing, kacamata renang, serta yang paling penting: 2 hingga 3 drum berisi masing-masing 250 liter air bersih untuk minum, memasak, dan kadang mandi.

Yang punya rezeki berlebih bisa melengkapi gubuk dengan bermacam-macam alat hiburan. Mulai speaker mp3, TV portabel, bahkan laptop. Sebulan sekali kapal milik bos rompong akan datang untuk mengantarkan suplai bagi penjaga rompong. Mulai beras, air bersih, mi instan, gas, hingga obat-obatan.

 

***

 

Buang bercerita, dirinya sudah di rakit lebih dari lima bulan. Awal Desember nanti dia berencana pulang ke rumahnya di Manado untuk merayakan Natal bersama anak dan istri. ”November nanti sudah enam bulan,” ucapnya waktu itu.

Ini pengalaman pertama Buang bekerja menjaga rakit di tengah lautan. Dia melakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Terutama biaya sekolah putranya yang saat ini duduk di kelas III SMA. Meskipun kerap diterjang ombak dan angin, Buang mengaku tidak gentar bekerja di tengah laut. ”Biasanya menjelang sore atau malam angin kencang, tapi saya biasa saja,” ujarnya.

Selain Buang, banyak laki-laki Sulut lainnya yang sudah menghabiskan bertahun-tahun umurnya di lautan. Sebut saja Dako Tahulending. Rompongnya terletak sekitar 5 mil dari rompong Buang. 

Saat kami tiba, perahu merapat, Aldi mengikatkan tambat. Saya dan dia kemudian naik. Dako langsung keluar menyambut. Belum sempat kami berkata apa-apa, dia langsung menodong. ”Yang mana Aldi?” tanya dia.

Saya menunjuk ABG bertopi di sebelah saya. ”Orang Adilang-kah? Mamakku Adilang, kita keluarga,” seru Dako semringah sambil mempersilakan kami. 

Ternyata kabar Aldi yang sedang mengunjungi rompong-rompong sudah tersebar di radio sejak di rakit Buang tadi. ”Aku rencana turun (pulang ke darat, Red) Desember nanti. Aku akan pergi ke Lansa (Desa Lansa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, kampung halaman Aldi, Red). Akan kucari kau punya rumah,” ujar Dako. Pucuk dicinta, justru Aldi yang datang.

  

***

 

Dako sudah 20 tahun bekerja sebagai penjaga rakit. Kali pertama menginjakkan kaki di bambu terapung saat usianya menginjak 30 tahun atau tepatnya pada 1996. ”Waktu itu gaji saya Rp 75 ribu per bulan, lalu naik lagi jadi Rp 100 ribu,” ucapnya.

Waktu itu Dako masih ingat, bulan pertama hidup di tengah lautan, dirinya sering menangis sendirian di rompong. Ingat akan istrinya yang masih muda dan anaknya yang masih kecil. ”Tapi, dua tiga bulan kemudian sudah tidak lagi,” kenangnya.

Pria 54 tahun itu juga masih ingat pengalaman pahit yang dialaminya pada 1997. Saat itu dia menjaga rompong di lepas Pantai Amurang, Minahasa Selatan. Angin bertiup kencang dan ombak bergulung-gulung ganas setinggi hingga 4 meter. Gubuk rompongnya roboh diterjang angin. Tak lama kemudian, tali rompongnya putus. Dia pun hanyut selama beberapa minggu. ”Tapi, akhirnya saya terdampar di kampung halaman sendiri, Pulau Manado Tua,” ucapnya. 

Tapi, hanyut hanyalah satu di antara puluhan risiko bekerja menjadi penjaga rompong. Rakit Buang dan Dako yang kami kunjungi masih tergolong dekat dengan daratan. Aldi yang berjaga di perairan Sangihe atau mereka yang berjaga di perairan Talaud, kepulauan di sebelah utara daratan Sulawesi Utara, berisiko tertabrak kapal yang sedang lewat. Sebab, area di situ merupakan lintasan kapal-kapal besar, tanker, dan kontainer yang menuju Filipina.

Menurut Aldi, sangat mungkin nakhoda kapal silap dan tidak melihat adanya rompong. Saat diselamatkan kru kapal kontainer Panama MV Arpeggio September lalu, dia bisa melihat sensasi besarnya lambung kapal itu. Dari atas kapal, rompongnya sama sekali tidak terlihat. ”Apalagi malam hari, lebih tidak kelihatan lagi,” kenangnya.

Dako bercerita, beberapa hari lalu di perairan Biaro, Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, ada laporan sebuah rompong tidak lagi terlihat di tempatnya. Sangat mungkin hanyut. Namun, panggilan radio kawan-kawannya tidak dijawab. Itu yang membuat bergidik. Jika dia cuma hanyut dan rakitnya masih utuh, kemungkinan selamat masih tinggi. ”Tapi, kalau rakitnya sudah rusak, mungkin dia celaka,” jelasnya.

Ada juga risiko soal keamanan. Sendirian di tengah laut, penjaga rompong tidak tahu bajak laut ataukah kapal pencuri ikan yang mana yang bakal lewat. Beberapa nelayan bercerita kepada saya bahwa dulunya kapal pencuri ikan dari Filipina kerap datang ke rompong dan menghardik penjaga rompong agar mau dipanen. 

Bisa dengan kekerasan atau dengan cara lain, yakni disogok dengan minuman keras. Syukurlah, sejak Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti rajin menenggelamkan kapal, orang-orang Filipina itu tak pernah terlihat lagi.

Rompong penuh ikan di tengah lautan memang menggiurkan. Aldi bercerita, kerap kali ada nelayan tak dikenal yang datang mendekat dan memancing di rompong. Beberapa kali bahkan dengan kapal pukat besar.

Ada aturan tak tertulis, jika ada kapal nelayan yang bukan milik bos rompong datang dan mengambil ikan, penjaga rompong harus sedapat mungkin menahan diri untuk tidak menegur. Kalaupun jumlah ikan yang dikuras sudah keterlaluan, penjaga rompong harus menegur dengan kata sehalus mungkin. ”Kalau tidak, kita (penjaga, Red) bisa dicelakai,” tuturnya.

Salah seorang rekan rompong Aldi pernah menegur dua nelayan asal Pulau Doi, Maluku Utara, yang mengambil ikan di rompongnya. Dua nelayan berperahu kecil itu memang berbalik arah. Namun, keesokan harinya mereka kembali dengan puluhan perahu membawa berkarung-karung batu. Kapal milik bos rompong yang datang untuk panen keesokan harinya jadi korban lemparan batu.

Ada juga risiko kesehatan. Seorang penjaga rompong terkena berbagai risiko penyakit karena angin laut yang kencang dan pola makan yang tidak sehat. Seorang buruh nelayan di Pelabuhan Perikanan Tumumpa, Manado, bernama Deki Tamara sempat bercerita kepada saya bahwa seorang kerabatnya meninggal di rompong.

Deki bercerita, paman istrinya yang bernama Arisno Barhama –berusia 45 tahun– itu ditemukan tergeletak tak bernyawa di gubuknya yang berada sekitar 120 mil laut Sulawesi. Rekannya di rompong terdekat sudah dua malam tidak melihat titik cahaya di kejauhan. Si Arisno tidak menghidupkan lampu rompong. Panggilan radio juga tidak dijawabnya.

Beberapa hari sebelumnya, Arisno mengeluh lewat perbincangan radio bahwa dadanya sakit. Rekannya bertanya mengapa tidak ikut kapal pengantar suplai terakhir ke darat. Arisno mengaku malu untuk pulang ke daratan. Dia memang yatim piatu dan tidak menikah. Mengetahui hal buruk bisa terjadi, rekan Arisno segera mengontak kru darat, melaporkan bahwa Arisno tidak menghidupkan lampu rompong.

Kapal penyelamat pun segera dikirim. Arisno ditemukan sudah empat hari tidak bernyawa. ”Waktu itu menjelang Idul Fitri, sekitar bulan Mei,” ujar Deki.

***

 

Gangguan lain paling-paling adalah hantu laut yang berseliweran di sekitar rompong. Dako cukup sering mendapati apa yang dia sebut sebagai arwah orang-orang yang celaka di laut itu. Biasanya muncul berbentuk cahaya di horizon. 

Kadang merah, kuning, atau biru. Malam hari muncul di cakrawala, siang harinya tak ada apa-apa di lokasi itu. Hantu-hantu tersebut mendekat ke rompong jika penjaga malas memasang lampu. Semakin redup lampu, hantu akan semakin mendekat. Sebaliknya, jika rompong terang, mereka menjauh. ”Ya, saya berdoa saja,” kata Dako.

 

***

 

Meskipun penuh risiko dan jauh dari keluarga, nyatanya menjadi penjaga rompong diminati banyak orang Sulawesi Utara. Diperkirakan, ada lebih dari seribu penjaga rompong di seantero laut Sulawesi dan Maluku Utara. Dengan kontrak kerja yang bervariasi, mulai enam bulan hingga satu tahun. Bahkan, beberapa orang dikabarkan tidak pulang ke daratan selama tiga tahun.

Tidak ada keluarga yang protes karena besaran gaji yang lumayan. Untuk mengobati kerinduan, para penjaga biasanya pulang ke darat beberapa kali dalam setahun untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Kadang istri-istri penjaga rompong menyempatkan datang naik kapal ke rompong suaminya. Peraturan membolehkan penjaga rompong untuk tinggal berduaan dengan istrinya di rompong. Asalkan itu istri sah.

Bagaimana jika membawa perempuan yang bukan istri sah? Kata Dako, memang tidak ada aturan yang melarang. Tapi, mereka bakal terkena kualat yang diistilahkan orang Sulawesi sebagai ”soe”. Soe adalah ketika Tuhan tidak berkenan pada penjaga rompong yang melakukan maksiat. Sehingga tidak ada ikan-ikan yang mau masuk ke bawah rompongnya.

Bagi para penyendiri itu, kedatangan tamu adalah anugerah luar biasa. Siang itu Dako segera menjerang air dan menyeduh teh manis untuk disuguhkan ke kami, tamu-tamunya.

Kami berlima rehat sejenak di rakit Dako sambil menyantap bekal dan memancing ikan-ikan kecil. Saat matahari mulai condong ke barat, kami berlima pamit. 

Di perjalanan pulang melewati rompongnya, Buang berteriak agar kami mampir lagi. Pancingnya baru saja dimakan ikan barakuda sepanjang 1 meter. Buang menyerahkan ikan itu ke Aldi. Setelah mengucap terima kasih, Columbus membawa perahu melaju ke selatan.

Rompong Buang semakin jauh. Setelah melambai, samar-samar Buang kembali naik dan masuk ke gubuknya. Menutup tirai dan kembali memeluk kesunyian serta kesendirian di tengah lautan. 

(*/c9/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up